Berebut Pasar Pelancong Milenial yang Seksi

Millenial travelers

M illenial travelers kini menjadi incaran pelaku industri pariwisata. Jumlah mereka yang sangat besar memang merupakan potensi pasar yang begitu menjanjikan. Mereka pun akan menjadi tumpuan bagi industri di masa depan.

Kementerian Pariwisata menargetkan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2019 sebanyak 20 juta orang. Jika itu terwujud, sektor pariwisata diproyeksikan mampu menjadi penyumbang devisa terbesar di Indonesia, yaitu sekitar US$ 20 juta. Menteri Pariwisata Arief Yahya pernah mengemukakan, devisa yang masuk dari sektor pariwisata ini langsung dirasakan oleh seluruh masyarakat. Sebab, bidang usaha yang terkait dengan sektor pariwisata ini sangat luas, seperti bisnis penerbangan, akomodasi (perhotelan, resor, hingga homestay), restoran dan kafe, transportasi darat, kerajinan cenderamata, biro perjalanan baik yang offline maupun online, serta toko oleh-oleh.

Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Pariwisata menaruh harapan besar pada travelers milenial. Maklum, kelompok pelancong ini menyumbang hingga 51% inbound travelers. Artinya, dari target 20 juta wisman di tahun 2019, setidaknya 10 juta merupakan kaum milenial mancanegara. Menurut Arief, wisatawan milenial memiliki power. Pasalnya, mereka “besar dan berisik”, tetapi belum dilayani dengan baik. Inilah yang akan dilakukan Kemenpar: memfasilitasi ketersediaan pariwisata terbaik bagi kaum milenial. Sebab, mereka bisa mempromosikan pariwisata dengan cara mengunggah foto destinasi yang dikunjungi. Dalam waktu yang sama, mereka juga bisa membangun ekosistem pariwisata.

Sesungguhnya, tak hanya milenial dari mancanegara yang merupakan pasar potensial bagi industri pariwisata di Tanah Air. Dengan mengutip data Biro Pusat Statistik, menurut Terry Santoso, Kepala Pemasaran Traveloka Xperience, jika merujuk pada kriteria Asian Development Bank, jumlah kelas menengah di Indonesia saat ini mencapai 134 juta jiwa. Dan, mereka yang berusia 20-34 tahun yang disebut sebagai kelompok milenial, di tahun 2019 jumlahnya diproyeksikan mencapai 23,77% dari total populasi Indonesia yang sebesar 268 juta jiwa. Artinya, hampir seperempat penduduk di Indonesia adalah kelompok milenial. Maka, kata Terry, melihat jumlah kelompok milenial yang sangat tinggi dalam masyarakat Indonesia, didukung dengan kelas menengah yang terus tumbuh dan perkembangan teknologi informasi yang kian canggih, tidak berlebihan kiranya untuk menyebut bahwa masa depan leisure economy di Indonesia sangat menjanjikan.

Gabriella Patricia Mandolang, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Millenial Tourism, Kementerian Pariwisata, mengungkapkan, travelers milenial menjadi perhatian utama Kemenpar saat ini. Maka, Kemenpar, menurut Gaby --panggilan akrab Grabriella-- mempunyai sejumlah program. Di antaranya, program hot deals dalam bentuk paket-paket wisata yang promosinya menggunakan digital untuk wisman yang ada di cross border (daerah perbatasan). “Selain itu, program kami salah satunya fokus pada advertising, yaitu pada strategi branding dan selling yang sudah ada. Jadi, kami mengemas pariwisata dengan millenial packaging,” katanya.

