Willix Halim Lakukan Pendekatan Bottom Up di Bukalapak

Bukalapak menunjuk Willix Halim sebagai Chief Operation Officer (COO) pertamanya. Dipilihnya Willix bukan tanpa alasan, pria lulusan University of Melbourne ini sudah memiliki banyak pengalaman di bidang yang sama. “Saya memilih Bukalapak dibanding perusahaan e-commerce lainnya. Karena di sini, karyawannya seorang engineer, sehingga lebih menarik. Saya baru bergabung dengan Bukalapak per 4 Oktober 2016. Saat di freelancer saya juga sebagai leader tim operasional agar mampu meningkatkan growth perusahaan,” tutur Willix.

Willix Halim sebagai Chief Operation Officer (COO) Bukalapak Willix Halim sebagai Chief Operation Officer (COO) Bukalapak

Sebagai seorang COO, untuk mengembangkan Bukalapak, ia akan melakukan bottom up approach. Ide mengalir dari bawah ke atas. Ada tiga hal yang ia lakukan yaitu membagikan tools dan tanggung jawab ke tim, sehingga dapat menilai performa tim. Lalu memiliki data, sehingga dapat me-track tim mana yang bekerja dengan baik. Ketiga, lebih kepada mengubah mindset agar pekerjaan lebih efisien. Untuk meningkatkan kinerja tim, ia lebih mengutamakan untuk merekrut talenta muda sehingga dapat diberikan pelatihan, job training, dan projek langsung.

Ditanya mengenai kariernya, ia menceritakan sejak awal sudah tertarik dengan bidang engineering dan computer science. Ketika itu, ia masih meraba bidang apa yang menjadi passion-nya. “Saya memutuskan untuk mengambil dua jurusan di Melbourne, yaitu Engineering ( Mechatronics) dan Computer Science, Mechanical & Computer Science,” ujar pria asal Medan ini.

Ia berhasil menjadi lulusan terbaik di sana. Pekerjaannya dimulai di sebuah perusahaan Telko terbesar yaitu Telstra. Sebagai seorang developer muda di sana, ia bertanggung jawab membuat retail website. Kemudian ia pindah ke sebuah perusahaan riset di Australia. Karirnya tidak berhenti, ia menjadi seorang developer untuk membuat building management system bekerja di Honeywell—sebuah perusahaan penyedia teknologi dan Manufaktur, di mana salah satu klien terbesarnya adalah Melbourne Airport.

Pada tahun 2011, ia bergabung dengan Freelancer.com, sebagai Senior Vice President of Growth. Selama 5 tahun menjadi orang nomor dua di perusahaan start up asal Australia tersebut, ia memantau semua pekerjaan seperti manajemen produk, teknik, revenue, dan lain-lain.

Ia juga mengelola tim teknis dan tim multidisiplin yang terdiri dari ilmuwan data, insiyur, ahli matematika, fisikawan, ahli statistik, dan manajer produk. Selama 14 tahun, ia telah menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja di Australia. Kembali ke Indonesia, ia ingin memperkuat dari sisi digital melalui Bukalapak.

“E-commerce di Indonesia marketnya memang besar, e-commerce masih banyak karena belum mature. Tetapi saya melihat ke depannya hanya ada satu sampai dua e-commerce saja yang bertahan, hal ini juga terjadi di Amerika dan Australia,” ungkap pria yang baru saja menyelesaikan executive degree dari Stanford University Graduate School of Business.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)