Usaha Mikro Kecil Masih Butuh Pendampingan

Prasmul

Jumlah wirausahawan di Indonesia hanya sekitar 1,65% dari jumlah penduduk Indonesia. Posisi kita masih tertinggal dari Singapura dan Malaysia yang sudah mencapai angka 10% dari total wirausahawan. Mayoritas proses ketahanan bisnis biasanya berlangsung dalam jangka waktu tiga tahun. Pada masa transisi di tahun pertama bisnis akan berkurang sebanyak 50%, 70% pada tahun kedua dan 90% pada tahun ke tiga.

Rudy Handoko, Ketua Program S1 STIE Prasetiya Mulya, mengatakan ,”Indonesia memiliki peluang untuk usaha mikro dan kecil, sedangkan menengah bisa dikatakan sudah bisa mandiri. Usaha mikro dan kecil masih butuh perhatian. Indonesia dari sisi lingkungan bisnisnya belum mendukung, banyak yang masih ingin jadi pegawai. Kemudian enterpreneurship belum disosialisasikan secara baik ke masyarakat. Di kota besar usaha kecil sudah dilakukan oleh orang Indonesia namun belum bisa mengembangkan dan belum menyadari”.

Sementara itu, peran investor dalam keberlangsungan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) bukan hanya dari segi materi, namun juga bisa sebagai network yang nantinya bisa melebarkan bisnis UMKM. UMKM juga membutuhkan pendampingan dari pihak-pihak tertentu, misalnya dari instansi pendidikan dan juga pemerintah.

“Saat ini proporsi UMKM yang sudah mendapatkan pendampingan masih sangat sedikit. Untuk itu peran serta dari stake holder dibutuhkan. Meskipun sulit, pendampingan yang berkelanjutan itu akan menghasilkan hal yang signifikan nantinya,”imbuh Rudy.

Industri makanan dan minuman, fashion dan kreatif masih menjadi hal yang diminati dalam rentan waktu lima tahun ke depan. “ Anak muda zaman sekarang memiliki banyak kelebihan dari berbagai aspek seperti banyaknya informasi serta kreatifitas. Harapannya hal tersebut yang akan terus memacu pertumbuhan UMKM di Indonesia,”tutup Rudy. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)