Tingkatkan Taraf Hidup dengan Menjadi Petani Sawit

Perjalanan hidup Rustamari penuh liku. Tahun 1994 masa sulit sebagai petani sawit transmigran belum dilalui juga. Sebab dia harus menjual sebagian kebun sawitnya untuk membayar utang. Toh, dia pantang menyerah. Terus bekerja lebih keras mengelola kebun sawit dan tekun berusaha.

Harga sawit yang meroket saat krismon juga menjadi berkah bagi Rustamari. Salah satunya, dia mampu melunasi utang yang diprediksi 15 tahun lunas, malah 5 tahun bisa dibayar. “Bayangkan saja harga sawit dari Rp8/kg tahun 1994 tiba – tiba melonjak di Rp2 juta/kg tahun 1997-1998. Kalau sekarang stabil harganya di Rp1.500-2.000/kg,” jelas pria kelahiran Solo tahun 1967 itu.

Sekarang Rustamari pun menikmati jerih payahnya sebagai petani sawit. Rumah besar menjadi tempat tinggalnya berikut mobil sport dan beberapa motor sebagai alat transportasi keluarganya.

Kebun sawit Rustamari juga berkembang. Bila awalnya dikasih kredit pemerintah 1 kavling seluas 2 hektar, saat ini kebunnya menjadi 6 kavling alias 12 hektar. Bahkan, dia mampu mempekerjakan 4 buruh tani dengan gaji Rp3 juta/bulan untuk tiap orang. Menurutnya, harga lahan di Riau tahun 2000 sebesar Rp 20 juta/hektar, kini pasarannya naik menjadi Rp280 juta/hektar.

Kemampuannya untuk berbicara di depan umum dan jiwa kepemimpinan yang menonjol menjadi daya tarik Rustamari sehingga didapuk sebagai Ketua KUD Jaya Makmur yang dirintisnya bersama rekan-rekan tahun 1992 sampai sekarang.

Sebagai pengurus KUD Jaya Makmur yang memiliki 20 kelompok petani sawit, Rustamari sering mengajak teman-temannya untuk menjadi mitra petani plasma Asian Agri. “Bergabung dengan Asian Agri enak sekali. Makanya sampai sekarang kami masih bekerja sama,” klaim Rustamari yang hendak mengembangkan usaha ternak ayam kampung dengan bibit asal Yogyakarta.

Senada dengan Musimin yang mengkader anaknya menjadi petani sawit sejak dini, Rustamari pun demikian. “Bagaimanapun anak-anak harus ada yang meneruskan kebun sawit orangtuanya,” jelasnya seraya mengatakan anak sulungnya baru saja menggondol gelar Sarjana dan memutuskan untuk menjadi petani sawit sebagaimana sang ayah.

H. Misnatun, Juragan Sapi di Riau

Menjadi petani sawit atau peternak sapi bukanlah cita-cita Misnatun. Sedari kecil hidupnya sarat dengan keprihatinan. Mata pencaharian keluarganya di sebuah desa di Jember, Jawa Timur sebagai buruh tani di sawah tidak mampu menyekolahkan hingga tinggi. Tidak heran bila dia hanya mengenyam pendidikan terakhir di SMP. “Orang miskin seperti saya ini tidak punya cita-cita waktu kecil,” ujar pria bertubuh subur ini.

(Kanan) H. Misnatun dengan petugas pembimbing peternakan sapi dari Asian Agri (Kanan) H. Misnatun dengan petugas pembimbing peternakan sapi dari Asian Agri

Namun, garis nasibnya berubah sejak Misnatun memutuskan ikut transmigrasi ke Riau. Sebagai petani pendatang, dia dkk dituntut untuk bekerja lebih giat jika ingin survive di perantauan. Pergi ke ladang, ke pasar atau ke mana saja selalu dilakoni dengan jalan kaki. Pola hidupnya juga sangat hemat mulai dari makanan maupun pakaian. Hasilnya? Tidak sia-sia selama 23 tahun merantau dia berhasil memiliki 50 kavling kebun sawit seluas 100 hektar di daerah Bukit Harapan, Provinsi Riau.

