Tender Dipercepat untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah mengharapkan impor barang modal mulai meningkat pada kuartal II-2015. Salah satu caranya adalah dengan mempercepat tender proyek infrastruktur di Tanah Air. “Begitu pembangunan infrastruktur dimulai, investasi juga akan terealisasi. Impor akan meningkat dengan sendirinya. Tapi, tentu impor yang bagus, yakni impor barang modal,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil.

Nilai impor tercatat turun 15% selama tiga bulan pertama 2015 menjadi US$ 36,7 miliar. Ini bisa menjadi pertanda buruk untuk perekonomian Indonesia. Impor bahan baku/penolong merosot 16,2%, sementara impor barang modal berkurang 10,3%. Sofyan menjelaskan, impor masih lemah karena memang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 baru saja disahkan pada Februari lalu. “Jadi, ini masih wajar sebetulnya. Secara year on year, nilai impornya juga hanya turun sekitar 15%. Pemerintah harus push untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil. Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil.

Pemerintah harus waspada karena penurunan impor adalah sinyal masih lemahnya permintaan di dalam negeri. Padahal, belanja pemerintah dan konsumsi domestik adalah komponen utama pertumbuhan ekonomi, selain investasi, selain kegiatan ekspor-impor.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2015 mengalami surplus US$ 1,13 miliar. Secara kumulatif, selama tiga bulan pertama 2015, ekspor menurun 11,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, impor merosot 15,1%.
Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$ 6,1 miliar (turun 44,53 persen) dan nonmigas US$ 30,6 miliar (turun 5,05 persen).

Ekonom, Chatib Basri menilai surplus perdagangan harus mendapat perhatian dari pemerintah karena didorong penurunan impor yang lebih tajam ketimbang perbaikan ekspor. Penurunan impor ini dikhawatirkan akan mengganggu akselerasi ekonomi. Tapi, pemerintah masih optimistis kuartal II, roda ekonomi akan berputar lebih cepat. "Begitu program pemerintah (membangun infrastruktur) terealisir, impor akan naik lagi. Kalau sekarang belum, oleh karenanya impor berkurang," ujar Sofyan.

Sebelumnya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di wilayah Asia Timur dan Pasifik akan lebih lambat pada tahun ini meski akan diuntungkan oleh penurunan harga minyak dan pemulihan ekonomi negara maju. Untuk Indonesia, Bank Dunia memperkirakan perekonomian nasional hanya tumbuh 5,2-5,5 persen pada tahun ini, lebih rendah dari ekspektasi pemerintah. Perusahaan finansial terkemuka dunia, UBS AG, bahkan berani memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi RI menjadi hanya 4,7% dari semula 5% pada tahun 2015.

Perusahaan asal Swiss itu juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 dari 5,8% menjadi 5,6%. Namun, pemerintah masih optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 dapat tercapai meski dihantui risiko perlambatan global.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)