YDBA Giat Lakukan Business Matching UKM Binaan

20150821_100534Dalam kondisi lesu ekonomi seperti saat ini, banyak yang UKM merasa kehilangan arah, bagaimana mempertahankan bisnisnya. Tapi tidak dengan UKM binaan YDBA (Yayasan Dharma Bakti Astra). Sekitar 120 UKM binaan YDBA hari Jumat kemarin hingga 3 hari berikutnya mengikuti business matching dengan 9 UKM asal Fukuoka, Jepang. Ini kali ketiga pemerintahan Fukuoka membawa rombongan bisnisnya untuk dilakukan pendekatan bisnis agar bisa terjalin kerjasama yang menguntungkan dengan UKM yang ada di Indonesia.

Bertempat di Garuda Room, International Convention Exhibition (ICE) BSD bertepatan dengan diadakannya Gaikindo International Indonesia Motor Show business matching ini diadakan. Disaksikan oleh Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah, Kementrian Perindustrian; Hishashi Hatta, Fukuoka Prefectural Government dan F.X. Sri Martono selaku Ketua YDBA, disaat bersamaan dilakukan penandatanganan MoU Kerja sama Prefecture Fukuoka & YDBA.

Dalam sambutannya, Euis menyampaikan saat ini Indonesia sebenarnya mengalami difisit komponen impor otomotif yang nilainya cukup besar Rp 90 triliun. “Maka dengan diadakannya business matching ini diharapkan pelaku industri komponen otomotif lokal, terutama UKM bisa meningkatkan kapasitas dan kualitas produksinya sehingga difisit ini bisa teratasi,” ia berharap. Dengan kemampuan teknologi dan manajemen yang lebih dari para pengusaha dari Fukuoka, diharapkan ada transfer teknologi dan knowledge yang lebih baik.

“Saya juga berharap YDBA bisa lebih memberi bimbingan pada UKM binaannya dengan teknik basis dan pengetahuan tentang Hak Kekayaan Intelektual,” tuturnya. Kerjasama ini juga bisa mempererat hubungan bisnis serta ekspansi bisnis antara UKM Indonesia dengan Fukuoka.

Sri Martono sendiri optimis dari upaya business matching ini meski secara angka jumlah UKM yang diajak bertemu menurun dibanding tahun lalu. Disebutnya, tahun lalu jumlah UKM binaan YDBA yang diajak hingga 150 UKM, sedang dari Fukuoka sendiri ada 13 perusahaan. Tahun ini YDBA mengajak 120 UKM binaannya dan Fukuoka membawa 9 perusahaan.

“Kondisi lesu memang mempengaruhi, tapi meski begitu, kami membawa kualitas UKM terbaik untuk bisa dilakukan pendekatan kerjasama dengan mereka,” ujarnya. Sri Martono juga melihat UKM kita memiliki kendala kekhawatiran yang tinggi akan dicaplok oleh perusahaan dari Jepang jika terjadi kerjasama bisnis. Inilah yang terus dipersuasi YDBA bahwa upaya business matching ini juga dilakukan para pebisnis dahulu di era 80an, yang kini telah menjadi perusahaan-perusahaan besar. Bahwa ini juga merupakan upaya mereka agar UKM binaannya dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka.

“Melalui business match ini, diharapkan ada perkuatan modal, peningkatan kemampuan teknologi dan akses pasar yang lebih luas bagi mereka,” tegasnya. Ia berharap ada 15 UKM setelah dari upaya business matching ini yang bisa dibawa ke Jepang untuk menindaklanjuti upaya ini agar terjadi komunikasi lebih intens lagi. “Sehari sebelum ini mereka kami ajak juga mengadakan kunjungan ke beberapa UKM, tidak berhenti di situ, mereka akan mengunjungi UKM lain di hari lain,” ujarnya.

Hishashi Hatta juga mengamini hal yang sama disampaikan Sri Martono. Dengan upaya ini diharapkan ada potensi bisnis lebih produktif antar keduanya. “Fukuoka dikenal dengan perusahaan-perusahaan yang berbasis otomotif, robot, IT dan pertanian modern. Dengan kelebihan yang dimiliki pebisnis Fukuoka dan UKM Indonesia diharapkan bisa menguatkan bisnis kedua belah pihak,” tegasnya. Fukuoka berada di Utara Jepang memiliki GDP US$ 2250 Miliar dengan total penduduk 5 juta jiwa. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)