Strategi Cecep M.Wahyudin Minimalisir Kerugian DOC

Sudah hampir dua tahun lamanya Cecep Mochammad Wahyudin merasakan pahitnya berbisnis bibit ayam atau DOC. Chief Operating Officer dari PT QL Trimitra tersebut berujar tahun kemarin rugi perusahaan mencapai kisaran Rp 30 miliar dari bisnis DOC. Hingga saat ini kondisi belum membaik. Masih terjadi kelebihan penawaran (over supply) DOC yang membuat harga pokok produksi tidak sebanding dengan harga DOC dipasar.

Beberapa bulan lalu misalnya, ia menceritakan harga DOC sempat berada di harga Rp 3.000. Padahal harga HPP-nya ditingkat peternak dikisaran Rp 4.000 sampai Rp 4.500. Kondisi tersebut memaksa banyak peternak DOC memangkas jumlah produksinya, termasuk QL Trimitra yang memangkas produksinya sebesar 50% dari 2,5 juta per bulan, menjadi hanya kisaran 1,3 juta. “Tidak hanya kami. para peternak memang rata-rata memangkas produksinya untuk bisa bertahan.” ujarnya ketika dihubungi SWA Online.

Meski dua tahun ini bisnis DOC dan ayam kian sulit, ia mengatakan tak menyerah. Berbagai strategi dilakukan untuk meminimalisir kerugian. Salah satu yang dilakukan ialah melakukan shifting dari penjualan DOC ke ayam boiler. Dari 1,3 juta produksi DOC tadi, tidak semuanya dijual oleh QL Trimitra. Sebanyak 80% diternakkan lagi untuk menjadi ayam boiler.

Cecep

QL Trimitra juga mulai masuk ke bisnis pakan ayam ternak, sejak tiga bulan lalu bisnis tersebut sudah ia mulai jalani. Ke depan ia mulai akan merambah jasa pemotongan ayam. Hingga akhirnya bisa menjual ayam ready to eat atau siap dimakan . “Saya tetap konsen di bisnis ayam, adanya bisnis yang mulai terintegrasi diharapkan bisa memperkecil lubang-lubang kerugian,” ujarnya.

Masalah kelebihan pasokan ayam memang telah menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Pertanian melalui surat Nomor 15043/FK.010/F/10/2015 tanggal 15 Oktober 2015 sedikit banyak telah mengatur penyesuaian populasi parent stock. Dalam surat itu ia memberi instruksi kepada para pelaku usaha untuk segera melakukan penyesuaian dengan pengafkiran dini bibit ayam broiler sebanyak dua juta ekor. Penyesuaian dilakukan secara proposional di seluruh lokasi breeding farm untuk tahap pertama. Selain pemerintah, pelaku usaha akan diawasi oleh perguruan tinggi dalam pelaksanaan pengurangan populasi.

Berkat mulai banyaknya peternak yang membatasi produksinya, Cecep mengatakan harga  DOC mulai merangkak naik, per tanggal 22 Oktobeharga DOC mulai berada tak jauh dengan HPPnya atau di angka Rp 4.000. Kenaikan harga ini tentunya akan berimbas ke harga ayam. Ia memprediksi pada bulan-bulan ke depan harga ayam di tingkat peternak bisa naik Rp 5.000. “Bisa jadi sekitar Rp 28.000 ditingkat peternak,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)