Milenial itu tumbuh di era digital. Banyaknya kunjungan wisatawan milenial secara tidak langsung sudah membantu promosi wisata yang terdistribusi secara organik melalui konten pariwisata yang mereka unggah di media sosial. “Kami berharap, hal tersebut bisa terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau Nusantara milenial,” ujar Gaby. Memang, lanjutnya, karakteristik travelers milenial di setiap negara berbeda-beda, tetapi secara umum mereka adalah generasi yang sangat digital dan personal. “Sekitar 70% mereka menggunakan search dan share-nya melalui digital. Milenial ini segmen yang paling penting karena bukan hanya ukurannya besar dan tumbuh, tapi juga influencing power mereka. Dan, sudah dipastikan bahwa kaum milenial merupakan pasar yang menjanjikan untuk pariwasata Indonesia,” Gaby menerangkan.

Pelaku bisnis yang terkait dengan industri pariwisata tentu saja tak menyia-nyiapakan peluang yang menggiurkan tersebut. Sebut saja, Citilink. Sebagaimana dituturkan Resty Kusandarina, VP Sekretaris Korporat & CSR PT Citilink Indonesia, travelers milenial tentu sangat relevan dengan Citilink, yang dari awal kemunculannya memang diarahkan untuk menyasar pasar yang lebih muda. “Young, Fun, and Dynamic“ pun menjadi arah kampanye perusahaan dalam menarik pasar anak muda ini. Menurut Resty, dari 11 juta penumpang Citilink, kurang-lebih 65%-nya berusia di bawah 40 tahun, yang merupakan range usia milenial. “Dan dalam lima tahun terakhir, trennya cukup stabil karena memang Citilink berada di segmen ini sedari awal,” ujarnya.

Dalam menggarap pasar travellers milenial, Citilink berkomitmen untuk selalu menjadi maskapai yang hassle free, dengan berbagai kemudahan, terutama melalui layanan digital. Ke depan, perusahaan penerbangan yang merupakan anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. ini akan memperbarui beberapa platform digital, seperti e-boarding pass, mobile app, serta website agar lebih mudah, lebih cepat, dan user friendly. Juga, mengembangkan super app yang akan menjadi one stop shopping atau Citilink digital experience: hanya dengan satu aplikasi, Citilinkers mendapatkan tiket, paket hotel, pulsa, serta semua hiburan. “Kami juga akan memperluas program Jelajah Langit Citilink hingga ke mancanegara,” tambahnya.


Menggarap pasar travelers milenial yang menggiurkan itu pun menjadi fokus Pegipegi.com. Serlina Wijaya, CMO Pegipegi.com, pun menegaskan, sejak berdiri dan beberapa waktu terakhir, perkembangan, solusi, dan produk yang ditawarkan pihaknya memang untuk menyasar pasar milenial. Angka terakhir dari hasil riset internal, menurut Serlina, ada 40-50% konsumen Pegipegi yang berada di rentang usia milenial. “Industri ini masih sangat menjanjikan, data dari Indonesia dan global menunjukkan bahwa industri ini akan tetap growing hingga belasan tahun ke depan. Sementara, tren dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan Pegipegi mencapai 2-3 kali lipat setiap tahun. Pertumbuhan ini lebih cepat daripada rata-rata market di Indonesia,” ia menerangkan.

Segmen milenial, lanjut Serlina, membutuhkan destinasi yang keren, sehingga mereka bisa berbagi momen bahagia mereka di medsos. Berdasarkan intensitas itu, Pegipegi membuat fitur khusus dan unik untuk mereka. Pertama, harga dan diskon yang sangat kompetitif. Setiap hari Pegipegi selalu memiliki promo. Kedua, karena kaum milenial ini menginginkan kecepatan, Pegipegi mencoba memberikan sejumlah fitur untuk meyakinkan mereka tentang hal tersebut, seperti pay later, online reschedule, online refund, dan online checking. “Itu merupakan komitmen kami dalam menargetkan milenial dalam hal consumer service,” Serlina menandaskan.

