2012, Tahun Transformasi Feature Phone ke Smartphone

Tahun 2012 merupakan tahun peralihan teknologi ponsel. Begitulah prediksi berbagai pelaku pasar seluler. Feature phone perlahan dan pasti ditinggalkan. Konsumen mulai beralih ke smartphone, jadi entry level di pasar kelas menengah. Tak heran bila kemudian berbagai vendor seluler berbondong-bondong meluncurkan smartphone murah untuk menampung antusiasme entry level ini.

"Persentase feature phone dengan smartphone secara unit sekitar 70 persen dan 30 persen. Feature phone masih lebih banyak. Tapi secara value smarthone lebih besar, 60 persen - 40 persen," ungkap Oky Gunawan, Head of Channel and Brand Activation Sony Mobile Communications Indonesia saat peluncuran Sony Xperia Tipo. Selama ini Sony dikenal sebagai produsen ponsel untuk kalangan menengah atas. Namun melihat pertumbuhan pasar smartphone entry level yang begitu pesat, Sony pun ikut terjun di segmen ini dengan Sony Xperia Tipo.

Berbeda lagi dengan strategi Research In Motion Indonesia. Produsen ponsel yang bermarkas di Kanada ini memang tak punya feature phone. Meski demikian bukan berarti RIM Indonesia tutup mata dengan fenomena entry level. RIM meluncurkan program BlackBerry Terjangkau dimana konsumen bisa membeli semua tipe BlackBerry secara kredit. Program ini bukan promo dengan batas waktu tertentu. RIM bekerja sama dengan beberapa bank dan Adira Kredit untuk merealisasikannya.

"Saya tidak tahu persis perbandingan feature phone dan smartphone. Tapi yang pasti tren feature phone akan turun, beralih ke smartphone," kata Eka Anwar, Head of Marketing BlackBerry Indonesia.

Ketika smartphone belum jadi tren, adalah Samsung yang membaca peluang ini dan berhasil. Vendor asal Korea ini membawa platform Google, Android, ke pasar seluler Indonesia. Samsung memang bukan pemain baru. Namun kejeliannya membaca peluang membuat namanya melambung. Terlebih lagi setelah ia meluncurkan smartphone layar sentuh dengan harga miring sekaligus menyemarakkan histeria K-Pop di Indonesia. Berbagai media massa marak mengabarkan keberhasilan Samsung menyalip Nokia.

Bahkan menurut Djatmiko Wardoyo, Direktur Komukikasi dan Pemasaran PT Erajaya Swasembada Tbk, angka penjualan ponsel Samsung dan BlackBerry terus saling susul. Yang sering terjadi di perusahaan ritel dan distributor ponsel ini Blackberry merajai pasar secara unit namun Samsung lebih unggul dari segi value. Ketika RIM dikabarkan merugi pun fenomena ini masih terus terjadi seperti tak peduli kesehatan produsennya.

"Sekarang penyebaran brand lebih merata. Kenaikan penjualan smartphone juga makin signifikan," tuturnya saat peresmian Erafone Megastore di Medan. Tahun lalu pasar smartphone tumbuh 16 persen sampai 18 persen. Djatmiko memprediksi pertumbuhan smartphone tahun ini di kisaran 28 persen hingga 30 persen.

"Katakan harga smartphone dua jutaan, berarti valuenya empat sampai lima kalinya feature phone. Kalau unitnya sudah tembus 30 persen berarti valuenya hampir menyamai feature phone," lanjut Djatmiko. Menurutnya saat ini komposisi unit smartphone berbanding feature phone 20 persen dan 80 persen. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)