Taktik Jitu Menggarap Pasar Kelas Menengah

Kelas menengah tumbuh pesat di Indonesia. Mereka adalah pasar potensial untuk para pebisnis di Tanah Air. Sejumlah jurus pun diambil untuk menangkap peluang bisnis di kelas yang berisi orang-orang dengan daya beli yang terus merangkak naik. Ada beberapa strategi jitu yang bisa dipilih.

Pertama, jangan sekadar bermain harga murah. Masyarakat kelas menengah tidak lagi mengejar harga murah semata. Dari segi produk, prinsip yang harus dipegang adalah high quality-affordable price (HQAP). Pasar di kelas ini mengutamakan kenyamanan dalam membeli produk atau mengakses layanan lain seperti kesehatan dan kebugaran. Produk yang dijual pun harus mudah digunakan.

“Servis yang menyertai produk harus diperhatikan. Kelas menengah lebih terhubung sehingga efek pemujian terhadap produk yang bagus atau penghakiman terhadap produk yang jelek akan sangat besar pengaruhnya di lingkungan mereka. Jadi, tidak bisa lagi produsen, menawarkan produk asal-asalan atau tanpa layanan yang dapat diterima standar kelas menengah seperti kenyamanan, kesopanan, dan menghormati pelanggan,” kata Istijanto Oei, Pengamat Pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School.

 

Pengamat Pemasaran Prasetiya Mulya Business School, Istijanto Oei Pengamat Pemasaran Prasetiya Mulya Business School, Istijanto Oei

Menurut dia, kategori produk yang dipasarkan bisa dihubungkan dengan 8 wajah karakter segmen kelas menengah di Indonesia, yakni The Aspirator, The Expert, The Climber, Trend Setter, The Follower, The Settler, dan The Flower. Contoh, untuk gadget yang muncul dengan teknologi baru lebih cocok disasar ke segmen yang more knowledgeable. Contoh lainnya, mobil yang unik seperti Nissan Juke lebih cocok disasar ke trendsetter.

“Ada banyak produk yang sukses dikonsumsi kelas menengah, syaratnya memudahkan (convenient), mendukung kesehatan (healthy), dan memiliki kualitas yang dapat diterima (acceptable). Beberapa merek seperti “7-Eleven”, Gold Gym, Nugget So Good, dan sejenisnya,” ujarnya.

Untuk menjangkau segmen kelas menengah, lanjut Istijanto, pebisnis juga harus menyesuaikan pemasaran produknya dengan masing-masing wajah karakter segmen kelas menengah. Media yang digunakan kelas menengah lebih banyak yang berorientasi teknologi internet dan terhubung seperti detik.com. Sementara, media sosial seperti Twitter dan Instagram.

“Uniknya, untuk menjangkau kelas menengah melalui televisi tidak berbayar tidak semasif dulu. Kelas menengah semakin terpecah dengan adanya TV cable, seperti Indovision dan sejenisnya. Untuk yang TV tidak berbayar masih bisa menggunakan TV berita seperti Metro TV,” katanya.

Dia menambahkan, konektivitas secara sosial juga memengaruhi pemilihan merek. Hal itu mengingat segmen kelas menengah tidak begitu menjunjung eksklusifitas yang tinggi seperti layaknya kelas atas. Mereka cenderung menggunakan merek yang sama yang dipilih sebagian besar anggota jejaringnya. Itulah kenapa pamor BlackBerry Messenger (BBM) kian tergusur dan digantikan WhatsApp, dan lainnya.

“Sang juara di segmen ini tentunya didukung teknologi dan fasilitas yang mengikuti kebutuhan kelas menengah yang menawarkan kepraktisan, barang berkualitas dengan harga terjangkau, serta layanan yang berkelas,” katanya. (Reportase: Lia Amelia Martin)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)