Strategi PLN Raih Standar Asesmen Internasional

Kualitas sebuah lembaga asesmen selama ini hanya dapat dilihat dari kualitas asesornya. Orang akan menilai sejauh mana asesor mendapatkan training, pelatihan, atau sertifikasi yang sesuai. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi lembaga, dengan kekhawatiran kalau asesor tersebut keluar dapat berdampak pada kerugian lembaga.

Lalu, apa yang dapat dilakukan lembaga asesor? PLN Corporate University (Corpu) Unit Pelaksana Assessment Centre (UPAC) menanggapi masalah ini dengan sebuah solusi, yaitu mendaftarkan diri pada sertifikasi dunia. PLN kini telah mendapat ISO 10667-2, sebuah standar pelaksanaan kegiatan asesmen bagi penyedia jasa yang mengatur mengenai prosedur dan metode untuk mengases manusia (SDM) dalam konteks pekerjaan dan organisasi.

ISO 10667-2 ini sudah dimiliki beberapa konsultan asesmen dunia, di antaranya PerormanSe, sebuah konsultan asesmen dan pengembangan talent asal Perancis yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun. Selain itu, Mercuri Urval, konsultan rekrutmen profesional juga telah mendapat standar yang sama.

Wisnoe Satrijono, General Manager PLN Corpu, kepada SWA Online, mengungkapkan, “Sertifikasi tidak hanya diperlukan oleh asesor, tetapi juga oleh lembaga penyedia jasa asesmen tersebut. ISO 10667-2 menjamin bahwa jasa asesmen yang dikeluarkan suatu Lembaga sudah memenuhi prosedur dan metode yang sesuai. Tujuannya adalah agar menjamin konsumen mendapatkan hasil asesmen yang sesuai dengan kebutuhan.”

Ia mengaku, proses persiapan mendapatkan sertifikasi ini sudah dilakukan sejak akhir 2017. Adapun yang pertama dilakukan PLN adalah melakukan review terhadap SOP yang sudah ada. Kemudian, dilakukan penyempurnaan supaya sesuai dengan ISO 10667-2. Setelah itu, untuk memperbaiki proses, sistem Information Technology (IT) asesmen disempurnakan.

IT tidak hanya digunakan pada pelaksanaan asesmen, namun juga pada proses pra-asesmen (penjadwalan) hingga post-asesmen (pelaporan dan database). PLN juga memberikan pelatihan dan membekalan pada semua pegawai, berkomunikasi dengan unit-unit PLN sebagai klien. “Implementaasi dilakukan sejak awal tahun 2018 dan penyempurnaan pada semester 2 2018,” tambahnya.

Ada beberapa keuntungan yang didapatkan PLN setelah mendapatkan sertifikasi ini. Pertama, lembaga dapat menjamin klien bahwa proses asesmen yang diberikan mengikuti praktek yang baik. Kedua, lembaga bisa memastikan proses asesmen dapat menghasilkan laporan objektif. Ketiga, memastikan konsistensi dalam implementasi proses asesmen. Keempat, evaluasi yang sesuai dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan mutu dari proses asesmen yang dilakukan. Kelima, meningkatkan kepercayaan klien terhadap UPAC dan dapat menjadi role model bagi penyedia jasa asesmen lain.

Wisnoe mengatakan, tantangan utama yang dihadapi PLN untuk meraih ISO 10667-2 adalah adanya perbedaan proses kerja dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, dengan pelatihan dan komunikasi dengan seluruh pegawai, hal tersebut dapat dilalui.

Selain itu, dengan tidak adanya lembaga asesmen lain di Indonesia yang sudah comply terhadap ISO 10667-2, tidak ada benchmark bagi PLN untuk belajar. “Tantangan selanjutnya adalah mempertahankan konsistensi untuk selalu mematuhi standar ISO 10667-2,” ujarnya.

Ke depan, PLN Corpu UPAC ingin menjadi yang terdepan dan terpercaya dalam hal penyelenggaraan asesmen pegawai. “Kami juga ingin agar ISO 10667 ini menjadi standar yang diikuti oleh penyedia jasa lain. Oleh karena itu kami akan mengkomunikasikan terus kepada komunitas asesmen mengenai pentingnya Lembaga asesmen untuk mematuhi standar ISO 10667 ini,” ujar Wisnoe menutup penjelasan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)