Transformasi BSM Menuju Bank Syariah Terdepan dan Modern

Tony Eko Boy Subari, Direktur Utama Bank Syariah Mandiri

Sejak 2014,  Bank Syariah Mandiri (BSM) menghadapi tantangan yang cukup challenging, baik dari internal maupun eksternal. Tantangan dari sisi internal berupa perbaikan portofolio pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan harus dilakukan secara konservatif dan selektif, perhatian terhadap infrastruktur bank (seperti kematangan struktur organisasi yang baru, yang selesai diimplementasikan sejak Maret 2016), pemenuhan kualitas dan kuantitas SDM, penyempurnaan proses bisnis, dan penguatan kontrol internal untuk menciptakan zero fraud. Sementara, dari sisi eksternal, yaitu kondisi makroekonomi yang cenderung belum membaik, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi 2016 sebesar 5,05%, inflasi 3,31%, dan nilai tukar di kisaran Rp 13 ribu/US$.

Melihat kondiri tersebut, kata Tony Eko Boy Subari, Dirut BSM, dewan komisaris secara aktif memeberi saran kepada direksi, antara lain;

  • Fokus terhadap pertumbuhan produk prioritas (tabungan, pembiayaan gadai emas, pembiayaan mikro, pembiayaan BSM Griya, dan pembiayaan pensiunan).
  • Penyaluran pembiayaan segmen wholesale banking melalui kerjasama dengan perusahaan induk kepada proyek-proyek BUMN dan pemerintah seperti infrastruktur dan alutsista, serta islamic sector solution seperti universitas Islam, Rumah sakit Islam, dsb.

  • Kemudian, Pertumbuhan fee based income melalui peningkatan bisnis gadai emas. Lalu, peningkatan transaksi pada electronic banking, cash management, dsb.

  • Peningkatan recovery atas nasabah-nasabah write off.

Tahun 2016, menurut Tony, menjadi tahun transformasi budaya BSM. Budaya BSM dibangun dengan lima pilar budaya, yakni Excellence (bekerja cerdas, tuntas, ikhlas, dan sepenuh hati untuk hasil yang terbaik), Teamwork (aktif bersinergi untuk sukses bersama), Humanity (peduli, bersyukur, dan mengalirkan berkah bagi negeri), Integrity (jujur, amanah, dan bertanggung jawab), dan Customer Focus (berorientasi pada kepuasan pelangganyang berkesinambungan dan saling menguntungkan). Lima pilar tersebut disingkat ETHIC.

Tony menambahkan, penguatan transformasi budaya dalam Corplan 2016-20 dilakukan melalui perubahan perilaku karwayan BSM yang memiliki Spirit PAS: Percaya diri, Antusias, dan Semangat. Menurutnya, program Spirit PAS ini memberikan dampak kepada semua karyawan BSM, yakni timbul rasa percaya diri yang kuat dalam menyelesaikan tugas dan tantangan karena paham dan menguasai betul bidang tugasnya. Kedua, memberikan energi baru untuk selalu antusias dalam menyelesaikan tugas yang diberikan hingga tuntas. Ketiga, meningkatkan semangat bekerja dan daya juang karyawan sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dalam melaksanakan aktivitas pekerjaan sehari-hari.

Selain transformasi budaya, dalam Corplan 2016-20 juga dicanangkan tranformasi bisnis dan organisasi. Pengembangan bisnis BSM tahun 2016-20 fokus pada segmen ritel dan cash management. Targetnya, di tahun 2020, BSM mampu membukukan laba bersih Rp 3,1 triliun, non performing financing (NPF) 3,0%, asetnya menjadi Rp 200 triliun, menyalurkan pembiayaan Rp 142 triliun, dan Dana Pihak Ketiga mencapai Rp 156 triliun. Sementara itu, dalam transformasi organisasi, dilakukan penataan ulang pembagian fungsi antara kantor pusat, kantor wilayah, dan kantor cabang, serta penataan ulang pembagian unit bisnis, risk & operation. “Semua itu dilakukan untuk mewujudkan visi BSM sebagai Bank Syariah Terdepan dan Modern (The Leading & Modern Sharia Bank),” Tony menegaskan. (Resportase: Arie Liliyah)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)