Travelstop Ramaikan Platform Perjalanan Bisnis di Indonesia

Perusahaan startup asal Singapura, Travelstop, resmi merambah pasar Indonesia. Setelah sebelumnya meluncur di enam negara lainnya seperti Thailand, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.

Perusahaan yang baru terbentuk pada Agustus 2018 ini menilai, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan pasar online travel tercepat di Asia Tenggara. Banyaknya perusahaan yang memiliki jaringan teknologi tinggi seperti di Jakarta, membuat startup ini tertarik untuk tiba dan mengenalkan diri lebih awal di Indonesia.

“Indonesia merupakan negara prioritas bagi Travelstop dan merupakan pasar yang menarik, banyak pasar high tech di sini,” ujar Prashant Kritane, Co-founder dan CEO Travelstop.

Berbeda dengan startup perjalanan lain, Travelstop hadir untuk menyediakan jasa perjalanan bisnis dengan target utamanya adalah perusahaan-perusahaan di Asia. Menurut Prashant, selama ini perusahaan dinilai kurang efisien dalam melakukan perjalanan bisnis mulai dari perencanaan, tiba di daerah atau negara tujuan, hingga kembali lagi ke negaranya.

“Banyak perusahaan di Asia memiliki kantor di beberapa negara. Tujuan kami adalah untuk menyediakan pengalaman terbaik kepada para pengguna dalam bahasa dan mata uang lokal, untuk memastikan bahwa kami menawarkan opsi pemesanan yang paling relevan," kata Prashant.

Untuk memudahkan pengguna, Travelstop tersedia dalam tujuh bahasa termasuk Bahasa Indonesia, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea, Bahasa Tionghoa Tradisional, dan Sederhana. Travelstop juga menambahkan sejumlah fitur baru yakni "Book for Others", di mana pengguna dapat memesan perjalanan bisnis atas nama orang lain.

Selain bahasa dan kurs mata uang lokal, Travelstop juga menawarkan dukungan untuk perbedaan pajak regional, format pelaporan, opsi pembayaran, serta berencana untuk memperkenalkan layanan pelanggan dalam bahasa lokal kepada para pengguna.

Lebih lanjut, Prashant menyebutkan saat ini belum ada target khusus untuk pasar Indonesia, "Strategi yang dilakukan dalam meningkatkan pasar di Indonesia adalah dengan melakukan pengenalan aplikasinya dahulu, untuk audaption tentunya,” ujarnya.

Travelstop telah mendapatkan pendanaan US$ 1,2 juta (atau sekitar Rp17 miliar) dari perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat SeedPlus, serta veteran industri perjalanan seperti Expedia dan Yahoo!.

Platform ini pun telah diadopsi oleh berbagai jenis perusahaan di Asia, seperti RedDoorz, Funding Societies, Advance.ai, Dot Property dan SP Jain. Di Indonesia, Travelstop telah menggandeng beberapa korporasi seperti RedDoorz, Modalku, Helpster, Xendit, Cicil, DanaBijak, Digispace, dan Nodeflux.

Sementara itu, sejak diluncurkan Travelstop telah menggandeng 1.000 korporasi. “Tahun ini kami menargetkan 10-20 ribu korporasi yang bergabung dengan Travelstop, tetapi kami harus terus fokus dan bekerja mendalam dengan korporasi,” kata Prashant.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)