Manfaat Poliherbal di Masa Pandemi menjadi Pilihan Terapi Covid-19

Pandemi Covid-19 membuat orang-orang lebih fokus menjaga kesehatan dan sistem imun tubuh dengan menggunakan berbagai macam produk. Tak terkecuali, dengan menggunakan tanaman herbal. Sejumlah tanaman herbal memang telah lama dipercaya dapat mencegah penyakit dan meningkatkan sistem imun tubuh.

Untuk itu, Perkumpulan Disiplin Herbal Medik Indonesia (PDHMI) pada Sabtu, 18 September 2021 PDHMI mengadakan Bincang Santuy mengenai Peran Herbal pada Pneumonia Covid-19. Narasumber dalam dikusi itu adalah  dr. Lusi Nursilawati Syamsi SpP, M.Farm., FCCP., FAPSR dari Bidang Pelayanan PDHMI, dr. Erna Hayati, MM, M.Si dari Bidang Pengabdian Masyarakat PDHMI dan dimoderatori oleh dr. Gladys D T Tubarad, Mpd.Ked dari Bidang Humas dan Publikasi PDHMI.

Tema yang diangkat ini adalah pneumonia, peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Pneumonia bisa menimbulkan gejala yang ringan hingga berat. Beberapa gejala yang umumnya dialami penderita pneumonia adalah batuk berdahak, demam, dan sesak napas.  Pneumonia juga dikenal dengan istilah paru-paru basah. Pada kondisi ini, infeksi menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru-paru. Akibatnya, alveoli bisa dipenuhi cairan atau nanah sehingga menyebabkan penderitanya sulit bernapas.

Pneumonia bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur. SARS-CoV- 2 yang menyebabkan Covid-19 adalah salah satu jenis virus yang bisa menyebabkan pneumonia. Pneumonia akibat Covid-19 bisa menyebabkan komplikasi berbahaya, salah satunya adalah acute respiratory distress syndrome (ARDS). Pneumonia terkadang juga bisa muncul beserta penyakit paru-paru lain, misalnya TB paru.

Pada kesempatan berbagi ilmu dan pengalaman ini dr Lusi memaparkan hasil riset observasi uji klinisnya mengenai penggunaan polyherbal untuk terapi adjuvant pada Covid-19. Sebagai Ketua Satgas Covid-19 Mortalitas di tempat berdinas, dr Lusi yang juga mendalami ilmu obat bahan alam mencari alternatif terapi pendamping untuk menekan angka kematian akibat terpapar virus. Oleh karena itu melakukan uji klinis di mana pasien Covid-19 dengan derajat sedang diberikan polyherbal yang mengandung ekstrak ikan gabus, temulawak dan daun kelor. Produk tersebut dilakukan observasi uji klinis sebagai adjuvan standar pengobatan Covid-19  kepada pasien dengan derajat sedang berdasarkan hasil uji klinik dan hasil laboratorium.

Dalam penelitian ini dr Lusi melibatkan peneliti yang pakar di bidangnya, Prof. Dr. apt. Syamsudin, M.Biomed merupakan Guru Besar bidang Farmakologi Bahan Alam dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Hasil penelitian ini terbit di dalam jurnal internasional, yakni European Journal of Molecular and Clinical Medicine.

Pengujian dengan uji klinis acak terkontrol single blind parallel study pada pasien yang memiliki gejala serta kasus positif, kemudian pasien ditindaklanjuti selama 7 hari setelah dosis terakhir pemberian polyherbal.

Sebanyak 48 pasien positif Covid-19 dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pertama diberikan terapi standar ditambah polyherbal dan kelompok kedua diberikan terpai standar dengan placebo selama 7 hari. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan tanda-tanda klinis dan vital dilakukan pada pasien setiap hari sebagai adjuvan pengobatan standar yang diberikan untuk penanganan pasien Covid-19 terkonfirmasi pneumonia sedang dengan pemberian polyherbal  selama 7 hari.

