Tips Jitu Zulkifli Zaini Memimpin Perusahaan

Zulkifli Zaini, Ketua Ikatan Bankir Indonesia Zulkifli Zaini, Ketua Ikatan Bankir Indonesia

Ketua Ikatan Bankir Indonesia dan mantan orang nomor satu PT Bank Mandiri, Zulkifli Zaini berbagi tips menjadi pemimpin. Hal itu disampaikan Zulkifli dalam acara State Owned Enterprise Seminar & Leadership Award 2016 oleh Majalah SWA. Menurutnya, kepemimpinan adalah seni berkinerja, karena kinerjalah yang menunjukkan seseorang itu berhasil atau tidak. Ketika seorang pemimpin gagal menunjukkan kinerja terbaiknya maka tidak ada ruang baginya untuk menyampaikan alasan.

Zulkifli juga berbagi beberapa tips menjadi pemimpin. Pertama, filosofi menjadi pemimpin adalah jika ingin mendapatkan hasil yang berbeda maka harus menggunakan cara yang berbeda pula, tidak bisa dengan cara yang lama untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan transformasi. Kedua, komunikasi, tugas utama seorang pemimpin aalah membangun komunikasi. “Jika pemimpin tidak bisa bangun komunikasi maka organisasi akan mati," ujarnya.

Ketiga, membangun leader behavior. “Saat Anda menjadi pemimpin, maka seluruh bawahan akan memperhatikan Anda dari ujung kepala sampai ujung kaki,” jelasnya. Maka perlu untuk membangun diri menjadi panutan. Segala tindak tanduk seorang pemimpin menjadi sorotan, oleh karena itu wajib bagi pemimpin memberi contoh. Lalu menurutnya yang lazim terjadi adalah anak buah kerap mengerjakan apa yang akan diperiksa atasannya, bukan yang diharapkan atasan. Kalau seorang pemimpin pergi ke kantor cabang kalau tidak inspeksi, maka tidak mungkin mendapatkan apa yang diekpektasikan. Apakah CS bekerja dengan baik, apakah toiletnya bersih, dan lainnya.

Keempat,  Zulkifli menyarankan sebaiknya dalam sebuah perusahaan nilai yang dibangun tidak perlu banyak yang penting jelas. Paling penting tiga hal yaitu kinerja keuangan, GCG dan pelayanan. Itu saja sudah cukup. “Jadi kalau ada CEO yang bilang saya ingin kita semua menjalankan 15 nilai dalam perushaan ini, saat dia menyebutkan nilai ke 14 dia sendiri lupa nilai yang pertama” jelasnya.

Baru setelah itu, ada IT enabler, kemudian change management office, ini juga sangat penting dalam sebuah transformasi. Tanpa ini akan sangat sulit untuk mengontrol sebuah perubahan besar-besaran dalam perusahaan. Setelah itu talent injection, beberapa talent dari luar jika dibutuhkan maka diambil. Kemudian yang terakhir, catatan khusus bagi perusahaan BUMN yaitu harus bisa menata komunikasi dengan stakeholdernya secara efektif. Karena dibandingkan dengan swasta, stakeholder BUMN jauh lebih banyak. Sehingga waktu seorang CEO BUMN mungkin akan banyak dibutuhkan buat membangun hubungan dengan stakeholdernya.

Zulkifli juga mengingatkan tambah tinggi posisi kita tambah tergantung kita kepada orang lain, apalagi kalau kita memimpin perusahaan besar seperti BUMN yang karyawannya ribuan orang. Bahkan tidak punya kontrol dari jam ke jam dan menit ke menit. Yang bisa kita lakukan adalah influence, sehingga pada ujung akhir dari sebuah kepemimpinan adalah motivasi. “Motivasi lebih penting dari mengontrol itu kuncinya,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)