Usai Holdingisasi, BUMN Semen Kuasai Pasar Regional

Indonesia melalui PT Semen Indonesia Tbk (Persero) kini menguasai pasar semen regional, menduduki peringkat pertama dari sisi produksi atau setara 38,01% dari total produksi di kawasan Asia Tenggara. Keberhasilan Itu tercapai usai PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa, melakukan pembentukan perusahaan induk (holdingisasi) BUMN semen pada 1995.

Presiden Direktur PT Semen Indonesia Tbk (Persero) Suparni menuturkan, saat ini produksi Semen Indonesia dari pabrik di Indonesia dan Vietnam sudah mengungguli Holcim dan Siam Cement Group (SCG) asal Thailand. Penggabungan tiga BUMN semen melalui skema holdingisasi juga berhasil mendongkrak laba Semen Indonesia dari Rp 500 miliar pada 2005 menjadi Rp 5,6 triliun pada 2014. Pendapatan Semen Indonesia mencapai Rp 26 triliun dengan market cap di pasar domestik mencapai 90%. “Dengan penggabungan ini terlihat sekali perkembangan dan kekuatan BUMN semen menjadi begitu luar biasa, saat ini kami sudah menduduki peringkat satu dari sisi produksi di tingkat regional,” ujarnya.

Presiden Direktur PT Semen Indonesia Tbk (Persero) Suparni Presiden Direktur PT Semen Indonesia Tbk (Persero) Suparni

Pascamelakukan holdingisasi pada 1995, lanjut dia, Semen Indonesia terus mengembangkan sayapnya ke luar negeri dengan mengambil alih Tang Long di Vietnam pada akhir 2012. Tang Long memiliki pabrik yang bagus, tetapi pada saat diakuisisi Semen Indonesia pabriknya sedang merugi karena manajemen yang tidak bagus. Kapasitas produksi Tang Long sekitar 2,7 juta ton dan kepemilikan saham Semen Indonesia kini sebesar 70% di perusahaan itu. “Saat itu, kami memiliki kesempatan untuk up size pengembangan. Pada saat itu, utilisasi belum penuh masih sekitar 60%, tetapi setelah dua tahun sudah mencapai 100%. Pabriknya juga saat ini semakin bagus, operasional bagus, kualitasnya bagus dan saat ini sudah bisa dijual ke mana-mana,” katanya.

Suparni menuturkan, ekspansi tersebut kini membuat citra Indonesia melui Semen Indonesia sangat baik di Vietnam khususnya dan Asean pada umumnya. Semen Indonesia pun berpeluang mengembangkan pasarnya hingga ke Kamboja dan Singapura. Saat ini, produksi pabrik Semen Indonesia di Vietnam ditujukan untuk pasar ekspor sebanyak 70% dan 30% untuk pasar domestik. “Citra kami di Vietnam kini sangat bagus sebagai investor, bahkan banyak sekali para pengusaha yang menginginkan kami untuk membeli pabrik kembali di Vietnam. Mitra lokal Semen Indonesia di Vietnam adalah perusahaan swasta, Galaxy Co,” ujar dia.

Dia menilai holdingisasi memberi peluang lebih besar bagi BUMN semen untuk berkiprah lebih besar. Sebab, penguasaan aset dan kemampuan investasi menjadi lebih besar. Investasi kini tidak melihat di satu perusahaan ke satu wilayah, tetapi semua perusahaan karena sudah menjadi satu kesatuan, investasi untuk nasional dan regional. “Untuk investasi sudah dibicarakan bersama, di nasional mana yang perlu investasi, di regional mana peluang pasarnya nanti dapat kami ambil. Pada akhirnya sinergi yang kami dapat sudah bukan sinergi nasional, tetapi juga sinergi dengan perusahaan yang sifatnya sifatnya regional,” katanya. (Reportase: Istihanah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)