Toba Surimi, Pionir Budidaya Kepiting Soka

PT Toba Surimi Industries sempat menjalankan usaha budidaya kepiting soka sebelum akhirnya sukses sebagai perusahaan pengolahan ikan laut di Tanah Air seperti saat ini. Bahkan, Toba Surimi merupakan pionir usaha budidaya komoditas perikanan tersebut.

Direktur PT Toba Surimi Industries Gindra Tardy, pada awal berdirinya Toba Surimi di 1997, perusahaan itu sempat menggeluti bisnis budidaya kepiting soka. Bermodalkan dana pribadi dan pengusaha yang juga konsumen kepiting soka asal Jepang sebesar US$ 30 ribu, Toba Surimi memulai ujicoba budidaya soka. "Ini pertama kali dilakukan sebuah perusahaan perikanan di Medan. Hanya saja, usaha ini tidak berkelanjutan karena kurangnya sumber daya untuk mengontrol," ujarnya.

Dia berkisah, usaha budidaya kepiting soka tidak bertahan lama karena kurangnya kemampuan mengorganisir sehingga bisnis tidak terpantau dengan baik. Kepiting soka dirintis pertama kali oleh Toba Surimi melalui tangan Gindra Tardy di daerah air payau. Di daerah itu, dimulailah pembiakan kepiting soka. Waktu panen relatif singkat, hanya tiga minggu, sehingga membuat banyak nelayan yang tertarik untuk bekerja sama. Setelah memberikan pembelajaran dan teknik budidaya akhirnya perusahaan memilih menjalin kerja sama dengan nelayan.

Kepiting Soka (Foto: IST) Kepiting Soka (Foto: IST)

Akhirnya, Toba Surimi hanya bekerja sama dengan masyarakat dan nelayan untuk membudidayakan kepiting soka. Perusahaan sebagai penampung dan pembeli kepiting nelayan. "Kami tak lagi melakukan budidaya sendiri. Kami fokus mengolah dengan mengandalkan kepiting dari nelayan binaan. Setiap tahun produksi kepiting soka nelayan selalu meningkat seiringi naiknya permintaan ekspor kepiting olahan kepada kami," katanya.

Toba Surimi berdiri pada 1997 dengan pemegang saham umumnya masih memiiki hubungan kerabat dan saudara dengan Gindra Tardy. Setelah lebih dari satu dasawarsa, perusahaan perikanan Toba Surimi terus mengembangkan sayap ke pasar luar negeri untuk menjual produk hasil laut Indonesia. Bermula dari hanya satu jenis produk yang dirintis, kini perusahaan telah mengembangkan puluhan produk, dari yang mentah hingga ikan olahan. Jumlah tenaga kerja dari 30 orang berkembang menjadi 850 orang.

Menurut Gindra yang lulusan Glasglow University dari Scotlandia, dirinya juga sempat memproduksi rajungan kalengan secara pasteurisasi, itu dilakukan sebelum Toba Surimi resmi berdiri pada 1997. Sebagai pelopor dalam produksi rajungan kalengan di Sumatera Utara, Gindra sukses mengirimkan hasil produksinya kepada pihak pembeli. Kesuksesan ini pula yang meyemangatinya untuk mendirikan Toba Surimi.

Toba Surimi sudah menghasilkan tiga produk pengolahan ikan berupa seafood beku, seafood kalengan, dan seafood olahan. Produk olahan yang dihasilkan Toba Surimi untuk seafood beku di antaranya frozen yellowfin tuna sashimi (tuna beku), frozen octopus (gurita beku), frozen squid (cumi cumi beku), dan frozen baby clams (kepah beku). Untuk seafood kalengan berupa pasteurized crabmeat (daging kepiting rajungan), udang, tuna kalengan, kepah, cumi-cumi, dan clam juice. Sedangkan seafood olahan berupa sosis ikan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)