Trik 'Melepaskan Diri' dari Bayang-bayang Kesuksesan Orangtua

Bukan rahasia umum bila beberapa pengusaha sukses memiliki latar belakang orangtua yang juga punya 'nama' di dunia bisnis. Yang menarik, beberapa diantaranya yang berusia muda menancapkan cakar di industri dengan melepaskan diri dari raksasa kekayaan orangtua dan membangun bisnis sendiri.

Menurut pengamat sekaligus praktisi bisnis, Andre Vincent Wenas, hal ini terjadi karena anak muda masuk ke fase aktualisasi diri. Mereka ingin mendapatkan pengakuan, apalagi jika anak muda tersebut berasal dari keluarga pebisnis yang notabennya merupakan keluarga yang sangat berkecukupan. Salah satu cara mereka untuk mengaktualisasi diri adalah dengan membangun sebuah bisnis baru yang tidak berkaitan dengan bisnis orang tuanya.

Namun, pilihan anak muda untuk membuka sebuah model bisnis baru, yang berbeda dengan model bisnis yang dibangun oleh orang tuanya tersebut patut dicermati lebih lanjut. Tidak jarang ditemui beberapa dari bisnis anak muda tersebut yang pada akhirnya mengalami “layu sebelum berkembang”. Untuk itu, ada beberapa cara yang perlu dicermati agar bisnis tersebut tidak mengalami keadaan yang tidak diharapkan tersebut.

Andre mengatakan bahwa beberapa hal harus benar-benar menjadi perhatian apabila anak muda tersebut ingin membangun sebuah bisnis. Yang pertama, mungkin harus diperhatikan tentang mentalitas dari anak muda tersebut dan juga cara berfikirnya. Keluarga juga memiliki peran penting dalam mengolah semangat berbisnis dari anak-anak mereka untuk terus dibina. Hal tersebut bukan sesuatu hal yang negatif. Ataupun anak tersebut ingin mencari tahu sendiri akan informasi-informasi tersebut, itupun juga bukan suatu hal yang masalah. Hal tersebut wajar, karena saat itu merupakan tahapan dalam proses belajar. “Siapa tahu justru mereka akan lebih berhasil dari orang tuanya,” ujar Andre.

Satu hal yang terpenting adalah semangat postifnya yang harus terus di encourage. Semangat tersebut sangat penting agar mereka bisa menunjukan bahwa mereka tidak hanya ingin tinggal diam, namun ingin berbuat sesuatu dalam hal ini yaitu berbisnis. Nantinya, apabila memang suatu saat bisnis orang tuanya membutuhkan dirinya, dia mampu menjalankan bisnis tersebut bukan hanya dalam artian mewarisi, tapi juga sudah mampu mengembangkan, memperluas bisnisnya, dan bahkan mungkin mampu melakukan peremajaan dalam bisnis tersebut, terutama dari bisnis model nya.

Biasanya proses yang mereka jalani tersebut, hampir sama dengan produk life cyle. Pada saat fase perintisan ini, mereka selalu melihat peluang dan peluang tersebut dijawab dengan suatu terobosan. Ketika terobosan tersebut mendapat perhatian yang positif, mereka akan semangat. Namun setelah fase tersebut, yaitu pada fase menuju ke fase growth atau pertumbuhan, biasanya mereka akan menemukan chasm (jurang).

Saat itu mereka akan menemukan tantangan yang biasanya dihadapi pada persoalan modal dan stand of control. Disaat itu yang biasanya terjadi adalah peluang yang dihadapi memang cukup besar, namun modal yang dimiliki cukup terbatas. Modal disini diartikan menjadi dua, bukan hanya modal uang (money capital) tapi juga modal sumber daya manusia nya (human capital). Sehingga dari sisi organisasi nya pun menjadi belum siap. Apabila mereka tidak mampu melewat jurang tersebut, kemungkinan yang terjadi adalah, bisnis tersebut bisa hancur ataupu mengalami stagnansi dalam berbisnis. Sehingga bisnisnya berhenti dengan begitu saja.

Untuk menyiasati agar mereka tidak terperosok ke dalam jurang tersebut, yang diperlukan adalah prudence (kebijaksanaan) dan kesabaran yang cukup dalam menjalani bisnis tersebut. Pada saat-saat itu disebut Andre sebagai saat-saat “uji coba” nya. Karena di tahap itu pasti akan selalu mengalami turbulensi, dan turbulensi tersebut harus mampu dilewati jika ingin terus survive dan berkembang. Setelah melewati fase-fase tersebut, maka mereka akan menemukan fase maturity atau kedewasaan dalam bisnisnya.

Dengan visi yang baik, maka orang akan belajar dan melewati tahapan-tahapan menuju kepada ide yang genuine. Mulai dari imitasi, improvisasi/modifikasi, inovasi, hingga kemudian mampu menghasilkan ide yang genuine tersebut. Untuk melewati seluruh tahap tersebut, tentu akan mendapatkan tantangannya masing-masing. Maka, diperlukan suatu kebesaran jiwa yang cukup dalam menjalankan proses tersebut. Itu kesulitan yang terbesar dalam proses belajar. Terkadang masih banyak orang yang merasa tidak pantas untuk mengimitasi orang lainnya. Padahal, jika sekedar memetik nilai postifnya saja, hal tersebut tentu akan sangat berguna.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)