Hasil pengobatan dinilai untuk perbaikan gejala klinis dan laboratorium setiap 5 hari perawatan pasien. Pemeriksaan klinis dilakukan pada bulan November 2020 hingga Januari 2021 setelah lolos uji etik. Penelitian dimulai dengan mengisi informed consent, menandatanganinya, dan setelah itu dilanjutkan ke fase seleksi, perlakuan, dan pasca perawatan. Selama penelitian, gejala klinis, kemudian dihitung darah lengkap, protein C reaktif, D-dimer dinilai sebelum dan setelah perawatan Covid-19. Hasil dari penelitian itu adalah dapat mencegah perburukan serta  mempercepat pemulihan pada pasien Covid-19 kategori sedang. 

Dalam pemaparan dr.Lusi mengatakan bahwa : ikan gabus dapat menurunkan proses inflamasi yaitu Insulin like growth factor 1 (IGF-1) dan stress oksidatif. Albumin menstabilkan dan meningkatkan transportasi Curcumin pada target virus intraseluler , meningkatkan efektivitas kombinasi kelor dan obat obatan memblokir virus SARS CoV-2 untuk fusi dan / atau masuk ke sel, strategi efektif pengobatan infeksi virus.

Peran albumin pada penghambatan pembentukan thrombus, antitrombosis dan antioksidan adalah menjaga hipercoagulapati darah dengan mencegah vasculitis dan injuri di organ lain. Temulawak memiliki kandungan kurkumin yang mempunyai fungsi yaitu meredakan nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah dan sebagai antioksidan kurcumin sebagai antihepatotoksik, merangsang sel hati membuat empedu, mencegah hepatitis dan gannguan hati, membantu menurunkan kadar SGOT dan SGP.

Selain itu, albumin berfunsgi merangsang fungsi pankreas, menambah selera makan, mampu merangsang metabolisme sistem hormon dan fisiologi tubuh. kurcumin penghambatan sintesis protein dan penghambatan sintesis asam nukleat dinding sel, mengubah permeabilitas membran sel dan transport aktif melalui membran sel. Daun kelor pada molecular docking memiliki 4 komponen zat aktif kaempferol (A), pterygospermin (B), morphine (C) dan quercetin (D) menghambat energi pada target obat virus Covid-19 Mpro (Main protease) (3CLpro) dan RdRp (RNA- dependent RNA polymerase) (nsp12).

Kemudian, dr Erna menerangkan dan menambahkan perbincangan mengenai penggunaan polyherbal khususnya manfaat daun kelor yang sangat kaya manfaat. Daun kelor dapat meningkatkan imun di masa pandemi Covid-19. Memiliki daya tahan tubuh yang kuat di masa pandemi Covid-19 sangat penting supaya terhindar dari penularannya. mengonsumsi daun kelor membantu perkembangan tubuh dan menjadi bahan obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Daun kelor kaya akan vitamin A, vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3 (niacin), vitamin B6, serta vitamin C, mineral, dan senyawa tanaman bermanfaat lainnya.

Selain itu, kandungan polifenol dalam daun kelor memiliki sifat melawan kanker dan dapat mengurangi risiko seperti penyakit jantung dan diabetes. Daun kelor bisa dikonsumsi secara mentah, diolah menjadi teh, hingga menjadi masakan sayur bening. Daun kelor juga memiliki kandungan penting lainnya seperti kalsium, kalium, zat besi, magnesium, fosfor, seng, serta rendah kalori.

WHO menyebut daun kelor sebagai miracle tree karena khasiat yang terkandung di dalamnya. Semua senyawa tersebut sangat diperlukan bagi kesehatan tubuh. Nutrisi yang dimiliki daun kelor, membuat manfaat tanaman ini selalu diminati pencinta herbal. Tak hanya bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk mencegah terpapar Covid-19, daun kelor memiliki beberapa manfaat lagi bagi tubuh.

Pada sesi tanya jawab baik dr Lusi dan dr Erna mengatakan bahwa pemakaian polyherbal  untuk pneumonia dapat ditambahkan sebagai terapi adjuvant, menghasilkan hasil yang cukup bagus yakni dapat mengurangi gejala serta menderita Covid-19 dengan derajat sedang serta komorbid jantung, diabetes, dan hipertensi. Harapan PDHMI dengan adanya agenda rutin berbagi ilmu semoga masyarakat dapat menambah wawasan dan dapat menggunakan herbal secara mandiri untuk keperluan sehari-hari guna menjaga daya tahan tubuh di musim pandemi.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)