Manis Buah Sinergi di Kota Malang


Saat awal ditunjuk sebagai Wali Kota Malang, Mochamad Anton yang menjabat sejak tahun 2013 tidak ongkang-ongkang kaki begitu saja menerima warisan keunggulan dari pendahulunya. Berbagai inovasi ditempuhnya agar Kota Malang yang terkenal dengan suhu udaranya yang sejuk semakin ramah bagi pebisnis dan juga masyarakatnya.

Mochamad Anton Mochamad Anton, Walikota Malang (Foto: www.gatra.com)

 

Kota yang telah lama dikenal sebagai destinasi pendidikan dan wisata dengan luas wilayah 110,06 km2 dan berpenduduk 895.387 jiwa itu sendiri terdiri dari 5 wilayah kecamatan dan 57 kelurahan. Walikota Malang yang akrab disapa Abah Anton itu memaparkan, sektor utama yang banyak mendominasi kotanya adalah jasa, perdagangan dan industri. Salah satu pilar ekonominya tak lain 55 unit perguruan tinggi yang menciptakan efek pengganda dengan kehadiran penyedia jasa kuliner, binatu, ritel, kosan, dan lain sebagainya.
 
Di sektor infrastruktur, Kota Malang terus mengembangkan jalan-jalannya agar mampu mengakses ke setiap sudut wilayah Kota Malang. Ditambah lagi perancangan road map pengembangan industri wilayah, melakukan koneksitas antara sarana dan prasarana (pusat-pusat) perbelanjaan, pendidikan, kesehatan, hunian (properti) dan jasa perdagangan pada setiap wilayah kecamatan. Berkelindan dengan hal ini, juga terus dilakukan manajemen tata kota yang ramah dan berwawasan lingkungan melalui pengembangan taman taman kota yang tematik serta ditopang dengan akses wifi yang ke depan diarahkan untuk dimanfaatkan warga untuk berselancar secara bebas,” papar Anton yang masa jabatan periode pertamanya berakhir tahun depan itu.
 
Di bidang perizinan pun telah hadir Perkantoran Terpadu Pelayanan Satu Atap yang menjadi pusat pelayanan publik dan perizinan, yang memberi kemudahan serta rentang layanan yang tidak berbelit. Eksis pula Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Malang yang mengakomodasi 15 jenis perijinan, termasuk di dalamnya pelayanan perijinan paralel yang mendorong investasi daerah dan meningkatkan ketaatan legalitas usaha masyarakat.
 
Juga dilakukan langkah pemangkasan birokrasi dengan mengembangkan Program Nasional Paten (Pelayanan Terpadu Kecamatan) hingga Kelurahan. Program tersebut sukses mengantarkan kelurahan Tlogomas dan kelurahan Kasin di Malang menjadi Kelurahan Terbaik Tingkat Nasional. Plus, BP2T (Badan Pusat Pelayanan Terpadu) terpilih sebagai role model pelayanan oleh Kementerian PAN-RB.   
 
Dalam aspek perpajakan, yang menyumbang hingga 80% PAD Kota Malang turut dikembangkan sistem pajak online e-Tax sehingga lebih mempermudah dalam pengurusan pajak. Selain itu dalam rangka membangun e-government, Pemkot Malang turut membesut layanan terintegrasi dan bahkan command centre.
 
Pembangunan UMKM pun turut digencarkan dengan pembangunan kampung-kampung tematik. Bekerjasama dengan perguruan tinggi, penduduk kampung diberikan pendamping dan pelatihan kualitas mutu. Jadi masyarakat kampung sebagai pencetus ide, kelurahan dan perguruan tinggi sebagai pendamping atau penerjemah desain, dan pemkot sebagai fasilitator implementasi,” urai Anton.
 
Hasilnya, hingga kini Kota Malang telah melahirkan 66 kampung tematik. Menurut Anton, biaya yang dibutuhkan sangat hemat, kurang dari setengah miliar rupiah namun mampu melahirkan 66 produk unik dari setiap kampung. Keberhasilan implementasi gagasan ini akhirnya turut direplikasi di kota lain seperti di Gresik dan Bogor.
 
Adapun salah satu contoh sukses program di atas adalah Kampung Warna Warni di Kelurahan Jodipan yang lahir dari inisiatif kreatif mahasiswa jurusan Komunikasi di Universitas Muhamadiyah Malang yang didukung oleh perusahaan cat lokal Decofresh dan Komunitas Mural Malang serta masyarakat setempat. Alhasil di sana tak hanya perkembangan secara fisik, tapi juga kini telah tumbuh aktivitas ekonomi warga seperti, kuliner, suuvenir, dan homestay.
 
Berkat berbagai pembenahan itu Pendapatan Asli Daerah Kota Malang pun turut melejit dari Rp 160 miliar di tahun 2014 menjadi Rp 387 miliar di akhir tahun lalu. Selain itu Kota Malang juga mendapat Indeks Kota Layak Huni 69,3 % atau tertinggi ke 3 nasional dari Ikatan Ahli Perencana Indonesia di tahun 2014.
 
Berkat inovasinya, berbagai penghargaan pun diraih Kota Malang. Selain menyabet gelar Kota Layak Huni Peringkat Ketiga, di tahun 2017 Kota Malang juga menyabet penghargaan Kategori Tata Kota di ajang Sindo Weekly Government Award. Anton sendiri di tahun 2016 diganjar Penghargaan Satya Lancana Bhakti Praja Nugraha oleh Presiden Joko Widodo atas keberhasilannya membenahi birokrasi Kota Malang.
 
Pun demikian Anton memaparkan kepada SWA, tantangan utama dalam memajukan daerah adalah kerawanan munculnya kriminalitas kebijakan. Langkah inovasi dan kreativitas kebijakan, khususnya dengan strategi kemitraan diantaranya melalui program CSR, menurut Anton seringkali menjadi komoditas politik semata sehingga menghambat mitra swasta untuk berpartisipasi maksimal dalam gerak pembangunan. Padahal, sumber utama pembangunan, yakni APBD memiliki keterbatasan, karena itu diperlukan gerak investasi dan mendorong partisipasi swasta dan berbagai pihak lainnya untuk ikut terlibat dalam pembangunan daerah. Kita tidak akan dapat bangkit serta berjaya, apabila itu terus terjadi. Bagi saya, langkah untuk mengatasi hal itu, hanyalah dengan bukti. Kiranya pembangunan tidak akan berjalan apabila hanya disibukkan dengan berbicara semata, harus dikonkritkan,” jelas Anton blak-blakan. (Reportase: Yosa Maulana)
 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)