Mandiri dan OVO Bekerjasama Percepat Gerakan Non-tunai

 

Bank Mandiri dan PT Visionet Internasional (OVO) bekerjasama untuk memperluas layanan transaksi. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk mempercepat gerakan non-tunai nasional. Nantinya, nasabah Bank Mandiri dan pengguna OVO dapat melakukan transaksi pada jaringan merchant yang telah bekerjasama dengan keduanya. Pengguna kartu debit Mandiri, kartu kredit Mandiri, Mandiri e-Money, dan Mandiri e-Cash dapat bertransaksi merchant yang berpartner dengan OVO, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan transaksi non-tunai kedua perusahaan.

“Kami selaku perusahaan perbankan terdepan di Indonesia, selalu berusaha untuk terbuka terhadap inovasi. Terlebih di era digital ini, bekerjasama dengan perusahaan teknologi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan interoperability,” ujar Rico Usthavia Frans, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Mandiri pada Kamis (29/03/2018).

Kerjasama keduanya baru sampai pada tahap penandatanganan MoU. Eksekusi dari kerjasama tersebut ditargetkan akan dimulai antara Q2 hingga Q3 tahun ini.

Setelah tujuh bulan beroperasi, OVO telah mendapat penerimaan baik dari masyarakat. Saat ini pengguna OVO sudah mencapai 9,5 juta dan jumlah transaksinya dapat mencapai 500 ribu hingga 1 juta transaksi per hari. OVO juga telah bekerjasama dengan 23 sampai 25 ribu merchant. Potensi tersebut diharapkan dapat bersinergi dengan Mandiri yang memiliki 17 juta nasabah dan 200.000 merchant partner.

“Awalnya, kami tidak menyangka pengguna kami bisa naik secepat ini. Target akhir tahun ini sudah tercapai sekarang. Tentunya kami tidak berpuas diri dan akan terus berusaha meningkatkan pengguna, salah satunya melalui kerjasama ini. Dengan kemudahan mengisi top-up yang akan didapatkan pengguna, diharapkan jumlahnya mereka akan naik. Target baru kami untuk akhir tahun ini sekitar 15 hingga 20 juta pengguna,” ungkap Adrian Suherman, Direktur Utama OVO.

Pengguna OVO sendiri didominasi oleh usia 23 hingga 35 tahun yang telah terbiasa dengan sistem pembayaran online. Sekitar 60 persen pengguna bergender perempuan.

Menurut Adrian, salah satu faktor meningkatnya pengguna OVO adalah kemudahan untuk bertransaksi, misalnya pembayaran parkir. Selain itu, ada juga benefit yang bisa didapatkan berupa poin setelah berbelanja. Poin tersebut dapat digunakan lintas merchant. Misalnya, bila pengguna mendapat poin dari berbelanja di toko pakaian, poin tersebut bisa digunakan untuk membeli kopi atau menonton film.

Untuk sistem keamanan, OVO telah mendapatkan lisensi dari pemerintah untuk menjalankan kegiatan e-Money. Sudah ada regulator yang mengawasi sistem tersebut. Pihak OVO terus memperbarui sistem agar terus dapat melindungi data pelanggan.

Adrian melihat peluang OVO untuk berkembang di pasar Indonesia masih sangat luas. “Electronic data capture (EDC) di Indonesia pada industri ritel hanya 1 sampai 1,2 juta. Angka tersebut kecil dibandingkan dengan total ritel yang ada. Selain itu, persentase digital payment di Indonesia masih kurang dari 2 persen. Ada 98 persen ruang yang bisa kami garap,” tutur Adrian.

Tantangan utama OVO adalah bagaimana bisa membuat ekosistem digital payment cepat berlari. Kerjasama dengan Mandiri merupakan solusi untuk mempercepat pembentukan ekosistem dengan cost yang lebih rendah. OVO dan Mandiri tidak menutup perusahaan fintech lain untuk ikut bekerjasama. Keduanya ingin menggandeng sebanyak-banyaknya partner untuk membentuk ekosistem tersebut.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)