Begini Cara Kalbe Menyiasati Depresiasi Rupiah

Vidjongtius, Director - Corporate Secretary PT Kalbe Farma Tbk ., menjelasan, kondisi ekonomi makro saat ini cukup berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang mulai menurun, Hal tersebut berdampak pada bisnis Kalbe yang menurun. Tepatnya setelah kuartal pertama 2015, pihak manajemen mulai kurang optimis dalam mencapai target kinerja sepanjang tahun 2015 ini.

Kalbe-Farma

Namun demikian, ia tidak menganggap pelemahan ekonomi saat ini sebagai sebuah tantangan tersendiri dalam meningkatkan daya saing Kalbe di ranah domestik dan global. “Lewat kuartal II tahun 2015,  di mana  ada bulan Ramadhan dan Lebaran, kondisi mulai membaik dari bulan-bulan sebelumnya,” ungkap Vidjongtius, di depan awak media di Jakarta (7/7).

Di kuartal II tahun 2015, diakuinya, pertumbuhan farmasi cukup positif, berkisar antara 7-9%. Manajemen berharap tren di kuartal ke 2 yang cukup baik itu dapat berlanjut di kuartal ke 3 dan 4. Guna mempertahankan dan mengembangkan bisnis Kalbe. Untuk itu, pihaknya telah melakukan banyak strategi bisnis, di antaranya melakukan sinergi dengan pemerintah.

Tidak hanya berhenti di situ, pria yang bergabung dengan Kalbe sejak tahun 1990 itu, juga mulai meningkatkan strategi pasar, teritori, distribusi dan mengeluarkan produk-produk baru. Salah satunya adalah produk suplemen H2 Health & Happines. Ia juga optimis di segmen suplemen masih punya pasar yang baik dan bisa meningkatkan pertumbuhan bisnis yang baik.

“Kami juga akan meningkatkan sektor distribusi. Rencananya setiap tahun akan ada penambahan 2-3 cabang baru. Salah satunya di Banyuwangi, Kendari, Lhokseumawe dan beberapa kota lain yang masih dalam tahap perencanaan,” jelas sarjana dari Universitas Trisakti tahun 1985 itu.

Bicara investasi, ia menjelaskan dari jumlah capex di tahun 2015 sebanyak Rp 1-1,3 trilun. Karena berbagai macam kendala, diperkiran dana yang akan keluar sebanyak Rp 900 miliar sampai Rp 1 triliun sampai akhir 2015.

Guna mempertahankan kualitas, Kalbe berencana membuka pabrik biotechnologi baru dengan investasi sebesar US$ 25-30 juta. Pabrik tersebut direncanakan mulai aktif dikerjakan pembangunannya di bulan Agustus dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2018.

“Nilai capex  akan turun bertahap selama dua tahun, proses pembangungnnya kurang lebih selama dua tahun dan proses sertifikasi selama 1 tahun. Jadi mudah-mudahan tahun 2018 sudah siap beroperasi,” ungkap Vidjongtius. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)