UBM Asia: Pentingnya Etika Bisnis Farmasi di Indonesia

Sebagai negara besar, baik dari sisi market maupun luas area, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah Pameran Niaga Bahan Baku Farmasi Terbesar bertajuk CPHi South East Asia 2013. Indonesia dinilai mampu mengembangkan industri bahan baku lokalnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan farmasi di tingkat regionalnya yaitu ASEAN.

Hal ini didukung oleh keterangan GP Farmasi 2012 yang menyebutkan bahwa salah satu negara yang akan mengalami pertumbuhan double digit di ranah farmasi adalah Indonesia. Disebutkan bahwa nilai pertumbuhan tersebut meningkat dari US$ 3,7 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 6,1 miliar di tahun 2014. Seperti apa pula hal-hal baru yang menarik di ajang pameran farmasi akbar tahun ini? Berikut reportase SWA Online dengan M. Gandhi, Managing Director ASEAN Business UBM Asia.

M. Gandhi, Managing Director ASEAN Business UBM Asia.

Bisa diceritakan sejarahnya CPHi ini?

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya di Eropa, sekitar 12 pemain farmasi berkumpul  mengadakan pertemuan dan berbagi perkembangan terkini seputar industri farmasi. Kemudian pertemuan ini berkembang menjadi satu ajang global yang sangat penting di dunia farmasi. Setiap tahunnya ajang berkembang terutama di area, Frankfurt, Madrid, dan Paris.

Setelah berkembang di Eropa, belahan dunia lain seperti China, Jepang, India, Amerika Selatan, dll ternyata menarik untuk dimasuki. Termasuk kemudian mengarah ke Indonesia. Berdasarkan kebijakan dari GP Farmasi, event ini bukan hanya difokuskan untuk pasar Indonesia, tetapi juga untuk pasar Asia Tenggara. Karena itulah pameran ini bertajuk CPHi South East Asia.

Apa tujuan dan misi diadakannya CPHi 2013 ini?

Kami ingin mempersembahkan sebuah platform untuk badan pemerintah, asosiasi perdagangan, dan lembaga regulator untuk mendapatkan up date mengenai pasar bahan baku farmasi, mensosialisasikan kebijakan baru, program-program apa lagi yang akan kami buat di masa mendatang, dimana program-program tersebut terhubung langsung dengan industri untuk memahami peluang nyata dan tantangan yang akan mereka hadapi nanti.

Apa hal-hal baru yang ada di CPHi 2013 ini?

Di CPHi 2013, tercatat 250 peserta dari 25 negara dan kawasan di dunia serta 5   negara  besar dan kelompok yang akan menampilkan produk dan bahan baku farmasi unggulan mereka, mesin-mesin, perlengkapan dan produk kemasan, serta peningkatan luas area pameran sebesar 55% dari tahun sebelumnya.

Untuk tahun ini, tidak hanya mengenai bahan obat saja, tetapi juga mengenai kemasan, yaitu dari P-MEC dan InnoPack. P-MEC di sini menghadirkan peralatan farmasi terbaik dari Eropa, India, dan China dalam bentuk mesin farmasi, dan proses manufaktur bahan baku farmasi untuk meningkatkan kontrol kualitas, keamanan, dan efisiensi proses produksi. Sementara InnoPack akan menawarkan kemasan global dan inovasi terbaru mengenai sistem kemasan dan pengiriman obat-obatan, labeling, serta tetra pack kepada pasar ASEAN. Dengan hadirnya 2 produsen ini, diharapkan CPHi SEA 2013 dapat menarik 5.000 pengunjung serta menjadi ajang prestisius yang dinanti para profesional farmasi ASEAN.

Adakah pengalaman yang membuat Anda menyadari hal-hal penting apa saja yang harus ada di industri farmasi?

Pengalaman saat saya berkeliling dari berbagai negara terutama untuk mendalami segi farmasinya. Ada satu hal yang kurang digarisbawahi oleh negara-negara ini yang sekarang sudah mulai menjadi perhatian China, yaitu etika usaha. Karena yang dibutuhkan dari industri farmasi, tidak hanya dari segi produksi atau brandnya, tapi juga reputasinya.

Mumpung Indonesia mempunyai potensi yang luar biasa di bidang farmasi dan bisa menjadi supplier global untuk supplier farmasi ini, maka harus ditekankan tentang pentingnya etika. Karena etika ini bisa diformulasikan dalam Pancasila, terutama sila ke-2 dan ke-5. Sila ke-5 ini merupakan perwujudan dari program BPJS yang akan dilakukan bulan depan, dan ini merupakan suatu hal yang sangat luar biasa untuk Indonesia karena di China juga sama. Mereka juga mulai melatih semua masyarakatnya dengan menghubungkan antara nilai-nilai budaya tradisional mereka dengan nilai-nilai pada saat berbisnis. Indonesia sudah punya Pancasila, kenapa tidak menggali lebih dalam dari nilai-nilai ini sehingga bisa dikembangkan lagi dan orang bisa melihat bahwa latar belakang nilai-nilai budaya dan nilai-nilai usahanya bisa menjadi trademark sendiri. Inilah yang nantinya akan mendatangkan daya jual sendiri untuk Indonesia.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)