Tiga Karakteristik Inovasi ala JNE

Head of Corporate Communicaton Division JNE, Ridhatullah Hambalillah Head of Corporate Communicaton Division JNE, Ridhatullah Hambalillah

Bisnis jasa logistik tengah berkibar seiring mulai meningkatnya jumlah orang yang membeli barang via online (e-commerce). Sebagai salah satu pemain besar, JNE harus terus melakukan inovasi untuk meningkatkan layanan dan menambah cantik brand di mata para pelanggannya.

Head of Corporate Communicaton Division JNE, Ridhatullah Hambalillah menuturkan, terminologi inovasi mesti dikaitkan dengan tiga hal, yakni lakukan yang terbaik setiap hari, mampu menciptakan produk yang menjawab kebutuhan masyarakat, serta mampu memberi nilai tambah (value added) untuk perusahaan (Corporate Share Value).

“Inovasi, bisa memperpanjang usia. Perusahaan yang sudah tua, yang sudah menunjukkan grafik ke bawah, jika melakukan inovasi dan diimplementasikan dengan baik, grafiknya bisa naik lagi. Seolah, perusahaan tersebut muda lagi,” katanya kepada SWA.

Ia memberi analogi fenomena batu akik. Dulu, di tahun 70-an, hanya orang-orang tua yang memakai batu akik. Hingga tahun 80-90 an, jumlah penggunanya pun tidak banyak. Sekarang, semuanya bicara tentang batu akik. Hampir di setiap perempatan jalan, ada penjual batu akik yang mengelar lapak.

“Di tahun 2014, batu akik ini sudah menjadi sebuah lifestyle. Tak hanya orang tua, anak-anak muda pun tertarik menggunakannya. Kenapa bisa terjadi? Itu karena batu akik bisa mendekonstruksi imej awalnya yang hanya dipakai orang-orang tua. Sekarang, ada kebanggaan di kalangan anak muda jika bisa mengoleksi batu akik,” ujarnya.

Ridhatullah menjelaskan, ada empat tahapan inovasi di JNE, yakni proses, produk, kanal, dan organisasi. Dua tahap pertama sangat terkait, yang juga meliputi proses pengemasan. Di tahap ketiga, lebih banyak terkait dengan penentuan target pasar, sebelum masuk ke tahap terakhir, persetujuan organisasi.

“Contoh, PESONA (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara). Yang disasar adalah masyarakat yang ingin membeli makanan namun keberatan kalau harus pergi mencari ke kota asalnya,” katanya.

Perusahaan mendirikan dua departemen khusus untuk mendorong inovasi produk di JNE, yakni Product Development Division (dulunya R&D) dan Creative of Business Development Division. Konsentrasi PDEV ada di pasar dan nasabah yang ada sekarang, sementara CBD lebih fokus pada nasabah dan pasar baru, contohnya Jesika (Jemput ASI Seketika).

PDEV fokus pada inovasi terhadap efektivitas produk, seperti meluncurkan E-Bike, kurir yang mengantarkan paket menggunakan sepeda listrik. Itu adalah yang pertama di dunia dan baru beroperasi di kawasan Segitiga Emas (Gatot Subroto, Kuningan, Thamrin).

Sementara, CBD mengakomodir setiap inovasi yang tidak ada hubungannya dengan bisnis utama perusahaan, seperti meluncurkan merchandise the celup dengan gambar hewan yang terancam punah.

“Kita harus bisa memosisikan diri di 10 tahun lalu, hal baru apa yang 10 tahun ke depan bisa direalisasikan. Jadilah yang pertama, jika tidak bisa, jadilah yang terbaik. Jika tidak bisa juga, jadilah yang paling berbeda,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)