Selain itu, Pegipegi juga memiliki travel tips yang membahas tentang rekomendasi tempat travel, destinasi wisata, serta rekomendasi tanggal terbaik untuk traveling. Dari sisi akomodasi, agen perjalanan online ini akan meluncurkan fitur terbaru, seperti fitur akomodasi favorit, yakni rekomendasi dari kalangan milenial sendiri yang disortir dengan menggunakan algoritma internalnya. Tak ketinggalan, Pegipegi juga memberikan rekomendasi hotel sesuai dengan bujet mereka.

Sementara itu, Traveloka memperkenalkan teknologi yang dapat membantu dan mempermudah kegiatan sehari-hari milenial. Bulan lalu, misalnya, menurut Terry, Traveloka meluncurkan Traveloka Xperience sebagai wajah baru produk Aktivitas dan Rekreasi. Traveloka Xperience menyediakan 12 kategori produk, meliputi atraksi, bioskop, event, hiburan, spa & kecantikan, olahraga, taman bermain, transportasi lokal, tur, pelengkap travel, makanan & minuman, serta kursus & workshop.

Traveloka Xperience juga menawarkan ribuan pilihan pengalaman di seluruh dunia yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna situs agen perjalanan online ini, yang didukung dengan berbagai pilihan metode pembayaran yang beragam, proses pemesanan yang cepat dan praktis, dengan layanan 24/7, serta dilengkapi dengan enam pilihan bahasa untuk semakin memudahkan pengguna, terlebih kaum milenial yang cenderung lebih menyukai hal yang simpel dan menguasai teknologi (tech-savvy).

Traveloka Xperience menyediakan pula beragam inventori terbaik untuk pilihan aktivitas liburan dan gaya hidup di dalam ataupun luar negeri. Sehingga, pengguna dapat merasakan beragam pengalaman seru saat liburan atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Betul bahwa kalangan milenial mempunyai anggaran yang terbatas untuk berwisata. Namun, hal itu bukan menjadi hambatan untuk menggarap pasar travelers milenial. Airy Nest Indonesia (Airyrooms), misalnya, sebagai Accomodation Network Orchestrator, menyediakan pilihan akomodasi yang terjangkau tanpa mengorbankan kenyamanan bagi wisatawan milenial Indonesia. “Sesuai dengan visi kami, kami ingin traveler dapat bepergian dengan bujet yang nyaman di kantong, di mana kami memiliki produk-produk yang menyasar segmen ultra budget (< 250 ribu) dan bujet (250-500 ribu) yang kami bagi kembali sesuai dengan fasilitas yang tersedia,” kata Ika Paramita, VP Pemasaran Airyrooms, menjelaskan.

Ika menambahkan, berdasarkan data Airy, 91% pertimbangan utama milenial dalam memilih akomodasi adalah harga sewa kamar per malam, diikuti lokasi (71%), kebersihan kamar (59%), kenyamanan tempat tidur (48%), serta kebersihan dan kelengkapan kamar mandi (43%).

Untuk menarik minat milenial, saat ini Airy menghadirkan kampanye #IniWaktumu. “Melalui kampanye ini, kami ingin menyampaikan pesan kepada milenial untuk dapat menikmati momen berlibur, kapan pun, di mana pun, tanpa perlu khawatir soal biaya akomodasi yang tinggi. #IniWaktumu untuk menjelajah dan merangkai cerita menarik melaui berbagai perjalanan,” kata Ika. Airy juga menawarkan sejumlah promosi menarik, termasuk bekerjasama dengan berbagai bank di Indonesia dalam menghadirkan kemudahan dan harga khusus saat memesan melalui platform Airy.

Masih di amenitas, PT Bobobox Mita Indonesia, penggelola hotel bujet, pun tak mau ketinggalan untuk menggarap pasar milenial. Ahmad Qois, Manajer Merek dan co-founder Bobobox, mengungkapkan bahwa hotelnya memiliki program khusus untuk menarik pelanggan dari kalangan milenial melalui promo/kampanye tertentu. “Campaign yang kami lakukan biasanya berhubungan dengan experience & interest dari travelers. Untuk itu, Bobobox selalu memiliki program khusus. Tak hanya promo, namun juga aktivasi lainnya yang biasanya kami lakukan ketika travelers stay di Bobobox,” Ahmad menjelaskan.

