Wujud Dukungan Bali Terhadap Pengendalian Tembakau

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, baru-baru ini menolak kegiatan pameran industri tembakau berskala internasional diselenggarakan di tempatnya. Penolakan ini sebagai wujud perlawanan pemerintah setempat terhadap industri tembakau. Penggiat pengendalian tembakau di kawasan Asia Tenggara pun mengapresiasi langkah tersebut.

tembakauPada hari Senin (27/1/2014), Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) menyampaikan ucapan selamat kepada Gubernur Bali, Made Mangku Prastika, setelah ia menolak penyelenggaraan Inter-Tabac Asia yang bakal diadakan tanggal 27-28 Februari 2014 di sebuah resor terkenal di Bali. Inter-Tabac Asia merupakan salah satu pameran perdagangan terbesar yang diadakan oleh industri tembakau dengan tujuan meningkatkan penjualan tembakau di Asia.

“Pemerintah Bali telah menunjukkan keseriusannya dalam menempatkan kepentingan masyarakatnya, melebihi kepentingan lainnya,” ujar Direktur SEATCA, Bungon Ritthiphakdee, di Bangkok.

Ia mengatakan, “Pendirian beliau menggambarkan pelayanannya yang tulus bagi umat manusia dan menjadi teladan yang patut dicontoh oleh semua pemimpin dunia. Sebagai destinasi wisata yang terkenal di dunia, Bali memberikan udara segar bagi dunia.”

Penggiat internasional pengendalian tembakau, Mary Asunta, menuturkan, “Kita harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah (Gubernur Bali) atas ketegasan dan keberanian beliau dalam menempatkan kesehatan masyarakat di atas kepentingan bisnis.”

Menurut dia, setelah Bali menolak, kegiatan tersebut tidak boleh diadakan di kota lain. Karena ditengarai Surabaya atau Jakarta menjadi kota alternatif. “Apa yang telah ditolak oleh (Pemerintah) Bali tidak boleh dilimpahkan ke kota lain,” ucap dia.

Dalam tahun-tahun sebelumnya, ProTobEx Asia dan Inter-Tabac Asia telah diselenggarakan di Manila, Filipina pada tahun 2012 dan 2013, World Tobacco Asia diselenggarakan di Jakarta pada 2010/2011, dan Indonesian Tobacco and Cigarette Expo diadakan pada tahun 2012. Semua penyelenggaraan acara tersebut mendapat protes keras dari penggiat kesehatan masyarakat di tingkat lokal dan internasional.

Asia, khususnya Asia Tenggara, merupakan pasar kunci bagi industri tembakau global. Seiring dengan pengendalian tembakau menjadi semakin ketat di seluruh dunia, industri tembakau berusaha mengeksploitasi generasi muda dan perempuan di negara-negara Asia dengan pertumbuhan penduduk yang cepat.

Keluarga termiskin di Indonesia membelanjakan 10 persen penghasilan rumah tangganya untuk rokok. Kampanye iklan yang masif telah menyebabkan peningkatan prevalensi merokok di antara anak laki-laki berusia 13-15 tahun menjadi lebih dari 40 persen. Demikian juga dengan insiden merokok di antara anak-anak di Indonesia telah meningkat drastis. Pada tahun 1995, sekitar 71.000 anak-anak usia 10-14 tahun adalah perokok, sementara pada tahun 2010 jumlah tersebut meningkat menjadi 426.000. Bahkan, pertanian tembakau di Indonesia dan negara-negara produsen tembakau melibatkan pekerja anak.

Awal bulan ini, SEATCA sendiri telah mengirimkan surat terbuka yang ditujukan pada Walikota Dortmund, Ullrich Sierau. Dalam surat tersebut, SEATCA mendorong Walikota Dortmund untuk membatalkan penyelenggaraan Inter-Tabac di Indonesia dan Asia, dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan industri tembakau. Kota Dortmund sendiri merupakan pemegang saham tunggal dari Westfalenhallen Dortmund GmbH, penyelenggara Inter-Tabac Asia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)