Strategi Citilink Capai Target Penumpang 7,8 Juta Orang Tahun 2013

“Kalau Tukang Baso belum tahu Citilink sebagai LCC, maka dia belum berhasil!”. Kalimat yang meluncur dari Peter F. Gontha itu merupakan cambuk sekaligus tantangan bagi manajemen Citilink untuk menancapkan diri sebagai penerbangan low cost carrier (LCC) di Indonesia.

Di dalam kabin Airbus 320 milik Citilink yang terbang dari Jakarta ke Denpasar  beberapa waktu yang lalu, Peter, Senior Corporate Advisor PT Citilink Indonesia, menegaskan semua lapisan masyarakat (target market) harus tahu Citilink. “Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah. Tapi saya yakin, Citilink bisa melakukannya,” ujar Komisaris Independen PT Garuda Indonesia, Tbk ini.

Arif Wibowo, Dirut Citilink

Sejak resmi melepaskan diri dari manajemen Garuda Indonesia, Citilink menjadi perusahaan maskapai penerbangan yang independen dan mandiri. Kemandirian ini dipertegas dengan sertifikat AOC (Air Operation Certificate) dari Kementrian Perhubungan tangga 22 Juni 2012 silam. Ketika itu pula, Citilink dituntut menjadi pemain utama di kelas LCC.

“Kami punya strategi Mega Leap yang road map-nya sudah disiapkan hingga tahun 2017,” kata Arif Wibowo, Direktur Utama Citilink. Agendanya, tahun 2012 melakukan Brand Penetration. Ditandai dengan rebranding seperti corporate colour, livery, logo, seragam. Juga meluncurkan desain layout website baru. Fitur dalam website ini mencakup Citilink Shield (asuransi perjalanan), Citilink Hotels (pesan hotel via website Citilink), serta Citilink Story dan Citilink TV. Citilink juga menggandeng grup band Nidji dengan meluncurkan theme song berjudul Terbang Tinggi.

Agenda Mega Leap tahun 2013 adalah Network Penetration. Untuk mendukung itu, Citilink telah menjalin kerja sama dengan Telkomsel dan convenience store. Kerjasama ini dalam hal penjualan tiket pesawat. “Jual tiket semudah jual pulsa,” tegas Arif. Saat ini kontribusi penjualan tiket Citilink 40-50% melalui travel agent, sedangkan 28-30% dijual via website atau online. Sisanya, 20% dibagi antara call center, Citilink sales office, Citilink Kiosk on the road.

Citilink juga bakal memperkuat 31 rute domestik yang melayani 22 kota tujuan dengan 140 frekuensipenerbangan di Indonesia guna menikmati potensi 40 juta penumpang per tahunnya. “Tahun ini kami juga mengopeasikan pesawat Turboprop (baling-baling, red) untuk rute perintis di kota-kota kecil,” katanya. Agenda Mega Leap hingga tahun 2017 berturut-turut seperti Regional Expansion (2014), IPO (2015), Leading LCC (2016), serta Sustainable Growth (2017).

Untuk memenangkan persaingan, tentu faktor pesawat merupakan modal utama merebut pelanggan. Citilink mendatangkan Airbus 320. “Saat ini ada 22 Airbus 320. Sampai akhir tahun akan ada 24 pesawat Airbus 320,” kata dia. Hingga akhir 2015, Citilink akan menambah 10 pesawat Airbus A320 setiap tahunnya.

“Masyarakat selalu menilai pesawat Citilink adalah pesawat bekas Garuda. Ini (Airbus 320) merupakan bukti keseriusan kami,” kata Arif. Bila dirata-rata usia pesawat Citilink tidak lebih dari 8 bulan. Bahkan, Arif resmi mengandangkan 7 pesawat Boeing 737 yang sudah tua per Mei 2013. Dengan armada muda tersebut akan meningkatkan on time performance (OTP) Citilink. “Dulu OTP-nya 50-65%, dengan face out pesawat lama saya yakin akan OTP-nya akan meningkat,” tandas Arif.

