Strategi Kreatif Ahmad Ajak Masyarakat Beli BBM Non-Subsidi

Ketakutan menghadapi konsumen yang membeli bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di atas kuota membuat Ahmad Bambang, mantan Direktur Pemasaran PT Pertamina Persero Tbk, justru menjadi lebih kreatif. Tahun 2015 Pertamina mengeluarkan bahan bakar Pertalite. Menurut pria yang kini menjabat sebagai Chief Operating Officer Downstream & RNE PT Pertamina Persero Tbk itu, pada Oktober 2016 pangsa pasar Premium turun menjadi 49% dan Pertalite naik menjadi 30%.

Ahmad Bambang CEO Downstream & NRE PT Pertamina Persero Tbk saat menerima penghargaan Marketeer of th year 2016 Ahmad Bambang CEO Downstream & NRE PT Pertamina Persero Tbk saat menerima penghargaan Marketeer of th year 2016

Peluncuran Pertalite juga menjadi momentum yang tepat untuk mengajak masyarakat menggunakan BBM yang nonsubsidi dan lebih berkualitas. Tak mengherankan, di kuartal III/2016 laba Pertamina Persero Tbk bisa naik hingga 29% year on year dengan tahun 2015.

Laba bersih Pertamina bahkan bisa mengalahkan kompetitor mereka di Indonesia, yaitu Petronas dan Chevron. Keberhasilan ini juga tak luput dari kesuksesan Pertamina dalam menerapkan strategi menghadapi tiga permasalahan.

Yaitu, subsisdi negara atas premium yang semakin besar karena volume yang terus naik, penurunan harga minyak, dan penjualan produk subsidi yang tidak menguntungkan.

Untuk itu, ada tiga strategi yang dicanangkan. Pertama, melakukan transformasi kultur pemasaran yang awalnya subsidi menjadi pelayanan.

Kedua, melakukan efisiensi. Dan ketiga, menerapkan konsep pemasaran baru. ”Kami menyebutnya marketing gila, karena gila dalam tanda petik adalah posisi yang paling tinggi dibandingkan kreatif, buktinya Tuhan tidak pernah membebankan dosa pada orang gila,” ujar Ahmad yang disambut tawa hadirin pada acara Markplus Conference 2017.

Meski begitu, sebagai perusahaan BUMN, Pertamina, menurut Ahmad, melakukan banyak pertimbangan sebelum membuat strategi-strategi tersebut. Aspek-aspek seperti hukum, agama dan etika menjadi dasar yang tidak bisa dilanggar. Ketiga strategi ini menghasilkan tiga inovasi yang cukup sukses di masyarakat.

Yaitu, pertama, saat mereka mengeluarkan produk substitusi dan mendapat predikat product of the year. Produk baru yang dikeluarkan Pertamina adalah Dexlite, bahan bakar khusus kendaraan diesel dan bright gas berwarna pink. Kedua, Pertamina juga mengembangkan produk high quality seperti Fastron Oil series yang terdiri dari empat varian.

Ketiga, Pertamina pun menerapkan kebijakan satu harga secara nasional. Kebijakan ini akan dilakukan pada 20 wilayah di Indonesia sejak 2016. Penerapan ini akan diutamakan pada wilayah-wilayah terpencil Indonesia seperti Karimun Jawa.

Ke depannya, wilayah yang akan menerapkan satu harga adalah Papua, Papua Barat dan Maluku. Realisasi satu harga di wilayah terpencil dan daerah perbatasan diperkirakan akan selesai di tahun 2017.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)