Telkom Unggulkan Program Beasiswa Keluar Negeri

Perebutan talent belakangan kian marak terjadi. Apalagi, di industri telekomunikasi. Eksekutifnya begitu mudah berganti seragam. Namun, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk mampu mengatasinya. Turn over perusahaan pelat merah ini di bawah 1%.

“Untuk war for talent, di Telkomsel lebih intens. Tetapi, untuk Telkom tidak terlalu ketat. Kami tidak merasa kesulitan. Yang pasti, jika performanya baik gajinya akan ditambah. Kinerja yang bagus akan mendapat lebih,” ujar Herdy Harman, Chief of Human Capital Officer Telkom.

Menurut dia, Telkom punya beragam program untuk menjaga karyawan terbaiknya hijrah ke perusahaan lain. Contohnya, program beasiswa untuk belajar keluar negeri di universitas ternama seperti Harvard, Stanford, dan lain-lain. Jurusan yang diambil pun bermacam-macam, seperti Human Resources, Strategic Management, Finance, dan lainnya.

“Ada juga program Nationality Talent dan Global Talent. Talent kami kirim untuk program magang baik ke perusahaan di dalam maupun luar negeri selama minimal 3 bulan,” ujar dia.

Herdy Harman, Chief of Human Capital Officer Telkom.

Herdy Harman, Chief of Human Capital Officer Telkom

Untuk mekanisme penggajian, lanjut dia, Telkom mengacu pada prinsip 3P, yaitu pay for person, pay for position dan pay for performance. Sehingga, berbeda setiap level dan juga berdasarkan kinerja. Untuk jangka pendek sifatnya tunai sedangkan untuk jangka panjang bentuknya Employee Stock Ownership Program (ESOP) yang diperuntukkan bagi semua level.

“Dalam setahun, ada 2 kali insentif, yakni insentif dan ekstrainsentif. Ada juga diskresi manajemen yaitu bonus di luar dua hal itu, untuk karyawan yang kinerjanya dipandang luar biasa,” katanya.

Herdy menjelaskan, secara garis besar karyawan mendapat kompensasi dan benefit (total reward) dalam bentuk tunai, ada yang terkait performa dan juga posisinya di perusahaan. Telkom secara rutin mengevaluasi program ini agar tetap kompetitif di pasar. Harapannya, karyawan juga akan semakin terikat (engaged).

“Jadi, strategi kami untuk me-retain karyawan tak hanya lewat materi. Ada pelatihan di dalam dan luar negeri, lalu beasiswa untuk melanjutkan pendidikan, magang di dalam dan luar negeri, global talent, dan lainnya. Kami fokus dan ada siklus kapan harus merekrut talent,” katanya.

Untuk merekrut karyawan terbaik, menurut dia, Telkom menggunakan metode baru yang lebih agresif, yakni talent scouting. Perusahaan kini lebih aktif melamar ke anak-anak baru dan memberi nuansa baru dalam merekrut seiring transformasi perusahaan ke digital company.

“Salah satunya, melalui Socio Digi Leader yakni kompetisi untuk anak muda kreatif dan inovatif. Dari peserta yang terbaik kami scouting untuk ditawarkan menjadi pegawai dan dikirim ke Silicon Valley. Tantangannya, tidak hanya dari akademis tapi juga soft skill dan concern terhadap masalah sosial,” katanya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Tenant Mall Neo Soho Sudah Terisi 87%

Wilayah Jakarta Barat, khususnya di kawasan Tanjung Duren yang dulunya dianggap sebagian orang kurang memiliki potensi kini diubah menjadi lahan...

Close