Strategi Perkuat Industri Keuangan Ala Muliaman Hadad

Gejolak perekonomian global seperti yang terjadi di Amerika Serikat, sedikit banyak berdampak ke ekonomi Indonesia. Ketika program stimulus (quantitative easing) berlangsung, banyak dana yang mengalir ke negara-negara berkembang, seperti Indonesia, yang memberikan angin segar bagi pasar modal, harga komoditas dan sebagainya.

Akan tetapi, negara Paman Sam ini juga berencana mengurangi ataupun menghentikan stimulus moneternya (tappering off) tersebut. Dana yang tadinya masuk bisa keluar dari Indonesia. Namun, belum ada kepastian terkait rencana itu, kapan akan berlangsung.

Terhadap kondisi itu, Muliaman D Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, berpandangan bahwa Indonesia harus membenahi internalnya demi menghadapi dampak dari kebijakan yang diterapkan oleh AS pada perekonomiannya. "Ada dua agenda besar, pertama adalah membangun daya tahan industri keuangan yang lebih kuat. Karena shock (guncangan) itu bisa datang cepat atau lambat. Dan fokus pada pekerjaan (untuk) memperkuat resiliensi industri keuangan menjadi penting," kata Muliaman, dalam acara diskusi yang membahas gambaran ekonomi di tahun depan yang diadakan oleh Tempo, di Jakarta, Kamis (7/11/2013).

muliaman ojk

Seperti apa cara memperkuat daya tahan industri keuangan? Dia bilang, misalnya, kalau ada bank yang modalnya kurang, maka harus ditambah. "Bagaimana membuka akses kepada sumber likuiditas agar kemudian bank atau lembaga keuangan lain tidak terkena krisis likuiditas, dan bagaimana kemudian meyakini agar bank-bank itu dikelola oleh orang-orang yang profesional, yang benar. Jadi, sebetulnya lebih banyak kembali ke dasar. Melihat hal-hal yang saya kira akan sangat menentukan resiliensi dari industri keuangan kita," papar Muliaman.

Kedua, adalah yang terkait dengan pasar modal. Menurut dia, pasar modal Indonesia masih sangat dangkal. Akibatnya, terang dia, ketika dana keluar masuk sedikit saja, IHSG pun bergejolak.

"Sehingga kemudian pekerjaan rumah kedua yang menurut saya untuk jangka panjang juga akan baik, karena kalau shock datang lagi, supaya lebih siap juga, adalah memperdalam pasar modal kita," imbuhnya.

Akan tetapi, sekalipun masih dangkal, ia juga menegaskan bahwa pasar modal Indonesia bukan menempati urutan yang terakhir di ASEAN dalam hal kapitalisasi nilai saham yang diperjualbelikan. Dia mengatakan, "Kita hanya kalah dari Singapura, dan beda tipis dengan Malaysia dari segi kapitalisasi nilai saham yang diperjualbelikan. Tapi kalau dilihat dari jumlah investor, perusahaan yang IPO, variasi produk yang ditawarkan, dan lain sebagainya, menurut saya masih sangat di bawah potensi yang ada yang kita miliki."

"Jadi, yang kedua, yang saya kira juga penting nantinya adalah bagaimana kita memperbaiki agar pasar modal kita bisa jadi kuat, diisi oleh investor lokal atau investor ritel domestik yang banyak. Sehingga kalau terjadi arus keluar yang signifikan, mungkin investor domestik bisa menggantikannya dengan kekuatan yang tidak terlalu berbeda," tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)