Strategi Pemerintah dan Swasta Kembangkan Industri Kreatif

Industri kreatif merupakan sektor strategis dalam mendukung pertumbuhan pembangunan ekonomi nasional dan memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian nasional. Industri kreatif domestik menghadapi tantangan menyongsong era pasar bebas ASEAN 2015. Industri kreatif Thailand dan Vietnam kerap disebut memiliki karakteristik paling serupa dengan Indonesia. Berbeda dengan Singapura yang memiliki kekuatan di bidang teknologi dan Malaysia yang seimbang dalam hal teknologi serta inovasi budaya.

Survei INSEAD dalam mengukur Indeks Inovasi Global di tahun 2014, mendudukkan Indonesia di peringkat 87 dari 126 negara, meningkat dari peringkat 99 pada 2012. Meskipun Indonesia telah menunjukkan peningkatan, peringkat negara - negara tetangga seperti Vietnam (71) dan Thailand (48) masih tetap unggul dari Indonesia. Sedangkan, peringkat ekspor barang kreatif Indonesia tumbuh menjadi peringkat 25 di tahun 2014 dari peringkat 85 di tahun sebelumnya .

Ketersediaan teknologi yang relevan dan kompetitif memberi dorongan bagi pengembangan industri kreatif di Indonesia. Melalui FGD Expo 2015 yang bertema 'Tech Provoke!' menjanjikan stimulasi yang dapat memprovokasi pola pikir yang terkait dengan pengelolaan dan pembenahan dalam aspek efektifitas, efisiensi dan produktivitas usaha.

Perhelatan FGD Expo 2015 juga akan mengusung program-program edukasi, presentasi produk serta informasi-informasi terkini dari industri grafika. Expo ini dirancang dengan dimensi yang lebar melalui berbagai upaya, seperti mengakomodasi kebutuhan para pelaku industri grafika untuk mempromosikan produk dan jasanya kepada konsumen, termasuk pelaku industri kreatif dari generasi muda.

Danton Sihombing, Chairman FGD Forum, dalam keterangan tertulisnya menyebutkan generasi muda merupakan salah satu penggerak dari pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. “Mereka membangun kekuatan melalui komunitas, terhubung dengan informasi-informasi global, gelisah mencari gagasan dan terobosan serta memiliki tuntutan yang tinggi terhadap teknologi. Oleh karenanya FGD Expo dapat menjadi pendukung bagi gerak usaha dan kreativitas yang terkait dengan teknologi grafika,” ujar Danton dalam acara FGD Forum-CEO Gathering di Jakarta, Kamis (21/5/2015).

 Andy S Budiman (Moderator), Guntur Santoso (Dewan Penasehat FGDexpo), Sigit Pramono, Chappy Hakim, Faisal Basri, Danton Sihombing, Chairman FGD Forum. (Foto : Istimewa) Andy S Budiman (Moderator), Guntur Santoso (Dewan Penasehat FGDexpo), Sigit Pramono, Chappy Hakim, Faisal Basri, Danton Sihombing, Chairman FGD Forum, dari Kiri-Kanan. (Foto : Istimewa)

Perkembangan industri kreatif Indonesia mulai signifikan, dan kian memiliki keragaman yang akhirnya mampu membentuk pasar sendiri baik di dalam maupun di luar negeri. Kondisi ini secara signifikan memberikan kontribusi terhadap perekonomian yang juga kian besar, tak hanya mendatangkan devisa dan mendorong pertumbuhan tapi juga mampu menyerap tenaga kerja.

Pada kesempatan yang sama, Sigit Pramono, Ketua Umum Perbanas, mengungkapkan saat ini sumber daya alam baik sudah kian menipis. “Maka, industri jasa dan industri kreatif akan menjadi tumpuan di masa depan,” ucapnya. Dia melihat bahwa kesadaran ekonomi kreatif di tengah-tengah masyarakat terus meningkat serta memiliki potensi besar menyumbang perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja. “Sumbangan industri kreatif terhadap telah mencapai 6,3% GDP, yang mencapai Rp 104,73 triliun,” tambahnya. Sigit berpendapat perkembangan industri kreatif ini harus direspons oleh pemerintah dengan membentuk Menteri Koordinator Jasa dan Industri Kreatif. "Tidak bisa lagi hanya setingkat menteri,” tuturnya

Ekonom Faisal Basri, yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut mengamini pernyatataannya Sigit. Menurutnya, sektor industri kreatif tetap positif perkembangannya ditengah-tenga melesunya bisnis komoditas dan tekstil, . “Rata-rata pertumbuhan di sektor ini 7%-10% dalam kurun waktu 2000-2015,” jelasnya.Karena itu, kata Faisal, perlu disusun sebuah kode etik agar persaingan industri kreatif di ASEAN menjadi fair dan kompetitif.

Lindungi Hak Cipta

Kreativitas para pelaku industri kretaif telah diakuni dunia internasional, salah satunya musik. Karya penyanyi dan pencipta lagu merambah hingga negara tetangga, Eropa dan Amerika. Sayangnya, pembajakan yang merajalela membuat pelaku industri ini murung. Pendapatan yang seharusnya merupakan bentuk penghargaan bagi mereka justru mengalir ke kantong para pembajak. Pada awal pekan ini, Presiden Joko Widodo, Kementerian Perindustrian, Badan Ekonomi Kreatif berdialog dengan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) dan Persatuan Artis Penyanyi dan Pencipta Lagu RI (PAPRI) di Istana Negara, Jakarta, guna mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan industri musik nasional telah menjadi tumpuan hidup bagi puluhan hingga ratusan perusahaan rekaman dan ribuan pemusik. "Jika mereka terus berkreasi di tengah maraknya pembajakan, ya jangan membuat pembajakan lantas dibiarkan. Seolah-olah pembajakan tidak berdampak bagi para pemusik. Harus diperangi," ujar Saleh Husin. Menurutnya para pemusik dan pengusaha rekaman telah berjuang mensosialisasikan soal pembajakan dan mendesak pemerintah bertindak tegas dan keras.

Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa aksi pembajakan hak cipta musik yang sudah berlangsung puluhan tahun jangan dianggap hal yang biasa. “Ndak… kalau saya ndak bisa seperti itu. Harus diselesaikan. Ingatkan saya, bisikkan terus saya untuk memberantas pembajakan,” kata Presiden Joko Widodo. Untuk itu Presiden memerintahkan kepada Kapolri untuk menangkap dan menutup industri pembajak karya intelektual para musisi demi kelangsungan industri musik nasional.”Jangan tangkapi pedagang kaki lima pinggir jalan, mereka kan hanya penggembira. Tutup langsung industri besarnya.” katanya. Gencarnya upaya pemberantasan pembajakan, Presiden meyakini pertumbuhan industri kreatif akan melonjak karena menghasilkan karya berkualitas dan hak cipta dihargai dan dilindungi. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)