Unibis Bidik Penjualan Tumbuh 8%

Lesunya perekonomian juga memengaruhi pertumbuhan bisnis biskuit di Tanah Air. Depresiasi rupiah turut mendongkrak biaya produksi karena bahan baku yang sebagian besar impor. Perusahaan biskuit seperti PT Unibis mesti jeli melakukan efisiensi.

“Pertumbuhan dipatok 12-15% pertahun. Namun, lesunya pasar tahun ini, diprediksi kenaikan hanya single digit sekitar 8%. Unibis masih optimis dengan peluang pasar di Indonesia dan mancanegara,” kata Direktur Penjualan & Pemasaran PT Unibis, Sukardi Irawan.

Namun, ini bukan masalah besar untuk Unibis yang telah berusia lebih dari 40 tahun. Irawan mulai memproduksi biskuit Unibis pada 1972 silam dengan bendera PT Universal Indofood Product.

Kala itu, Unibis adalah satu-satunya merek lokal asal Medan yang pertama dan satu-satunya di Sumatera dengan produksi 5-10 jenis biskuit. Kini, bisnis Unibis telah dijalankan oleh generasi kedua, yaitu Sukardi Irawan.

Saat ini, mulai marak bermunculan produsen biskuit nasional yang ekspansi ke daerah. Perusahaan lebih fokus membangun imej merek untuk memuluskan pemasaran.

Direktur Penjualan & Pemasaran PT Unibis, Sukardi Irawan Direktur Penjualan & Pemasaran PT Unibis, Sukardi Irawan

Meski harga bahan baku naik, harga jual yang stabil lebih diutamakan dengan tetap mempertahankan isi dan kualitas. Untuk mendorong penjualan, perseroan juga terus mengembangkan pasar di luar negeri.

“Kami ekspansi ke Pekanbaru, Sumatera Barat, dan NAD seiring meningkatkan permintaan dan potensi pasar yang masih besar.

Ya, biskuit Unibis yang kini telah memiliki 62 jenis untuk anak-anak dan orang dewasa ini, tak hanya laris di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, tetapi juga mampu menembus pasar Asia Tenggara, Afrika, Australia, dan Asia Timur.

Kapasitas produksinya pun terus ditingkatkan. Saat ini, sudah beroperasi 2 pabrik sementara pabrik ketiga tengah dalam tahap pengembangan. Pabrik baru dibangun untuk memenuhi tingginya permintaan.

Inovasi produk dan kemasan rutin dilakukan agar pelanggan tidak cepat bosan. Komunikasi dengan konsumen pun digelar dua arah lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan website.

Setiap saran dan kritik diterima dengan lapang dada demi peningkatan kualitas produk. Itu akan menjadi dasar pengembangan produk yang dilakukan tim R&D, termasuk aroma dan jenis baru sesuai selera pasar.

“Jika ada produk yang tak lagi digemari, Unibis akan langsung menyetop produksi sehingga tak membebankan distributor dalam pemasarannya. Kemasan juga kadang diganti agar lebih eye catching,” kata Sukardi.

Unibis masih mengandalkan distributor dalam pemasaran produk. Pengiriman dilakukan langsung ke daerah-daerah. Untuk mendongrak penjualan, perseroan juga membentuk tim khusus yang langsung berhubungan dengan toko. (Reportase:Julfini)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)