Sukses ‘membiakkan’ kebun sawitnya tidak membuat Misnatun puas. Tahun 2009 dia menjajal peruntungan lain: beternak sapi. Mengapa? “Sebagai orang Madura sudah menjadi tradisi di tiap rumah memiliki 2-3 sapi. Lagi pula peternakan sapi ini bisa digabungkan dengan perkebunan sawit. Ini hasil binaan Asian Agri,” jelas Misnatun yang sebelum merantau ke Riau bekerja sebagai buruh giling padi di kampungnya itu.

Untuk merintis usaha ternak sapi itu, awalnya Misnatun cuma memiliki 5 ekor sapi. Pemeliharaan sapi ini dengan arahan Asian Agri melalui PT Indosawit dengan program ISKA untuk menggunakan pakan ternak dari limbah samping tanaman sawit. Pakan itu selain lebih bergizi bagi sapi juga lebih hemat. Tak lupa Misnatun memandikan sapi dan membersihkan kandangnya agar sapi-sapi itu tumbuh sehat dan gemuk.

Berkat ketelatenan Misnatun merawat sapi-sapinya, jumlah hewan itu terus beranak pinak hingga 150 ekor. “Tapi sekarang sapinya tinggal 70 ekor, karena pas Idhul Adha kemarin banyak terjual. Bagi peternak sapi yang merasakan manfaat Program Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit dari Asian Agri, pasti terus ketagihan,” celotehnya dengan tergelak. Harga sapi milik Misnatun dari beberapa varietas itu dijual seharga Rp38 juta sampai Rp50 juta tiap ekornya.

Terus bertambahnya jumlah ternak sapi, membuat Misnatun kewalahan untuk mengurus sendiri. Maka, dia pun mempekerjakan 10 karyawan yang diambil dari kampungnya di Jember. “Saya ajak saudara, teman atau tetangga yang mau bekerja keras dan memperbaiki nasib untuk merantau di sini melalui ternak sapi atau menjadi petani sawit,” dia menguraikan alasannya.

Tidak hanya bertangan dingin mengelola kebun sawit, Misnatun pun piawai membesarkan usaha ternak sapinya. Tidak heran bila dia ditunjuk sebagai Ketua Kelompok Ternak Soneta yang awalnya memiliki 11 anggota. Setelah usaha berjalan baik, perkumpulan peternak sapi ini mendapat suntikan modal dari Bank Riau dan BRI sekitar Rp500 juta.

Untuk memasarkan sapi-sapinya tidak sulit. Para pembeli dari Pekanbaru sering datang sendiri ke kandangnya. Apalagi kalau hari raya Idul Adha penjualan melesat beberapa kali lipat. “Ya, berkebun sawit dan ternak sapi sudah menjadi jalan hidup saya. Yang penting kerja keras dan rajin,” Misnatun membeberkan rahasia suksesnya.

Keberhasilan Misnatun juga tak luput dari peran sang isteri, Susiyati (36 tahun). Isterinya selain sibuk mengurus rumah tangga, juga membuka usaha kelontong untuk menambah penghasilan keluarga. Gotong royong suami isteri dalam mencari nafkah semakin memperkokoh sendi perekonomian keluargaanya. Hartanya terus bertambah.

Walaupun penampilan Misnatun terlihat sederhana, siapa sangka jika dia memiliki aset ternak sapi yang nilainya mencapai miliaran, kebun sawit 100 hektar bernilai miliaran. Aset ini masih ditambah dengan membeli rumah di Pekanbaru senilai Rp650 juta; beli rumah, sawah 3 hektar, kebun jati seluas 5.000 meterpersegi di Jember; mobil Toyota Rush dan Mitsubushi Pajero, dan lainnya.“Juga bisa pulang kampung kapan saja naik pesawat,” ujar Misnatun yang sudah bergelar haji ini.

Soal regenerasi petani sawit, Misnatun berharap seperti ungkapan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Itulah sebabnya sejak anak-anaknya masih kecil sudah diajarkan bagaimana menjadi petani sawit yang baik. ”Salah seorang anak saya ada yang sudah kuliah di sebuah universitas di Riau. Mudah-mudahan bisa melanjutkan usaha orangtua, ” tutur ayah empat anak ini dengan nada bangga. (EVA)

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)