Zulkifli Zaini: Pemimpin yang Baik Mampu Menggerakkan Hati, Pikiran dan Tangan Karyawan

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini.

Kemampuan perusahaan menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnis yang berubah adalah faktor penting agar bisa bertahan. Maka hal yang dibutuhkan adalah transformasi, pendefinisian budaya kerja perusahaan dan leadership. Hal inilah yang disampaikan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini dalam Webinar Young Business Leader Award 2021, (18/2) yang diselenggarakan PLN dan Majalah SWA.

Menurut Zulkifli, di tengah perubahan yang secara konstan terus terjadi, suatu perusahaan tidak bisa melakukan business as usual. Transformasi menjadi titik ujian bagi seorang pemimpin. “Karena pada akhirnya kemampuan kita diuji pada saat perusahaan melakukan transformasi,” tutur mantan Direktur Utama Bank Mandiri tersebut.

Transformasi perlu dilakukan, lanjutnya, sebab kita tidak akan mendapatkan hasil yang berbeda hanya dengan melakukan hal yang sama. Kita harus menggunakan cara yang berbeda untuk mendapatkan hasil lebih baik. Di samping itu, dengan melakukan transformasi memungkinkan perusahaan untuk memberi ruang pada perbaikan.

Zulkifli mengakui bahwa transformasi bukan merupakan pekerjaan mudah. Menurutnya, lebih dari 60 persen transformasi berakhir gagal. “Sehingga kemampuan seorang leader untuk bisa memimpin transformasi adalah kemampuan pokok yang harus dimiliki agar membawa perusahaan menjadi lebih baik di waktu yang akan datang,” paparnya.

Hal mendasar yang harus diterapkan perusahaan agar berhasil transformasi adalah harus mendefinisikan ulang dari budaya perusahaan. “Dalam bekerja ada tiga hal yang utama, yaitu hati, pikiran dan tangan. Budaya perusahaanlah yang menggerakkan hati, pikiran dan tangan kita dari waktu ke waktu. Di PLN sebagai contoh, kami memegang budaya akhlak sebagai dasar bagi setiap orang untuk bekerja sebaik-baiknya.”

Penajaman budaya perusahaan tidak bisa sekadar slogan atau poster yang ditempel di dinding-dinding kantor. Sebab jika hanya demikian, maka budaya perusahaan yang akan berakhir di dinding, bukan di dalam hati, pikiran dan tangan.

Poin berikutnya yang disampaikan Zulkifli adalah leadership. Seorang pemimpin dinilai pada saat ia menyelesaikan tugasnya dan berakhir pada kinerja. Kepemimpinan adalah seni dari berkinerja melalui orang lain dan berkinerja bersama orang lain. Semakin tinggi jabatan yang diduduki, maka semakin bergantung dengan orang banyak.

“Pada saat menjabat seorang pimpinan tim, kinerja saya bergantung pada tim saya yang berkisar 5-10 orang. Begitu saya menjadi kepala bagian, kinerja saya tergantung pada 20-30 orang yang bersama saya. Ketika saya menjadi kepala cabang, kinerja saya bergantung pada 200-300 orang. Pada saat menjadi kepala divisi, kinerja saya tergantung pada 800-1000 orang yang ada di dalamnya. Kemudian, ketika saya menjadi direktur, maka kinerja saya tergantung pada 10-12 ribu orang. Jika pemimpin tidak bisa bekerja melalui orang lain dan bekerja bersama melalui orang lain, maka pemimpin tersebut pasti gagal.” jelas Zulkifli.

Hal inilah yang menurut Zulkifli sering dilupakan oleh banyak orang. Leadership adalah people business. Organisasi boleh memiliki hardware, software dan infrastruktur. Namun pada akhirnya yang menentukan adalah orang-orang yang dibelakang hardware dan software tersebut. Orang-orang itulah yang memiliki hati, pikiran dan tangan. “Seorang pemimpin yang baik, selalu mampu menggerakan hati, pikiran dan tangan semua orang yang bersama-sama ada di dalam organisasinya,” tegas Zulkifli.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)