Wapres : Jika El Nino Moderat, Indonesia Tidak akan Impor Pangan

Data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia akan mengalami cuaca minim hujan hingga awal 2016. Kondisi ini diperkirakan kerana adanya fenomena el nino yang terjadi dengan suhu air Samudera Pasifik lebih hangat dari perairan Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengatakan, pemerintah harus mempersiapkan produksi dan stok pangan dalam negeri sehingga bisa menutupi penurunan produksi pangan akibat el nino, “Menurut beberapa hasil analisis, katanya el nino nanti yang akan terjadi akhir 2015 ini adalah el nino jenis moderat sehingga dampaknya akan lebih ringan dibanding tahun 1998 lalu,” jelas JK yang ditemui dalam pembukaan Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di Jakarta Convention Center, Kamis (18/6). JK mengingatkan bagaimana kondisi beratnya el nino pada tahun 1998 tersebut, sehingga pemerintah harus mengimpor hingga 5 juta ton bahan pangan khususnya beras.

pekan lingkungan hidup

Lebih lanjut JK, memastikan bahwa untuk menghadapi kondisi kemarau panjang akhir 2015 akibat el nino, pemerintah akan mempersiapkan produksi dan stok dalam negeri sebaik mungkin sehingga menghindari impor. Data Kemenetrian Pertanian, menunjukkan luas lahan yang umumnya akan mengalami kekeringan akibat el nino atau kemarau panjang adalah seluas 200 ribu hektar. “Pemerintah dalam hal ini seperti Menteri Pertanian sudah mempelajarinya dan sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasinya,” lanjut JK.

Sedangkan, untuk isu lingkungan hidup lainnya seperti pembangunan hunian bertingkat yang asri dan nyaman bagi warga di sekitar Kali Baru, menurut JK seluruh warga di sana akan segera dipindahkan ke daerah Kemayoran, dengan konsep hunian yang lebih ramah lingkungan, “Hunian bertingkat bagi eks warga Kali Baru itu nnatinya akan ada ruang terbuka hijau dan taman bermain jaid lebih bersih dan nyaman,” ujar JK. Menurutnya, pembangunan rusun untuk warga Kali Baru tersebut ditargetkan akan selesai bersamaan dengan Pelabuhan New Priok pada tahun 2018 nanti.

Dalam sambutannya saat membuka Pekan Lingkungan Hidup tersebut, JK juga menghimbau agar seluruh masyrakat dan pemerintah bisa melaksanakan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan sebagaimana yang telah tercantum dalam RPJMN 2015-2019. Menurutnya, bangsa Indonesia harus belajar dari catatan kegagalan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan di masa lalu, dimana industri kehutanan dikelola dengan konsumtif destruktif. Pada masa 1970-an, menurut JK, pemerintah memberikan ijin yang seluas-luasnya bagi inudtsri kehutanan untuk menebang dari hutan alam guna mencapai nilai ekspor kayu yang seting-tingginya. Selain itu juga, praktek membuka hutan gambut demi perluasan lahan sawah untuk tujuan peningkatan produksi. Kini, setelah tahun 2000, generasi penerus harus menanggung akibatnya, antara lain lahan tandus, banjir, longsor, dan menurunkan nilai ekonomi lingkungan.

“Semua itu adalah contoh pembelajaran bagaimana pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan, maka meski saat ini kita masih merasakn dampaknya, tetapi kedepan kita harus mulai mengubahnya,” imbau JK. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)