Lebih lanjut Arif menyebut keunggulan Citilink. Seperti penggunaan leather seat di semua pesawat. “Sehingga lebih bersih, maintenance-nya gampang dan ujung-ujungnya efisien agar bisa memberikan tarif yang menarik bagi pelanggan,” kata dia. Meski semua penerbangan Citilink merupakan economy class, “maskapai ijo” ini juga memiliki layanan pre order meals. Citilink juga punya Green Seat sebanyak tiga baris. Green Seat ini punya space lebih lebar dibanding seat lainnya. “Harganya juga berbeda dengan seat biasa,” ujar dia.

Lantas, bagaimana performance-nya? Maskapai dengan kode penerbangan QG ini telah mengangkut 3,8 juta penumpang sepanjang tahun 2012. Arif menegaskan capaian ini sekaligus mendongkrak market share Citilink. “Tahun lalu hanya 5%. Sekarang, di rute-rute Citilink, kami bisa mengambil pasar 16%,” tandasnya. Arif mematok target 7,8 juta penumpang terangkut sepanjang 2013 ini.

Di ranah media sosial, akun Citilink di Facebook berhasil membukukan 100 ribu likes dan lebih dari 50 ribu followers di Twitter. Apresiasi Citilink juga diperoleh dari Indonesia Travel and Tourism Foundation yang menobatkan Citilink sebagai Indonesia Leading Low Cost Airlines dua tahun berturut-turut (2011 dan 2012). Dengan aneka strategi tersebut, kita tunggu saja apakah Tukang Baso akan mengenal Citilink sebagai LCC? (EVA)

 

 

 

Leave a Reply

2 thoughts on “Strategi Citilink Capai Target Penumpang 7,8 Juta Orang Tahun 2013”

Di web sebelah, Pak Arif - direktur utama CITILINK berkata tentang citilink yg MASIH PERWAWAN dg delay yg terjadi (perawan = belum siap terbang namun paksa terbang kah ?) Di Web ini, Pak Peter - Senior Corporate Advisor CITILINK berkata mengenai TUKANG BASO. fyi, teman saya jualan bakso tapi naik garuda terus, abis tukang baksonya lulusan Aussie. Saya juga sempat kenalan dgn tukang bakso yg lagi menjemput 4 temannya utk jualan bakso di rantau.... pake lion Pak. Ini barusan April 2014 ini Saya memang lagi cari bacaan mengenai citilink, saya mau cari kenal dgn citink. I wanna say, million things lah before reservasi ticket citilink. Take care ... Hati-hati ... Dan bagi tukang baso yg baru pertama naik pesawat, coba tanya ke teman tukang baso sudah sering terbang mana maskapai yg OK. - Cari tahu pasti apakah memang ada penerbangan ke tempat yg mau di tuju. mungkin lebih baik via agen tiket daripada kantor cabang apalagi on-line agen tiket bisa beri alternatif maskapai. - Pastikan harga tiket itu termasuk apa saja, hati-hati dgn Ongkos barang bawaan Sebenarnya bangga dgn Citilink milik bangsa Indonesia (upps, apa benar kah, cmiim) bisa melayani kami yg sering wora-wiri antar kota/pulau.
by Paula, 29 Apr 2014, 15:38
wah, statementnya kok meng-generalisir tukang baso. Padahal tukang baso khan beragam. Ada yang tradisional memang, pake pikulan atau dorongan yg hanya lulusan SD. Tapi banyak pula entrepreneur muda atau setengah baya yang memang jualan baso tapi dengan taktik. Bahkan pendapatan mereka banyak yang diatas analis/staf/spesialis yang lulusan S1 atau bahkan S2 itu lho. So, baso is not small as people think. We have to encourage them growing bigger. Maybe mereka gak naik yang LCC lho, tapi yang full service...
by Joko Susanta, 17 Jun 2013, 22:00

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)