Berkonsep Dapur, Kepiting Nyinyir Bikin Tajir

Gilang Margi Nugroho dan Rachman Abdul Rachim, pendiri Kepiting Nyinyir

Dapur Kepiting Nyinyir di Jalan Yudistira, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, senantiasa dipenuhi mitra pengemudi (driver) Go-Jek. Pengemudi ojek online yang berjaket hijau ini bukan melepas lelah. Mereka menunggu makanan olahan Kepiting Nyinyir yang dipesan pembeli di Go-Food, layanan pesan-antar makanan yang tersedia di aplikasi Go-Jek. Bangku panjang berwarna cokelat di lokasi ini menjadi tempat favorit pengemudi Go-Jek untuk menunggu pemesanan. Di area dapur, para juru masak meracik rempah-rempah, kepiting, cumi, udang kerang hijau, atau jagung untuk disuguhkan dalam satu paket menu yang dipesan pembeli di Go-Food.

Kepiting Nyinyir ini tidak menyediakan jasa makan di tempat. Maklum, konsep restoran makanan laut ini hanya menyediakan pemesanan take away. Gilang Margi Nugroho dan Rachman Abdul Rachim, pendiri Kepiting Nyinyir, mengonsep pemasaran dan promosi Kepiting Nyinyir di media sosial dan tidak memiliki gerai yang menyedot biaya. “Kami hanya memiliki dapur, makanan kami dikenal konsumen dengan konsep seperti ini,” ujar Gilang. Dapur di Duren Sawit itu merupakan rumah kontrakan yang dijadikan tempat produksi Kepiting Nyinyir.

Ide berjualan makanan ini, menurut Gilang, tebersit tatkala melakukan riset kecil-kecilan mengenai unggahan yang paling populer dan traffic-nya tinggi di media sosial. Dia menyimpulkan, makanan laut dan daging olahan banyak diunggah oleh para blogger dan vlogger. Lantas, Gilang memutuskan untuk merintis bisnis makanan laut, yaitu kepiting.

Di tahun 2016, dia mengajak Rachman, sahabat yang dikenal sejak duduk di bangku SMP, untuk berpatungan memodali usaha ini. Mereka menguras rekening tabungan masing-masing dan modal senilai Rp 3 juta terkumpul untuk mengawali langkah sebagai pengusaha kuliner. Sebagian besar modal itu digunakan untuk membuat 30 porsi yang disuguhkan kepada 30 sahabatnya yang aktif di medsos. Mereka diundang Gilang dan Rachman untuk mencicipi masakan kepiting serta mengunggahnya di akun medsos masing-masing. Taktik ini berhasil lantaran kedua sahabat ini kebanjiran pemesanan pasca-unggahan tersebut. Dalam dua hari, bisnis mereka sudah balik modal dan pemesanan mengalir di hari-hari berikutnya.

Mereka semakin percaya diri untuk menekuni usaha ini. Kepiting Nyinyir mulai beroperasi pada 22 Oktober 2016. Mereka mempekerjakan tiga orang. Di fase awal, Kepiting Nyinyir mempromosikan menunya di Instagram. Diferensiasi menu Kepiting Nyinyir diklaim unik karena paket menunya menggabungkan kepiting, kerang hijau, cumi, jagung, atau udang ke dalam satu paket. Lima pengemudi ojek pangkalan diajak bekerjasama sebagai kurir pengantar makanan ke konsumen. “Saat itu, kami ikut memasak dan order lewat WhatsApp. Waktu itu, belum ada makanan olahan kepiting dengan konsep yang dijual secara online. Kami adalah yang pertama. Saat itu, konsep kompetitor berbeda karena ada tempat makannya,” tutur Gilang.

