Utang Pemerintah RI Turun? Begini Caranya

Utang pemerintah Indonesia terus menggunung. Angkanya mencapai Rp 3.089 triliun atau setara dengan US$ 223,2 miliar hingga Desember 2015. Jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB), rasionya mencapai 27%. Posisi outstanding utang pemerintah ini adalah yang tertinggi dalam kurun waktu 17 tahun terakhir. Lalu, apakah angkanya bisa turun?

Menteri Keuangan Bambang S. Brodjonegoro mengatakan, program pengampunan pajak (tax amnesty) dan repatriasi akan menurunkan jumlah utang pemerintah karena ada uang yang masuk. Kementerian Keuangan akan mengarahkan uang itu untuk membeli Surat Utang Negara (SUN). “Kami tidak mau targetkan berapa karena tidak bagus juga buat pasar. Biar pasar yang menyerap sendiri,” katanya.

Ada dua opsi yang ditawarkan dalam amnesty pajak, dengan atau tanpa repatriasi. Rancangan Undang-Undang Tax Amnesty sendiri baru akan dibahas mulai bulan Januari tahun 2016. Diperkairakan ada lebih dari Rp 1.000 triliun uang milik orang Indonesia yang disimpan di luar negeri kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. “Yang tidak pakai (repatriasi, tentu uang tebusannya lebih mahal),” ujarnya.

Bambang-brodjonegoroMenteri Bambang mengharapkan tidak ada kekhawatiran berlebihan soal posisi utang pemerintah mengingat utang diperlukan untuk membiayai pembangunan selain tentu saja dari penerimaan pajak. Strategi defisit bujet ini juga diterapkan banyak negara, seperti Arab Saudi yang defisit bujetnya mencapai 20% dari PDB.

“Di Indonesia, defisit bujet mendekati angka 3% saja ribut. Malaysia dan Thailand saja sudah di atas 4%. Defisit bujet tinggi, utangnya lebih tinggi. Utang kita hanya 27% dari PDB. Jepang utangnya 200% dari PDB. Padahal, PDB Jepang nomor tiga tertinggi di dunia,” katanya.

Bicara soal utang, ada utang luar negeri dan domestik. Menurut Menkeu, utang domestic angkanya lebih besar. Mayoritas SUN yang berdenominasi rupiah dibeli oleh masyarakat Indonesia. Porsinya sekitar 60%. Ke depan, pemerintah berusaha mengurangi porsi SUN yang dipegang investor asing hingga 9%. “Sehingga, tidak ada potensi sudden reversal. Kecuali, orangnya tidak percaya pada pemerintah Indonesia,” kata dia. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)