Salah satunya yang pernah dibuat adalah coffee to pods dengan melibatkan local coffee shops, yaitu tamu yang menginap di Bobobox mendapatkan free vouchers untuk lima coffee shops. Tujuannya, memaksimalkan value traveling mereka. Selain itu, Bobobox juga bekerjasama dengan Go-Food, memberikan kepada tamu yang menginap free voucher Rp 20 ribu untuk mengorder makanan lokal melalui aplikasi Go-Jek. Guna menyesuaikan dengan anggaran travelers milenial, Bobobox memiliki value yang affordable price, sehingga rate per malam yang ditawarkannya sesuai dengan kantong milenial yang ingin menghemat anggaran ketika traveling.

Pertumbuhan travelers milenial juga dinikmati pelaku usaha co-working space. Faye Alund, CEO & co-founder Kumpul Co-Working Space dan Presiden Asosiasi Co-Working Indonesia, bercerita, memang ada orang-orang yang pekerjaannya dari awal menunjang mereka untuk traveling. Contohnya, blogger, Vlogger, desainer grafis, web designer, atau penulis. Mereka butuh traveling agar mendapatkan insight untuk pekerjaan mereka. Mereka harus bertemu dengan komunitas setempat untuk bertukar pikiran dan sebagainya. “Orang-orang ini kami sebut ‘digital nomads’. Kalau saya lebih suka menyebutnya ‘tourist with laptopMereka memang turis, tapi turis yang tujuan utamanya adalah bekerja. Biasanya kalau di Bali sendiri, digital momads menghabiskan waktu mingguan hingga berbulan-bulan,” kata Faye.

Biasanya, ia menambahkan, mereka sangat senang nongkrong di co-working space. Pertama, karena ada fasilitas internet, dan mereka selalu butuh internet dengan jaringan yang bagus. Kedua, karena di co-working space ada kemungkinan mereka dipertemukan dengan komunitas setempat yang bisa menunjang pekerjaan mereka. Menurutnya, kontribusi digital nomads untuk pariwisata bisa dibilang baik, tetapi saat ini masih terpusat di Bali. Belum semua pusat pariwisata di Indonesia bisa mengover kebutuhan mereka. Sebab, digital nomads selalu ada kaitannya dengan fasilitas yang memadai. Hanya saja, Faye menggarisbawahi, target pasar co-working space sebenarnya bukan digital nomads. “Kami lebih suka menjadi inkubator yang mendorong lahirnya kreativitas dari komunitas lokal. Jadi, fokus kami lebih ke komunitas lokal,” tuturnya.

Ke depan, pasar travelers milenial diprediksi semakin menjanjikan. United Nations-Department of Economics and Social Affairs (UN-DESA) memprediksi pada 2030 penduduk yang berusia 15-35 tahun di Indonesia sebanyak 82 juta jiwa, dan di China sebanyak 333 juta jiwa. Tentunya, itu merupakan pasar potensial bagi industri pariwisata dan industri pendukungnya.

Menurut Arief Yahya, ada tiga hal yang perlu diadakan untuk menarik kunjungan wisatawan milenial, yakni TVC milenial, destinasi milenial, serta event milenial. Ketiganya harus memenuhi kebutuhan kaum milenial, yakni kebutuhan untuk diakui di medsos. “Kaum milenial sebaiknya diberi kebebasan untuk menentukan sendiri konten publikasi, destinasi, dan event yang ingin mereka kunjungi,” kata mantan Dirut Telkom ini. (*)

Resportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati, Arie Liliyah, Jeihan Kahfi Barlian, Nisrina Salma, dan Sri Niken Handayani/Riset: Elsi Asnimar

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)