Adaptasi Bisnis Klinik Kecantikan

Pandemi telah mengubah cara berbisnis agar tetap berkelanjutan. Termasuk  di industri klinik kecantikan terus melakukan adaptasi dan terobosan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya agar merasa nyaman dan aman dari Covid-19. Bagaimana strategi para pemain bisnis klinik kencatikan ini agar tetap survive?

Mewabahnya Covid-19, pembatasan mobilitas yang lama, dan kepercayaan konsumen yang rendah telah berkontribusi pada turunnya berbagai industri di Indonesia, termasuk industri produk dan klinik kecantikan pada 2020. Data NielsenIQ Indonesia Beauty Report yang dirilis 16 Maret 2021 menyebutkan segmen kecantikan dan riasan mengalami penurunan tajam pada April - 20 Mei 2020, dan mulai pulih setelah 20 Juni 2020.

Pergerakan positif ini dikaitkan dengan dimulainya kembali aktivitas normal di bawah protokol kesehatan yang ketat. Pertumbuhan pemulihan ini diamati sejak 20 Juni 2020 pasca penetapan PSBB yang lebih ketat. Namun, meski sudah mulai pulih, kategori perawatan pribadi secara keseluruhan belum kembali ke tingkat normal.

Hal ini terjadi pada bisnis klinik kecantikan yang juga terdampak akibat pandemi. Namun demikian, para pengelola bisnis klinik kecantikan berupaya mencari solusi dan beradaptasi dengan kondisi yang sedang dihadapi.  Feriani Chung, Chief Marketing Officer PT Zulu Alpha Papa atau ZAP Clinic mengatakan 2020 menjadi tahun penuh pembelajaran dan adaptasi dengan kebiasaan baru. Di awal masa pandemi, terjadi penurunan jumlah klien/pelanggan di klinik kecantikannya hingga 39% karena kebijakan pemerintah yang mengharuskan setiap orang berada di rumah saja.

Dengan total 50 cabang klinik kecantikannya yang tersebar di Indonesia, ZAP sebisa mungkin beradaptasi dan terus berinovasi dalam berupaya untuk tetap dapat menjadi solusi bagi kliennya. Menurut Feriani, agar tetap dapat diterima pasar, ada dua hal yang utama yang dilakukannya agat tetap dapat bertahan. Pertama, mengembangkan pelayanan baru yang dibutuhkan masyarakat. Kedua, mengembangkan kanal digital (e-commerce) untuk terus memastikan kliennya tetap terhubung dengan brand ZAP.

Adapun layanan baru yang dikembangakannya  adalah ZAP Health, lini pelayanan baru yang menyediakan vaksinasi anak dengan menghadirkan dokter spesialis anak hingga pelayanan Obgyn, sehingga membuka pasar baru bagi ZAP sendiri. ZAP Health juga menghadirkan vaksinasi dewasa seperti vaksin flu, pemeriksaan/test Covid-19 hingga perawatan imunitas yang dibutuhakn oleh masyarakat. ZAP Health juga membuka pelayanan untuk korporasi.

Untuk memastikan ZAP tetap dapat menguasai pasar, pihaknya lebih menggencarkan program digital dan juga mengeluarkan paket perawatan khusus dengan harga khusus yang dapat digunakan setelah masa PSBB berlangsung saat itu. “Kami  memasarkan secara online hampir seluruh produk dan layanan perawatan. Surprisingly diterima dengan baik di masyarakat,” katanya.

Beriringan dengan itu, kliniknya juga menggaungkan kampanye besar #NgeZAPAman. Kampanye ini menekankan ZAP menerapkan semua protokol kesehatan selama masa pandemi berlangsung, mulai dari penggunakaan masker mini saat perawatan hingga penerapan disposal bed sheet untuk setiap orang. Kampanye ini efektif untuk meraih kepercayaan kliennya dan terbukti ada feedback positif yang diberikan pada setiap survei guest yang ZAP lakukan.

Bicara strategi promosi yang dilakukan para pemain bisnis kencantikan, Feriani mengatakan, kekuatan ZAP sejak berdiri 2009 adalah mengutamakan basis pemasaran online sebagai kanal utama dan selama pandemi berlangsung, pihaknya belum menemukan kesulitan berarti untuk mempromosikan pelayanan atau produknya.

Dengan berbagai strategi dan terobosan yang dilakukannya, saat ini ZAP dapat bertahan, bahkan pada akhir tahun lalu mengalami pertumbuhan yang signifikan. Misalnya pada pelayanan vaksin flu, ZAP mengalami peningkatan 40% selama masa pandemi.

Selain ZAP, klink kecantikan yang agresif menggarap pasar di tengah pandemi ini adalah MS Glow. MS Glow brand produk kecantikan lokal yang berdiri sejak 2013 yang turut meramaikan dunia skincare dan body treatment. Selain menjual produk kencantikan yang dipasarkan oleh ribuan agen dan distributor hampir tersebar merata di seluruh Indonesia, MS Glow juga memiliki 11 klinik kecantikan. Mereka menyebut kliniknya dengan nama MS Glow Aesthetic Clinic yang tersebar di berbagai kota di Indonesia di antaranya di Malang, Surabaya, Bandung, Bali, Jakarta (Bintaro), Kemang (Bekasi), Makassar, Sidoarjo, dan terakhir Medan yang baru saja diresmikan.

“MS Glow terus berinovasi. Selain menjual produk, kami juga membuka klinik kecantikan sehingga masyarakat bisa membeli produk kami baik online maupun offline,” ujar Shandy Purnamasari, Pendiri MS Glow. Selain itu, MS Glow juga memiliki pabrik sendiri, baik untuk produk maupun kemasannya.

Dalam menghadapi kondisi pandemi yang terjadi sejak tahun lalu hingga saat ini, MS Glow selalu adaptif dan terus mencari berbagai terobosan untuk menghadapinya. Di masa pandemi, MS Glow juga terus berupaya meningkatkan brand awareness melalui digital marketing. Hal ini karena kalau hanya mengandalkan jalur offline, para pelanggannya tidak bisa datang ke offline store atau klinik kecantikannya. “Jadi offline dan online harus saling melengkapi untuk meningkatkan penjualan,” ungkap Sandy.

Istijanto, pengamat pemasaran dari Univesitas Prasetiya Mulya memandang di tengah pandemi Covid-19, secara umum bisnis-bisnis harus memindahkan seluruh atau sebagian operasionalnya ke online. Meskipun ada beberapa kendala di bisnis kecantikan namun tetap ada peluang. “Beberapa pemain baru lokal justru menemukan cara-cara yang cocok dengan konsumen yang juga berpindah online,” ujar Isijanto.

Dede Suryadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)