Strategi Baru Pemilik Brand di 2017

Tahun 2017 menjadi tahun para brand dituntut untuk bisa membuktikan janji produk karena konten akan memegang peranan penting dalam pemasaran.” Brand harus menggunakan pendekatan style with substance. Konten harus kuat namun juga harus appealing jadi konsumen lebih tertarik,” jelas Hermawan Kartajaya, Founder dan Chairman Markplus Inc.

Jonathan Wilson, Profesor Richmond University, Inggris Jonathan Wilson, Profesor Richmond University, Inggris

Organisasi bisnis di 2017 diharapkan memiliki semangat sebagai entrepreneurial marketing organization. Mereka juga diwajibkan mampu mengelola bisnis online to offline, machine to machine, dan human to human.

Pemikiran ini disetujui Jonathan Wilson, Profesor Richmond University, Inggris. Hal ini didasari dari tren pemasaran yang berkembang pada tahun 2016. Menurutnya ada 4 hal yang wajib diperhatikan pemilik branding dalam menyasar target market melalui konten. Keempat hal tersebut adalah advertising, branding, komunikasi, dan digital.

Dunia digital membuat pemilik brand semakin leluasa dalam memahami kebiasaan-kebiasaan konsumen. Menurut professor asal Inggris ini, 31 juta penduduk Amerika, atau 1 dari 10 orang mengakses internet melalui mobile phone. Sementara itu, di Indonesia  pengguna internetm encapai 132 juta orang di tahun 2016 dan meningkat 50% dibanding 2015.

Angka ini menunjukkan bahwa internet memiliki potensi besar dalam pemasaran. Sayangnya, banyak pemilik brand yang beranggapan bisa melakukan pemasaran secara acak di internet.

Apa yang konsumen cari, lihat, dan ikuti di dunia online akan menjadi suatu realitas yang menggantikan dunia nyata. Realitas baru ini, nantinya akan mengerucut kan konsumen pada topik, kesukaan, dan terkelompokan dalam kategori yang berbeda-beda. Realitas ini akan melahirkan kekuatan kelompok pada konsumen.

Sebuah brand, harus memiliki brand positioning yang kuat di dunia digital sehingga bisa menarik kelompok konsumen yang diharpkan. Jonathan mencontohkan bagaimana merk kecantikan Lush, mampu menaikan penjualan dan brand awareness mereka kepada target pasar mereka melalui media sosial.

Brand asal Inggris ini menempatkan diri sebagai brand yang mendukung hak-hak manusia, kemerdekaan Palestina, dan memberikan bantuan kepada pengungsi Syria. Sejak tahun 2014, brand ini membuat produk khusus seperti sabun yang hasil penjualannya didonasikan untuk para pengungsi.

Promosi produk khusus tersebut dilakukan melalui Instagram, Facebook, dan Youtube. Di tahun 2015 Lush mampu memperoleh omset $ 800 juta dan menjadi simbol penerimaan terhadap pengungsi Syria. “Upaya ini membuat Lush kehilangan beberapa kelompok konsumen mereka. Namun kelompok konsumen baru justru bertambah lebih tinggi dan memberikan omset yang berbanding lurus. Oleh karena itu pemilik brand tak perlu takut dalam memiliki positioning yang jelas karena keuntungan yang diperoleh bisa meningkat,” jelas Jonathan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)