Strategi Memilih Pusat Data Jempolan

Menjamurnya perusahaan data center (pusat data) di Indonesia, tak jarang membuat perusahaan kebingungan. Di satu sisi, data perusahaan merupakan hal vital yang harus dijaga kerahasiaan dan kemudahan aksesnya. Di sisi lain, investasi di pusat data tidak seperti beli kacang. Harga dan kualitasnya sangat bervariasi.

Searah jarum jam: Toto Sugiri, Djarot Subiantoro (berdiri), Stephanus Tumbelaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data Center Infrastructure (DCI) menguak strategi memilih pusat data yang mudah dipahami konsumen. “Lihat dulu risiko bisnis perusahaan, kemudian pengaruh harganya terhadap kualitas,” kata Stephanus Tumbelaka, Chief Sales Officer DCI.

Lokasi pusat data juga wajib jadi bahan pertimbangan. “Yang penting jangan banjir, aman dari gempa atau di zona yang gempanya minim sekali,” lanjut Stephanus. Toto Sugiri, Chairman DCI menambahkan, di Indonesia masih banyak perusahaan yang meletakkan pusat datanya di bawah meja kerja dan hanya diberi penyangga ala kadarnya supaya tidak terganggu saat lantai dibersihkan.

Toto tidak memungkiri bahwa hampir seluruh wilayah di Indonesia tidak betul-betul bebas dari gempa. Kalimantan adalah zona paling minim gempa. Sayangnya pulau tersebut belum dilengkapi fasilitas fiber optic yang memadahi untuk mendirikan gedung pusat data. Di Pulau Jawa, Kota Surabaya bisa jadi opsi yang baik lantaran lempeng buminya berbeda dengan Jakarta.

Selain itu, lokasi pusat data harus di tempat yang berlimpah perolehan pasokan listrik dan jaringan internet. Konsumen pun hendaknya memperhatikan apakah gedung pusat data dapat dijangkau dengan mudah dari jalan utama. Terkait fasilitas pendukung, perlu diperhatikan pula kapasitas dan kecepatan datangnya pemadam kebakaran. “Paling aman kalau lokasinya di tempat yang homogen, seperti kawasan industri. Di situ tidak terlalu banyak fasilitas hiburan, restoran, atau perumahan yang memperbesar resiko kebakaran,” imbuh Toto.

“ISO 27001 juga penting. Itu untuk informasi keamanan,” Djarot Subiantoro menambahkan. Yang tak kalah penting dalam memilih layanan pusat data adalah sertifikasi dari Uptime Institute tentang level (tier) infrastruktur pusat data. Tier yang paling rendah adalah Tier 1, dan yang tertinggi adalah Tier 4. Pusat data yang tersertifikasi Tier 4 downtime-nya teruji kurang dari 26 menit per tahun. Untuk mengetahui kenyataannya, konsumen hendaknya selalu meminta laporan performa bulanan pusat data. “Kalau perlu ada pinalty clause,” Toto menuturkan.

Pinalty clause berarti apabila performa pusat data tidak seperti yang dijanjikan, perusahaan penyedia layanan data harus membayar denda. Beberapa perusahaan pengguna pusat data yang mission critical bahkan tak cukup dengan pinalty clause saja, mereka juga mengasuransikan pusat datanya. (EVA)

Leave a Reply

1 thought on “Strategi Memilih Pusat Data Jempolan”

Memang benar untuk memilih data center harus dipertimbangkan dengan masak-masak, jangan sampai hanya karena efek pertemanan dan efek iming2 yang tidak jelas menyebabkan server kita dipertaruhkan. Data Center di Surabaya sangat patut diperhitungkan karena sangat berbeda dengan Jakarta, di surabaya sangat bebas banjir dan kendala kemacetan masih bisa ditoleransi. Memilih Neutral Data Center juga harus dipertimbangkan, dengan adanya kenetralan pengguna bisa memilih ISP yang digunakan sebebas mereka.
by Yoyok, 12 Apr 2013, 11:12

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)