Tantangan Bandara di Indonesia Hadapi ASAM

Tahun 2015, masyarakat di lingkup Asia Tenggara semakin terintegrasi secara ekonomi. Hal ini disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC). Lalu-lintas perdagangan baik barang dan jasa kian terbuka antarnegara. Begitu juga halnya di dunia penerbangan. Di industri ini bakal berlaku ASEAN Single Aviation Market (ASAM).

Dalam acara seminar BUMN Outlook 2014 yang bertajuk "Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015," di Jakarta, Rabu (29/1/2014), Robert D Waloni, Marketing & Business Development Director of Angkasa Pura Airports, mengatakan bahwa ASAM bakal memberikan dampak pada bisnis bandara di Indonesia.

bumn outlook seminar

"Misalnya, akan terjadi peningkatan intra-ASEAN traffic," terang Robert mengenai salah satu peluang yang tercipta dari ASAM. Peluang yang kedua adalah akan terjadinya pengadopsian standar ASEAN dalam hal sistem, kualitas, dan tarif oleh bandara-bandara yang ada di wilayah Asia Tenggara. "Itu akan diadopsi oleh seluruh (bandara) yang ada di dalam wilayah Asia ini," imbuhnya.

Sejauh ini, dia bilang, ada dua bandara terbaik di Asia Tenggara. Itu adalah Singapore Changi Airport dan Kuala Lumpur International Airport. Dan, bandara-bandara yang lain pun akan berlomba untuk bisa menjadi seperti kedua bandara tersebut. ''Itu bandara di Indonesia otomatis akan mengikuti itu (sistem kedua bandara) dan akan menuju ke tingkat kualitas mereka," ucap Robert.

Mengenai tantangan, ia mengatakan, akan terjadi peningkatan kompetisi dalam hal memperebutkan posisi sebagai hub-airport. Dia menjelaskan, "Kuala Lumpur International AirportĀ  kini sudah efektif menjadi hub ASEAN yang terbesar. Kalau kita perhatikan terutama sekali di Low Cost Carrier Terminal, di KLIA 2, itu check-in counter untuk penumpang dari dan ke Indonesia itu ada sekitar 130-an counter. Itu bahkan lebih panjang daripada Soekarno-Hatta. Itu (melayani penumpang) yang datang dari Bandung, Surabaya, dari mana saja di Indonesia yang bepergian ke Malaysia, maupun beyond Malaysia. Itu luar biasa."

Menurut dia, kondisi tersebut merupakan tantangan bagi operator bandara di Indonesia, khususnya dalam memasuki ASAM. Bandara-bandara di Tanah Air harus mempersiapkan diri dalam hal kapabilitas dan kemampuan melayani penumpang.

Yang menjadi tantangan lainnya adalah peluang masuknya tenaga kerja terampil ke Indonesia. "Sekalipun masih terbatas pada profesional dan tenaga kerja dengan keahlian tinggi, itu akan terjadi inflow ke Indonesia." Sebenarnya, menurut dia, ilmu dan standar operasi terkait bandara itu sama. Akan tetapi, yang menjadi tantangan adalah kemungkinan tersainginya sumber daya manusia Indonesia dari pekerja asing, jika mereka lebih mampu menguasai sistem, prosedur, dan regulasi.

"Sehingga apabila mereka lebih menguasai sistem, prosedur, regulasi, maka mereka sudah tentu lebih piawai dari kita di Indonesia. Ini suatu hal yang sudah tentu dalam lingkungan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini menjadi suatu hal yang harus kita antisipasi," tegasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)