Wajah Baru Rumah Sakit Pondok Indah dengan Digitalisasi

Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) resmi pada tanggal 5 Mei 2014 mengemas segala pelayanan dengan wajah baru, yakni lewat digitalisasi di semua lini. Inovasi ini didasari akan semakin pentingnya efektifitas baik dari segi administrasi maupun pelayanan guna meningkatkan mutu sebuah rumah sakit.

Selain itu, target untuk mendongkrak sisi profitabilitas juga dibidik oleh grup rumah sakit yang sudah terlebih dahulu mengimplementasikan digitalisasi di Rumah Sakit Puri Indah. Adapun untuk serentaknya akan mulai diterapkan pada tanggal 1 September 2014.

rumah sakit pondok indah

Dr. Yanuar Hadiyanto,  Kepala Direktur Rumah Sakit Pondok Indah, mengatakan, “Digitalisasi rumah sakit itu akan memberikan berbagai macam benefit, yakni mudah mendapatkan informasi dengan jumlah yang lebih banyak dari pasien serta dapat menempatkan keputusan secara lebih baik.”.

Ungkapan tersebut bermula dari semakin tingginya tingkat kesulitan dalam mencari data berbentuk kertas sehingga dengan digitalisasi akan dengan mudah me-record segala data yang berkaitan dengan pasien.

Lebih lanjut lagi, Dr. Yanuar menambahkan akan benefit digitalisasi terhadap peningkatan patient care; yakni yang mencakup (consistency, continuity, dan coordination). Ketiga hal tersebut direalisasikan ke dalam pemotongan proses pelayanan, baik dari awal (admission) hingga akhir (payment).

“Sejauh ini kan Rumah Sakit konvensional masih memakai prosedur yang sangat panjang. Namun dengan digitalisasi pasien cukup kita berikan username dan password yang bisa digunakan untuk mengakses hasil lab maupun ketika hendak berobat kembali,” pungkasnya.

Inisiatif pengembangan digitalisasi rumah sakit ini selain untuk mempersempit alur prosedur yang biasanya bertele – tele, juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas komunikasi, yang merupakan piranti penting dalam segala aktifitas, seperti ketika melakukan operasi, medical check up, validasi hasil lab, hingga payment.

“Dengan terciptanya komunikasi yang semakin baik, maka akan terjadi continuity yang baik pula. Karena berdasarkan survei kebanyakan, faktor utama penyebab terjadinya mal praktek adalah miss komunikasi. Nah di sisi itulah yang ingin kita kurangi, sebab meskipun resikonya sangat kecil, tapi jika terjadi sama kita tetap saja resikonya besar,” tandas Dr. Yanuar.

Digitalisasi ini akan mengintegrasikan segala piranti penunjang pelayanan rumah sakit, mulai dari pendaftaran, radiologi, pemesanan obat ke farmasi, hasil lab, insurance claim, hingga payment. “Misalnya pada radiologi, begitu pasien sudah dirontgen hasilnya langsung terinput ke database server, dan dengan akun yang pasien miliki, pasien akan langsung dapat mengakses hasil tersebut tanpa perlu mengantri lagi,” jelas Dr Spesialis Radiologi Rumah Sakit Pondok Indah, Luqman Aji Saptogino.

Sementara itu, proses pembiasaan digitalisasi ini bukanlah tanpa hambatan. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Bramandito, “Hambatan pada umumnya datang dari dokter yang usianya sudah tua sehingga perlu waktu yang intens untuk membiasakan dengan teknologi. Walaupun ada pengharusan mengikuti training secara digital, prioritas pasien tidak boleh terlewatkan.”

Lebih lanjut lagi Dr. Bramandito mengungkapkan dua sisi yang ia dapat pasca konversi sistem dari manual ke digital, “Sisi positifnya jika biasanya saya melayani ratusan pasien selesai hingga larut malam, namun setelah digitalisasi setengah hari juga sudah beres. Sementara itu sisi negatifnya esensi dokter malah hilang, saya merasa lebih menjadi seorang programmer daripada dokter karena tiap hari harus input data.” (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)