Begini Lho, Cara Menggarap Konsumen Generasi Milenial

Generasi Milenial asik dengan gadget mereka Generasi Milenial asik dengan gadget mereka

Tidak dipungkiri,  generasi milenial saat ini merupakan para generasi produktif yang memenuhi porsi 40 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1990-2000. Tahun 2020 generasi ini, menurut Yoris Sebastian dari OMG Consulting, angkanya akan melonjak menjadi 50-60 persen. Dan, pada saat itu, mereka yang menguasai posisi level awal dan menengah perusahaan.

Artinya, ini merupakan pasar potensial bagi pemasar. Untuk itu, sangat penting bagi pemasar bagaimana perilaku generasi milenial dalam berbelanja dan memilih merek tertentu. Disampaikan Anton Wirjono, Pendiri Brightspot Market dan The Goods Dept. generasi ini sangat berlimpah informasi. Sejak lahir mereka ini sudah melek dunia digital. Maka tidak heran merekalah pengguna terbesar media sosial.

Berdasarkan data yang didapat dari obrolan di Twitter yang dilakukan Provetic, rentang usia 20 – 24 tahun menjadi usia user terbesar (45%) dari total responden sebanyak 4670 akun, mendapati bahwa Top Wish List kalangan milenial ini merupakan perilaku konsumtif untuk belanja, traveling, membeli tiket konser dan film yang menjadi prioritas.

Dalam acara Forum Ngobras yang diadakan di Trafique Coffee itu, Anton yang juga dikenal sebagai disc jockey (DJ) terkenal hingga negara-negara ASEAN ini, mengingatkan, generasi ini tidak bisa dibohongi, tidak suka hal-hal yang fake atau palsu. “Mereka sejak lahir sudah banjir informasi, jadi sulit dibohongi. Pemasar harus berhati-hati, informasi sebuah produk itu mudah mereka dapatkan,” ungkapnya.

Ivan Sudjana M.Psi., Dosen Fakultas Psikologi UI, menyoroti generasi milenial yang sangat konsumtif tidak bisa dipisahkan dari kemudahan mereka untuk berbelanja. Misalnya, sistem kredit yang jauh lebih mudah, dan maraknya belanja secara online.

“Mereka ini suka makan di kafe, diekpresikan ke media sosial terutama instagram. Perilaku ini semakin menambah tingkat konsumsinya. Bahkan ada yang sampai di luar kemampuannya. Semakin terbatas atau limited edition barangnya, maka akan semakin bergaya jika di-upload ke media sosial,” Anton menambahkan.

Karena itu, Anton menyarankan, story telling adalah strategi yang tepat untuk menggarap generasi ini. Bahkan,  merek atau produk lama bukan penghalang. Sebab,  dengan story telling terutama melalui media sosial, justru buat mereka jadi keunikan tersendiri. Anton menyebutkan, belum lama ini tren mangkok gambar ayam yang biasa digunakan pedagang bakso jaman dulu. Tren itu tersebar karena story telling mangkok tersebut. Contoh lain, kaleng Kong Guan yang meme gambar keluar di kalengnya berseliweran dengan berbagai versi. “Semua itu dibuat oleh para generasi milenial,” ujarnya sambil tersenyum.

Generasi milenial, menurut Anton, juga sangat mengandalkan referensi teman dan apa yang dia baca di media sosial atau internet. “Kami di The Good Dept. tidak bisa hanya menyampaikan searah informasi sebuah produk, tapi kami juga harus mendengar apa yang mereka tahu tentang produk yang kami jual. Jadi harus dua arah,” jelasnya. Dan, mereka ini saat ini penentu pembelian. Anton bercerita, kini banyak orang tua dari generasi milenial di The Good Dept. kini menjadi pelanggan juga. “Mereka akhirnya beli produk kami juga atas ajakan anak-anaknya,” ujar Anton lagi.

Dan yang menarik, generasi milenial ini sangat easy come, easy go, terutama dalam hal saving (menabung). Berbeda dengan generasi X atau generasi sebelumnya yang menabung untuk jaga-jaga di masa depan atau uang disimpan untuk cadangan saat tidak terduga, generasi milenial menabung untuk keperluan yang sudah pasti. Jadi, menabungnya lebih bersifat jangka pendek. Mereka lebih mudah membelanjakan uang tabungan dan cenderung tidak siap untuk tabungan masa depan. Perilaku konsumtif generasi milenial, terkadang menimbulkan gesekan dengan orangtuanya. “Tetapi positifnya mereka tahu apa yang mereka mau, dan berusaha keras mewujudkannya. Memang agak susah menggeser persepsi generasi milenial ini, karena mereka berpikir uang mudah dicari,” tutur Ivan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)