Ciputra Grup Agresif Garap Pasar di Luar Jawa

Kebijakan baru dari Bank Indonesia mengenai kredit kepemilikan rumah (KPR) yang mewajibkan membayar 30 % uang muka bagi KPR , ternyata berdampak pada penurunan penjualan rumah sejak akhir 2013 lalu. Hampir semua pengembang properti merasakan dampak tersebut, tak terkecuali Ciputra Group.

Ciputra Grup Public Xpose

 

Pemain senior dalam bisnis properti di Indonesia itu, mengumumkan, telah terjadi penurunan penjualan sebesar 31 % kuartal I tahun 2014 ini. Hal tersebut disampaikan CEO Grup Ciputra, Candra Ciputra, usai penyelenggaraan rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Grup Ciputra di Jakarta, 3/6 lalu.

Meski demikian, menurut Candra, pihaknya tetap optimis, karena ada sebagian pembelian khususnya rumah dan apartemen yang dilakukan dengan sistem indent sejak tahun 2013 lalu, artinya pengakuan pembelian tersebut sebagai pendapatan penjualan baru akan dicatatkan saat serah terima di tahun 2014 “Sejauh ini dari semua yang sudah indent belum ada yang melakukan pembatalan sehingga kami masih optimis akan ada peningkatan marketing sales tahun ini” jelas Candra.

Pendapatan dan laba bersih PT Ciputra Development, Tbk tahun 2014 diperkirakan akan meningkat sekitar 20 % sebagai hasil atas peningkatan penjualan tahun 2013. Candra mengatakan pihaknya menargetkan pendapatan tahun 2014 menjadi Rp 6,7 triliun, naik dari Rp 5, 1 triliun pada tahun 2013 lalu.

Pendapatan Ciputra Grup didominasi oleh penjualan produk rumah khususnya. Pada tahun 2012, penjualan rumah dengan harga Rp 1 miliar/unit mendominasi sekitar 47,8 % dari total penjualan seluruh produk. Demikian halnya juga pada tahun 2013, rumah dengan harga Rp 1 miliar/unit, mendominasi sekitar 65, 6 %.

Melalui dua anak usahanya yakni PT Ciputra Surya, Tbk (CTRS) dan PT Ciputra Property (CTRP), Tbk, Ciputra Grup nampak semakin agresif mengembangkan sayapnya di daerah-daerah di luar Jawa. Seperti yang disampaikan Direktur CTRP, Artadinata Djangkar, saat ini pihaknya sedang menggarap proyek luxury hotel dan resort di Tanah Lot -Bali dan serta bujet hotel di 7 kota di Indonesia.

Proyek luxury hotel dan resort di Bali akan dibangun dengan total luas areal 80 ha. Arta mengakui, pasar hotel berbintang—bintang tiga hingga bintang lima—di Bali memang mulai menunjukkan kejenuhan, oleh karena itu pihaknya mengambil strategi dengan menangkap peluang di pasar luxury “Memang untuk luxury hotel pasarnya tipis sekali tetapi pemainnya belum banyak khususnya di Bali” jelas Arta.

Proyek yang ditergetkan selesai pada akhir tahun 2017 itu, didukung dengan investasi sebesar Rp 1,7 triliun. Strategi lainnya adalah dengan menyasar kelas menengah yang sedang bertumbuh pesat di Indonesia “Untuk segmen pasar kelas menengah kami sedang membangun bujet hotel” ujar Arta. Bujet Hotel yang dinamai CitraDream itu direncanakan akan dibangun secara bertahap di Serpong, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogya dan Bengkulu.

Sedangkan CTRS yang berbasis di Surabaya, semakin gencar berekspansi di wilayah Indonesia Timur. Setelah sukses di Makassar dan Palu, pada awal tahun depan CTRS akan mulai membangun di kota Jayapura – Papua. Menurut Direktur CTRS, Nanik Santoso, untuk dana awal pembangunan pihaknya mengalokasikan investasi sebesar Rp 50 miliar. Proyek tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 38 ha dengan sistem KSO.

“Karena KSO jadi pihak kami harus membangun lengkap dengan infrastruktur pendukungnya” jelas Nanik. Perumahan dengan konsep cluster tersebut direncanakan terdiri dari 1.500 unit. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)