Keterbatasan modal tidak menghambat kreativitas menjaring pembeli. Mereka mengubah perilaku konsumen untuk memesan makanan di platform digital. Yang penting, kata Gilang, makanan tiba di lokasi konsumen tanpa mereka bersusah payah menembus kemacetan di jalanan Jakarta, mengantre, atau waiting list. “Ini kesempatan yang kami ambil agar mendapat konsumen,” ujar kelahiran Semarang,19 Oktober 1989, ini.

Laju bisnis mereka kian mulus. Sebab, pembeli yang memesan Kepiting Nyinyir terus bertambah dari hari ke hari. Gilang dan Rachman kewalahan untuk mengirimkan paket makanan ke pembeli. Demi memuaskan konsumen, mereka beralih ke layanan Go-Send. Alhasil, jumlah pemesanan Kepiting Nyinyir di Go-Send sangat tinggi. Hal ini memantik manajemen Go-Jek memasukkan Kepiting Nyinyir di kategori mitra resto Go-Food. Pada Januari 2017, Kepiting Nyinyir tercantum sebagai mitra merchant di Go-Food hingga detik ini.

Setahun berikutnya, mereka menambah dapur Kepiting Nyinyir yang dibuka di Bintaro, Tangerang Selatan. Tak lama kemudian, mereka membuka dapur di Kemanggisan, Jakarta Barat, sehingga jumlah dapur bertambah tiga unit. Mereka membuka lapangan pekerjaan untuk 48 orang dan sekitar 80% dari jumlah karyawannya itu adalah ibu rumah tangga yang berdomisili di sekitar tiga dapur itu. Kapasitas produksi mencapai 300-450 paket di hari kerja dan 600 paket di akhir pekan. Harga menu berkisar Rp 75 ribu-345 ribu per paket. Makanan kepiting dikemas dalam paket starter kit yang juga menyediakan celemek.

Untuk menambah kanal penjualan, Kepiting Nyinyir pada pertengahan 2018 menjalin kemitraan sebagai mitra merchant Grab Food. Adapun porsi penjualan di Go-Food dan Grab Food sebesar 70% dari total penjualan, via WhatsApp dan take away 15%, serta Shopee 15%. Dalam sebulan, penjualan total Kepiting Nyinyir mencapai Rp 1,8 miliar-2,1 miliar. “Biasanya, rata-rata omset Rp 600 juta-700 juta per bulan di setiap dapur,” ungkap Gilang. Apabila merujuk omset yang disampaikan Gilang itu, total omset Kepiting Nyinyir dari penjualan di ketiga dapur itu berkisar Rp 21,6 miliar hingga Rp 25,2 miliar per tahun. Gilang dan Rachman pun makin tajir.

Untuk menjaga kualitas pengiriman makanan oleh ojek online, Gilang memberikan bonus paket makanan kepada driver ojek online yang mengambil pemesanan sebanyak lima kali dalam sehari. Bonus dalam bentuk lainnya diberikan oleh pendiri Kepiting Nyinyir yang setiap tahun mengapresiasi pencapaian ojek online, misalnya membagikan sarung di tahun 2017, 50 pasang sepatu (2018), dan tamasya ke Dunia Fantasi Ancol di Januari 2019. “Ini bagian dari program CSR kami, mengajak 10 driver Go-Jek dan keluarganya berwisata ke Dunia Fantasi,” ungkap Gilang.

Untuk pengembangan bisnis, Kepiting Nyinyir tahun ini berencana mendirikan entitas bisnis berupa perseroan terbatas, membuka dapur di Bekasi, Jawa Barat, dan membuka titik pengambilan (pickup spot) yang bekerjasama dengan ibu-ibu rumah tangga. Skema kerjasama pickup spot hanya membutuhkan 4-5 orang, untuk memasak dua orang, seorang kurir untuk mengambil bahan baku, dan petugas kasir. “Kami akan menambah titik-titik di daerah lain. Mitra ibu-ibu ini tidak perlu keluar uang, hanya modal alat masak. Sistem kerjasamanya mirip reseller,” Gilang menjelaskan. Anda berminat? (*)

Nisrina Salma & Vicky Rachman; Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)