Tak Pernah Kekurangan Talent, Ini Rahasia Bank Permata

Industri perbankan masih menjadi magnet yang menarik ribuan para pencari kerja setiap tahunnya. Tawaran gaji tinggi plus tunjangan menarik dan jenjang karier yang menantang membuat industri keuangan ini selalu kebanjiran pelamar.

Meski demikian, rekrutmen karyawan ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan, terutama kompetensi calon karyawan yang akan digaet. Banyaknya pelamar seringkali tak sebanding dengan kemampuan yang dibutuhkan.

“Masalah klasik di perusahaan adalah rekrutmen. Sampai sekarang, tidak ada habis-habisnya. Ini terkait dengan bagaimana cara perusahaan meng-attract dan me-retain karyawan,” kata Andi Irawan Dalimunthe, Vice President Head HR Resourcing Bank Permata.

Seiring bertambah besarnya perusahaan, lanjut dia, perusahaan membutuhkan banyak karyawan. Upaya menggaet karyawan baru juga tidak mudah karena kompetitornya juga semakin banyak. Para pesaing bahkan menawarkan gaji dan tunjangan yang menggiurkan.

Andi Irawan Dalimunthe, Vice President Head HR Resourcing Permata Bank. Andi Irawan Dalimunthe, Vice President Head HR Resourcing Bank Permata

Soal rekrutmen juga terkait erat dengan cara perusahaan untuk tumbuh dan berkembang. Laju bisnis juga sangat dipengaruhi cara perusahaan menjalankan talent management system secara maksimal. Kasus yang banyak terjadi adalah proses rekrutmen baru dijalankan saat ada karyawan yang resign.

”Alhasil, ada posisi kosong untuk beberapa bulan ke depan. Sehingga, ada lack of time dan lost of profit-nya akan sangat terasa,” katanya.

Menurut dia, faktor utama yang menyebabkan karyawan resign adalah leadership. Kalau kepemimpinan atasan bagus, karyawan kemungkinan besar akan bertahan di perusahaan tersebut. Jika leadership atasan buruk, karyawan akan lebih mudah keluar. Inilah pentingnya membangun kemampuan leadership di perusahaan.

“Kesuksesan suatu perusahaan pasti dipengaruhi juga oleh leader-nya. Karyawan bisa sukses, bertahan di perusahaan atau justru resign juga karena leader-nya. Bagaimana leader bisa tumbuh dan berkembang salah satunya adalah peran HR (human resources). HR harus bisa berperan sebagai business partner,” kata dia.

Andi menjelaskan, perusahaan memiliki program talent acquisition by design (TABD). Program ini berisi seluruh hal tentang bagaimana perusahaan mengakuisisi dan meng-attract talent-talent terbaik dari eksternal. Perseroan sudah melakukan pemetaan jauh sebelum posisi kosong itu ada. Sehingga, saat ada yang resign, sudah ada yang siap menggantikannya.

“Jadi, TABD ini adalah bagian dari talent management system. Ini juga bisa menjamin persediaan talent perusahaan. Kami juga dapat memaksimalkan talent development programme karena juga membandingkannya dengan talent eksternal,” ujar pria yang mengawali karier profesionalnya di perusahaan ritel Mitra Adi Perkasa Tbk ini. (Reportase: Nerissa Arviana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)