Styrofoam Dilarang, Bisnis Biji Plastik Turun 30 Persen

“Per 1 November 2016, penggunaan styrofoam untuk kemasan makanan/minuman akan dilarang di Kota Bandung. Mohon menyesuaikan, terutama untuk pecinta Seblak”. Postingan Walikota Bandung, Ridwan Kamil pada akun Instagramnya yang disertai foto sungai yang dipenuhi dengan styrofoam itu menimbulkan banyak reaksi terutama para pelaku bisnis terkait dengan produksi styrofoam.

Bukan hanya postingan Ridwan saja, kampanye pelarangan penggunaan styrofoam pada makanan karena dikhawatirkan menimbulkan kanker dalam dua tahun terakhir makin marak mendorong pelaku industri bersuara. Hal ini mereka sampaikan pada mini seminar yang diadakan di Plaspak Expo 2016 di Kemayoran (16/11) dengan tema “PS Foam yang Ramah Lingkungan dan Aman untuk Kemasan Pangan”.

stereofom

Dalam kesempatan tersebut Dony Wahyudi, Sales Manager PT Trinseo Materials Indonesia yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam mini seminar tersebut menuturkan, ada informasi yang tidak disampaikan dengan lengkap mengenai styrofoam atau nama latinnya Polystyrene Foam atau PS Foam. Dony lalu mengutip keterangan pers yang diedarkan BPOM pada 14 Juli 2009, tentang keamanan bahan kemasan ini bahwa sejauh ini tidak ada satu negara pun di dunia yang melarang penggunaan stryrofoam atas dasar pertimbangan kesehatan. Kebijakan pelarangan di sejumlah negara berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan.

“Media atau banyak kalangan lebih banyak fokus pada poin kedua keterangan pers BPOM yang mengatakan residu monomer stiren yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan yang berminyak atau berlemak, mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas. Padahal ada poin ketiga yang disampaikan BPOM bahwa menurut JEFA-FAO/WHO monomer stiren tidka akan mengakibatkan gangguan kesehatan jika residunya tidak melebihi 5000 ppm,” papar Donny. BPOM telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 17 jenis kemasan makanan styrofoam, hasilnya paling tinggi hanya 43 ppm, bahkan lebih banyak yang nilainya nol. Menurutnya yang perlu diingat konsumen, seperti disampaikan BPOM jangan menggunakan styrofoam dalam microwave dan tidak menggunakan lagi styrofoam yang sudah rusak dan berubah bentuk untuk kemasan makanan atau minuman.

Ia menuturkan, Trinseo sebagai produsen biji plastik yang juga digunakan untuk membuat styrofoam ingin meluruskan hal ini. Karena efek dari kampanye yang tidak lengkap efeknya bukan saja pada produsen tapi juga pedagang kecil. Henky Wibawa, Direktur Eksekutif Federasi Packaging Indonesia, mengatakan penggunaan styrofoam sebagai kemasan sangat ekonomis, makanya banyak digunakan para UKM atau pedagang kaki lima. “Perbedaan harganya sangat besar, kemasaran styrofoam itu harganya sekitar Rp 200 per unit sedang yang kertas misalnya bisa Rp 2000 per unit. Anda yakin kemasan yang katanya layak untunk kesehatan yang terbuat dari kertas aman? Tidak semua layak untuk makanan, membuat kertas menjadi putih itu dengan pemutih atau bleeching. Walau dilapis dg PE, tetap ada migrasi,” sergahnya. Menurut Dony, rata-rata perusahaan biji plastik mengalami penurunan penjualan sekitar 30 persen sejak Ridwan Kami memposting kebijakannya tersebut. Ia menyebut saat ini penjualan biji plastik di perusahaannya sekitar 1000-1300 ton per bulan.

Christine Hakim, Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia, mengatakan, pihaknya belum adanya kesadaran industri dalam pengolahan lebih profesional lagi bagaimana mengelola kemasan atau produk yang mereka buat terutama yang menghasilkan sampah. Menurutnya agar tidak terjadi penumpukan sampah seperti dalam postingan Ridwan Kamil, harus ada kesadaran bersama para pelaku industri untuk mencegah itu. “PS foam bisa didaur ulang kok tapi bukan untuk tempat makanan, contohnya buat figura atau produk seni kerajinan lain,” imbuhnya. Menurutnya sampah styrofoam sebenarnya sangat bernilai tinggi, sekilonya bisa dihargai Rp 2000 per kilo. Sayangnya para pemulung kurang berminat dibandingkan sampah plastik lain, karena PS Foam sangat ringan. “Transportasi sampah PS Foam volume 1 kubik meter, mungkin hanya menghasilkan 40-50 kg, pemulung merasa rugi,” imbuhnya.

Hal senada dengan Christine disampaikan Sri Bebassari, Chairman Indonesia Solid Waste Association, bahwa produk berbahan dasar plastik tentu saja tidak akan terurai dalam ribuan tahun. Harus ada solusi agar produk tersebut bisa digunakan tapi juga tidak menimbulkan dampak lingkungan yang buruk. “Dan jangan dibuang ke sungai, meski kemudian ada produk styrofoam yang bisa terurai dalam tanah, kalau dibuang ke sungai tetap saja jadi tumpukan sampah,” tegasnya.

Sugianto Tandio, Direktur Tirta Marta menanggapi melihat perkembangan ini, pihaknya kemudian berinisiatif memberikan solusi masalah ini. Tirta Marta kemudian menyediakan teknologi yang bisa membantu produsen biji plastik agar bisa menghasilkan varian styrofoam degradable. “Brandnya Oxium, kami sudah menggandeng 7-8 produsen styrofoam untuk memproduksi varian ini. Ini jadi produk ramah lingkungan karena dalam 4-5 tahun dengan ditambah aditif oxo-degradable, styrofoam bisa hancur terurai dalam tanah,” jelasnya. Untuk membedakan mana styrofoam yang mudah terurai dalam tanah dengan yang tidak, para pelaku bisnis ini sepakat styrofoam yang putih berubah menjadi hijau.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)