Turnover Talent Tinggi, Ini Dia Pemicunya

Dari hasil Survei Gaji 2015 yang dilakukan oleh Mercer Talent Consulting & Information Solution, perusahaan konsultan SDM global yang menjadi mitra SWA, tingkat turnover talent dari seluruh industri masih tinggi yakni 8,4%, tertinggi terjadi di sektor perbankan, yakni 16%.

Country Business Leader Mercer Indonesia, Satya Radjasa mengatakan tingkat turnover tinggi seiring makin langkanya talenta di Indonesia akibat pertumbuhan bisnis yang cepat. Dari survei yang dilakukan oleh Mercer, Indonesia diperkirakan mengalami defisit talenta pada tahun 2020 mendatang.

“Ini adalah masalah besar dalam sumber daya manusia. Pemicu karyawan pindah kerja paling besar adalah melihat retensi, renumerasi dan jenjang karier yang jelas di perusahaan,” kata dia.

Satya Radjasa Country Business Consulting & Talent Information Solution at Mercer Satya Radjasa Country Business Consulting & Talent Information Solution at Mercer

Dengan mulai banyaknya gen Y sudah bekerja, lanjut dia, perusahaan mesti jeli memenuhi tuntutan yang berbeda dengan Gen X, seperti jenjang karier yang jelas, jam kerja yang fleksibel, desain interior dan situasi kerja yang menarik.

“Banyak perusahaan start up yang sudah menawarkannya. Ada juga perusahaan seperti Astra yang menonjolkan kultur perusahaan, sehingga turn over talent setelah bekerja 5 tahun tergolong rendah, dan yang bekerja di bawah 5 tahun sesuai dengan pasar,” kata dia.

Gen Y terlahir dalam keadaan yang serba tersedia. Karakteristik gen Y antara lain: cepat bosan, penggunaan saluran komunikasi baru yang tinggi, level kepercayaan diri yang tinggi, open-minded dan bermental positif, dan mengusung self empowerment sebagai motivasi kerja. Gen Y mudah berpindah-pindah pekerjaan karena cepat bosan dan rentan terhadap tantangan yang tak disukainya.

Gen Y yang lahir tahun 1980-an hingga 1990-an tidak terlalu ambisius karena uang bukan satu-satunya motivator utama, tetapi tantangan yang sesuai dengan minatnya. Banyak Gen Y yang tidak cocok dengan situasi kompetisi di kantor. Gen Y juga suka menghabiskan waktu luang dengan teman dan keluarga. Mereka gusar jika waktu privatnya diganggu pekerjaan kantor.

“Perusahaan harus memperhatikan pengalaman dan kemampuan talent. Beberapa perusahaan memberi retensi dalam bentuk non-monetary. Setelah menerapkan selama setahun, turn over di perusahaan itu turun hingga 6% dari sebelumnya 20-25 persen,” kata Satya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

 


 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)