Strategi Aquaproof Mempertahankan Diri sebagai Brand Generik

Memiliki brand yang menjadi generik tidak semerta merta muncul begitu saja, perlu waktu panjang agar masyarakat dapat tahu dan mengingat merek Aquaproof sebagai brand water proofing yang berkualitas. Diakui oleh Herman Moelina, Chariman PT Adhi Cakra Utama Mulia, meski Aquaproof sudah menjadi generic brand, namun masih saja ada orang yang belum mengenal Aquaproof.IMG_20150925_180201

Untuk itu, guna mengingatkan akan kehadiran brand yang sudah  ada di Indonesia sejak 30 tahun silam dan termasuk dari salah satu deretan merek yang melegenda di negeri ini, edukasi dan pendekatan ke konsumen lewat berbagai iklan terus diupayakan.

“Meski kami telah menjadi generic brand, untuk mengingatkan pada kastemer tentang eksistensi Aquaproof, kami akan tetap mengiklan. Hanya saja porsinya yang kami kurangi. Kalau dulu bisa habis mencapai Rp 1 miliar, sekarang kami kurangi. Bilaa dulu bisa 10x mengiklan sekarang hanya 5-6 kali,” terang Herman kepada SWA Online saat ditemui di kantornya di Jakarta.

Herman juga mengaku, alasan pengurangan porsi iklan tersebut tidak lain karena berbagai macam faktor. Sebut saja soal kondisi pelemahan Rupiah yang saat ini sedang tidak menentu ditambah dengan musim kemarau yang cukup panjang beberapa bulan terakhir.

Meski  mengalami penurunan penjualan sebesar 10% di kuartal I dan II tahun 2015, namun Herman mengklaim Aquaproof masih menjadi market leader di sektor water proofing di Indonesia. Sebanyak 79% pangsa pasar di Indonesia telah dikuasai.

“Ya walupun mengalami penurunan, tapi penjualan terus jalan dan kami akan terus meningkatkan distribusi barang ke berbagai kota yang belum kami sentuh. Seperti di luar pulau jawa dan di beberapa kota-kota kecil di wilayah pulau Jawa,' jelas Herman.

Agar misi tersebut dapat tercapai, maka Herman berencana untuk meningkatkan distribusi barang dengan menambah jaringan distributor sebanyak 2 tempat dalam satu tahun. Khususnya di wilayah luar Pulau Jawa yang jarang disentuh. Hal tersebut dilakukan mengingat kue bisnis water proofing di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Daya serap bisnis di sektor ini baru mencapai 10%, dan sebanyak 79% dari 10% tadi diklaim Herman masih dikuasai Aquaproof.

Maka, agar kualitas barang terus terjaga, pihaknya terus melakukan service, kualitas dan edukasi secara bersamaan yang mencari kunci brand awareness Aquaproof. Jika produk sudah berkualits tinggi, tapi tidak ada yang mengedukasi, apalagi service  tidak memuaskan, pastinya akan ditinggal pelanggan. Begitu rahasia yang Herman uangkapkan dalam mempertahankan kualitas produknya.

“Kami juga selalu melakukan evaluasi tentang kualitas produk Aquaproof lewat toko. Sebab evaluasi langsung ke toko yang langsung mendapat berbagai masukan dari customer jauh lebih ampuh dan efektif ketimbang melakukan survei dengan questioner. Hasilnya, 90% yang dikeluhkan oleh kastemer itu bukan pada kualitas produknya, tetapi pada cara menggunakan produknya,” terang Herman.

Evaluasi dan edukasi itu sudah menjadi rutinitas kegiatan Aquaproof setiap bulannya. Sebanyak 75-100 peserta dikumpulkan untuk gathering di berbagai tempat di Indonesia. Termasuk 20 distributor yang menjadi penyambung lidah kepada konsumen. "Kami juga punya tim teknisi problem solving sebanyak 3 orang yang siap untuk mengedukasi pelangggan dan distributor kami agar produk Aquaproof tetap dekat di hati masyarakat,” terang Herman. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)