Strategi Traveloka Pulihkan Bisnis yang Terjegal Pandemi

Ilustrasi: Traveloka BRI Online Travel Fair

Bisnis hospitality dan travel dihantam ombak besar ketika pandemi Covid-19 merebak. Hotel, restoran, dan kafe berguguran kala aturan PSBB diberlakukan. Begitupun dengan layanan transportasi yang nyaris lumpuh, terutama transportasi udara.

Sebagai platform penyedia tiket, Traveloka cukup terdampak hebat. Dalam keterangan tertulis diskusi panel Tech in Asia (21/10) yang dirilis East Ventures, PresidenTraveloka Henry Hendrawan, menggambarkan kondisi sulit yang dihadapi perusahaannya.

“Di kuartal kedua 2020, jumlah booking dan revenue kami hampir menyentuh nol. Akibat adanya Covid-19, kami sempat menerima 150.000 permintaan pengembalian tiket pesawat atau senilai US$ 100 juta. Jumlah pengembalian tiket ini 10 kali lipat dibandingkan kondisi sebelum pandemi,” jelasnya.

Ketika bisnis menurun dan operasional menemui tantangan, Traveloka mengambil tiga langkah penting. Pertama, Traveloka memangkas biaya mingguan, terutama marketing dan biaya variabel lainnya. Kedua, Traveloka mendongkrak investasi untuk customer service mereka. Selain investasi, Traveloka juga mengalihkan SDM ke unit tersebut. Langkah ketiga Travelokayaitu menemukan inovasi baru untuk memenuhi kebutuhan customer. Langkah ini pun melahirkan sejumlah pengembangan produk selama pandemi.

Setelah berbulan-bulan berkutat mengembalikan bisnis seperti semula, Henry mendapati penerbangan domestik perlahan-lahan pulih meskipun disrupsi masih menghantam penerbangan internasional. Ia menambahkan, tiga market terbesar Traveloka saat ini yaitu Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

“Kami mengamati adanya perubahan perilaku dalam bepergian. Sekarang, orang bepergian hanya dalam jangka waktu dan jarak yang pendek. Contohnya, travelling dari Jakarta ke kota-kota lain untuk staycation, tidak memilih destinasi luar negeri seperti Jepang atau Hongkong,” jelas Henry.

Ia juga menyadari bahwa pemulihan transportasi udara ternyata lebih lambat daripada perhotelan. Permintaan booking hotel di kota-kota besar ternyata membaik lebih cepat. Namun, kondisi ini ternyata butuh dipelajari lagi karena masyarakat cenderung mengurangi waktu inap mereka.

Menurut keterangan Henry, biasanya untuk keluarga, mereka booking kamar satu minggu. Tapi saat ini hanya dua atau tiga hari. Konsumen lebih memilih hotel dengan harga murah untuk kebutuhan perjalanan dan liburan mereka.

Traveloka mendapat pendanaan senilai US$ 250 juta pada Juli lalu. Dikutip dari Reuters, pendanaan ini digunakan perusahaan untuk mengakselerasi operasional terutama dalam membangkitkan lagi gairah travelling.

“Dengan pendanaan terbaru ini juga, kami mendatangkan beberapa investor strategis yang membawa kapabilitas untuk meningkatkan kehadiran kami terutama dalam financial services,” tutur Henry menutup penjelasannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)