Ini Cara Berbisnis dengan Pengusaha Irak

Ingin berbisnis dengan pengusaha Irak? Tidak susah caranya. Menurut Duta Besar RI untuk Irak, Safzen Noerdin, pihaknya akan memfasilitasi para pengusaha Indonesia yang ingin melakukan kontak dagang dengan saudagar-saudagar asal Negeri 1001 Malam itu. “Dalam waktu dekat ini Insya Allah, akan berangkat 20 pengusaha Indonesia ke Irak untuk mengikuti pameran Baghdad Internasional Fair 2015 pada 1-10 November 2015,” jelas Safzen di sela acara Business Meeting pengusaha Irak dengan Komunitas Tangan Di Atas (TDA), di Wisma Elang Laut, Menteng, Jakarta Pusat.

(Ki-ka ) Duta Besar RI untuk Irak, Safzen Noerdin dan Budi Rachmat, Ketua Komunitas Tangan Di Atas (Ki-ka ) Duta Besar RI untuk Irak, Safzen Noerdin dan Budi Rachmat, Ketua Komunitas Tangan Di Atas

Untuk berdagang dengan pengusaha Irak, kata Safzen, kita harus memahami karakter mereka. Salah satunya dicontohkan bahwa pengusaha Irak itu lebih suka membawa uang cash dalam bertransaksi. “Jadi, pengusaha Irak itu tidak suka bayar pakai Letter of Credit atau transfer. Saat datang ke Indonesia, mereka juga bawa duit cash,” ungkap pejabat yang murah senyum ini.

Namun, kebiasaan membawa uang cash ini berisiko juga. Pasalnya, saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, para pengusaha ini sering ditahan oleh bagian Imigrasi bandara. Mereka dimasukin ke tempat gelap, diintrogasi dan sering diminta uang pelicin. Jika tidak mau kasih uang petugas Imigrasi, maka pengusaha Irak itu akan balik lagi ke negara asalnya Abunawas itu.

“Saya pernah protes ke Dirjen Imigrasi soal perlakuan petugas yang minta duit ke pengusaha Irak ini, tapi dijawab itu hanya ulah oknum. Kalau itu ulah oknum kok sering terjadi ke pengusaha Irak? Apakah ini hanya terjadi pada pengusaha Irak saja, ataukah negara lain juga? Saya pun tidak tahu. Untunglah rombongan pengusaha Irak yang datang hari ini bersama saya lancar urusannya di Imigrasi bandara,” ucap Safzen.

Kendati soal imigrasi masih menjadi kendala, tapi tidak menyurutkan animo pengusaha Irak untuk datang ke Indonesia. Mereka terus berdatangan ke Tanah Air kita. Baru-baru ini misalnya, difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Baghdad di Irak, dan dukungan dari KADIN Timur Tengah di Jakarta, sebanyak 79 anggota UKM dari komunitas Tangan Di Atas dipertemukan dengan 60 pengusaha dari Irak dalam forum 'Business Meeting Pengusaha Indonesia dan Irak'.

“Selamat datang di negeri kedua Anda di Indonesia. Penduduknya selalu memberikan senyum kepada orang asing yang datang ke sini, Kita perlu meniru Indonesia yang memiliki banyak suku, bahasa, pulau tapi tetap rukun. Penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan damai dan senyum. Dulu Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Irak tahun 1960. Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dulu juga pernah belajar di Baghdad,” jelas Abdullah Hasan Salih, Duta Besar Irak untuk Indonesia dalam kata sambutannya berbahasa Arab itu dengan nada bersahabat.

Suasana pertemuan bisnis pengusaha Irak dan Indonesia di Wsima Elang Laut, Jakarta Suasana pertemuan bisnis pengusaha Irak dan Indonesia di Wisma Elang Laut, Jakarta

Lantas, apa saja produk-produk Indonesia yang diminati pasar Irak? Menurut Safzen, orang-orang Irak menyukai produk-produk Indonesia yang sifatnya hasil bumi, yaitu gula Jawa, rempah rempah, makanan, arang untuk shisha. Bisa juga kebutuhan lain seperti sprei, selimut, busana muslim. Hal ini tampak saat dibuka transaksi langsung dalam pertemuan pengusaha Irak dan Indonesia, orang Irak menyerbu produk-produk tersebut.

Sementara itu, Budi Rachmat, pendiri dan Ketua komunitas UKM yang tergabung dalam TDA, menjelaskan, tujuan dari pertemuan pengusaha dua negara ini adalah untuk mempromosikan hasil produk UKM Indonesia ke Irak. Pertemuan ini adalah yang kedua kalinya. Belajar dari pengalaman tahun 2014, pengusaha pengusaha dari kedua negara antusias. “Memang kami tidak mematok target untuk nilai transaksi tertentu, tapi lebih merekatkan hubungan pengusaha Irak dan Indonesia,” kata Budi.

Dijelaskan Budi, komunitas TDA didirikan sejak 8 tahun lalu (2007). Anggotanya adalah UKM di seluruh Indonesia yang mencapai 25.000 orang dengan omset mulai Rp10 juta hingga Rp7 miliar per tahun. Bentuk usahanya bermacam-macam, ada mebel, makanan, pakaian, arang, sepatu, hijab, rempah rempah, gula Jawa, sprei, selimut, baju muslim, dan masih banyak lagi.

Bagaimana prospek berbisnis ke Irak? “Sekarang adalah momentun bagus pengusaha Indonesia untuk masuk ke Irak. Soalnya di Irak dibanjiri produk-produk dari Turki dan China. Sementara produk China kini lagi bermasalah karena kualitas produknya kurang,” ujar Safzen mendorong pengusaha Indonesia untuk merangsek ke pasar Timur Tengah, khususnya Irak. (EVA)
.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)