7 Hal Ini Harus Dibangun untuk Meningkatkan Nilai Brand

Bagi yang masih menjalankan bisnis secara tradisional, mungkin masih mengukur nilai brand produknya adalah dari seberapa besar awareness konsumen, lalu kemampuannya mengambil market share dan pengukuran lainnya yang bersifat corporated and consumer oriented.

IMG20150923115500

Padahal, menurut Alistair Speirs, Chsirmsn of The World’s Most Valued Brand (MVB), di masa kini dan ke depan, ukuran-ukuan tadi akan kalah dengan isu lingkungan dan sosial yang menjadi perhatian konsumen, “Sehingga di masa depan brand yang bernilai tinggi adalah yang memperhatikan setiap isu lingkungan dan sosial yang mengikuti produknya dari produksi hingga sampai ke tangan konsumen,” jelas Alistair.

Saat ini sebagian besar pelaku bisnis mengklaim bahawa kepedulian tersebut telah disalurkan melaui berbagai kegiatan CSR mereka, tetapi, kembali menurut Alistair, pemahaman CSR dan praktiknya pun masih banyak yang salah, “CSR bukan bagaimana Anda berbagi dari profit yang didapat perusahaan, tetapi dimulai dari bagaimana Anda menjalankan bisnis untuk mendatangkan profit itu,” ujarnya.

Dia mencontohkan, Apple, perusahaan komputer asal Amerika Serikat itu sengaja tidak membangun atau mendirikan divisi CSR dalam perusahaannya, tetapi setiap timah yang digunakan untuk memproduksi komputernya dipastikan berasal dari pertambangan yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, masyarakat sekitar areal tambang dan seluruh buruh pekerjanya.

Yoris Sebastian,  salah satu anggota The International Brand Council, mengatakan, saat ini penting bagi setiap bisnis untuk mengedepankan transparansi bagi konsumennya, mulai dari awal praktek produksi hingga produk sampai di tangan konsumen. “Karena saat ini informasi sangat cepat sekali beredar akibat dari media sosial, sehingga jika ada salah satu pelanggan Anda yang mengeluhkan kekurangan produk lewat media sosial, maka dalam sekejap keluhan itu akan menjadi perhatian publik,” jelasnya.

MVB memetakan ada tujuh hal yang harus di perhatikan dan terus dibangun perusahaan untuk meningkatkan nilai brandnya. Pertama, perusahaan harus menunjukkan bahwa mereka menghargai komunitas lokal ditempat bisnis mereka beroperasi dan menunjukkan good corporate citizenship.

Kedua, best business practice, sebuah brand harus mampu menunjukkan bahwa mereka memahami dan menjunjung best business practice dalam praktik industrinya, juga berusaha menciptakan kontribusi yang bernilai terkait best business practice.

Ketiga, good employers, sebuah brand yang baik dalah yang berasal dari perusahaan yang menghargai dan menghormati seluruh pekerjanya secara sama rata dan meberikan kesempatan yang sama tanpa melihat gender, ras dan usia. Mereka (perusahaan) juga harus memberikan pelatihan yang baik, manajemen hubungan perusahaan – pekerja yang baik dan jenjang karier yang jelas.

Keempat, safety and security, brand yang baik juga berasal dari bisnis yang memperhatiakn keamanan dan kenyamanan pekerja dan konsumennya, dengan memastikan bahwa dalam setiap aspek bisnisnya dijalankan dengan mengedepankan kedua hal tersebut.

Kelima, customer service dan respect, brand sebaiknya tidak hanya menyediakan layanan kastemer seperti call center, tetapi harus lebih spesifik menangani keluhan konsumen.

Keenam, environmental friendliness, brand harus menunjukkan dengan transparan bahwa dia dihasilkan dari praktik bisnis yang peduli dengan lingkungan, demikian juga dengan pekerja dan seluruh stakeholdernya pun juga harus menunjukkan kepedulian yang sama.

Ketujuh, brand values, sebuah brand harus berdedikasi untuk memelihara etika berbisnis yang baik dan menciptakan kontribusi yang bernilai didalam indutrinya. Misalnya dengan mendorong divisi riset dan teknologinya untuk mengadopsi teknologi terbaru yang ramah lingkungan.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)