Universitas Budi Luhur : Kearifan Lokal Dukung SDGs

Millenium Development Goals atau yang lebih populer dengan sebutan MDGs sudah lama dicanangkan. Program yang dibentuk untuk mencapai kehidupan dunia yang lebih baik itu juga telah digelar dibanyak negara dan organisasi. Meskipun beberapa target MDGs mulai tercapai, namun terkait hal itu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki suatu program penting demi mempertahankan dan meningkatkan pencapaian MDGs yakni Sustainable Development Goals (SDGs). Menyikapi wacana tersebut, Universitas Budi Luhur memiliki perspektif berbeda. Seperti apa?

jadi

Djaetun HS, Pendiri Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, menjelaskan, agar SDGs dapat dicapai dan diimplementasikan secara maksimal, maka masing-masing negara perlu mengoptimalkan segenap sumber daya yang dimiliki. Termasuk diantaranya adalah kearifan lokal yang kurang disadari keberadaannya dan belum mendapat perhatian atas potensi yang terdapat di dalamnya. Secara fundamental, imbuh Djaetun, masing-masing negara memiliki kearifan lokal yang potensial untuk mendukung pencapaian dan keberlangsungan penyelenggaraan pembangunan.

“Kami menyadari dengan adanya pemberdayaan kearifan lokal, akan terjadi konektifitas untuk mencapai MDGs dan menjaga kesinambungannya melalui SDGs dikemudian hari,” ujar Djaetun dalam acara “Pemberdayaan Kearifan Lokal untuk Menuju Kesinambungan Pembangunan Berkelanjutan, Senin (24/3).

Seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Politik, itu juga menyebutkan bahwa sebagai organisasi internasional yang memiliki otoratis di sistem lingkungan global, PBB menjadi aktor penting dalam mengorganisasikan segenap proses untuk mencapai tujuan. Sebagai langkah awal, 189 negara anggota PBB telah menghasilkan kesepakatan yang disebut MDGs pada September 2000.

1497763_10201169245299451_1369738930_nMDGs terdiri dari 8 pilar tujuan, yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Program selanjutnya adalah menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular, memastikan kelestarian lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global untuk pembangunan.

SDGs merupakan agenda pembangunan berkelanjutan yang berfungsi sebagai kontribusi penting dan kerangka penerus MDGs. Sehingga, mewujudkan SDGs boleh jadi memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Karena dengan diperkecilnya pilar-pilar yang harus dikonsentyrasikan yaitu mencakup ekonomi, lingkungan dan sosial,” Djaetun menambahkan.

Dalam konferensi itu, melalui rangkaian seminar, forum group discussion (FGD) dan sidang pleno, peserta konferensi dari berbagai mahasiswa dan dosen belahan dunia dapat berbagi sudut pandang, pengalaman dan ide-ide baru yang dihasilkan dari beberapa perspektif dalam konferensi ini akan menjadi kontribusi sebagai solusi terhadap pemasalahan dilinkungan global pada umumnya dan dimasyarakat negara pada khususnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)