Bisnis Layar Kaca Meredup, Ini Tandanya

Industri televisi swasta di Indonesia punya banyak pekerjaan rumah. Banyaknya pemain membuat para bos TV mesti jeli meracik strategi untuk mendulang pendapatan iklan. Pesatnya perkembangan digital juga harus menjadi perhatian. Generasi milenial sudah mulai tidak menonton TV.

“Mereka memilih melihat hp, tablet, komputer, karena pilihannya lebih banyak. Mau cari berita bisa di detik, kompas, viva, 24 jam lagi. News channel kalah cepat dengan di media sosial,” kata Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Ishadi SK.

Bayang-bayang kelabu usai reformasi, lanjut dia, bisa terulang. Kehadiran 5 stasiun TV swasta baru menambah sengit persaingan di industri televisi swasta. Para pemilik pun terpaksa melakukan konsolidasi di 2006.

Kini, hanya ada 5 kelompok besar pemilik meski jumlah stasiun TV tetap 10, yakni MNC Group (MNC, RCTI, Global TV), Emtek Group (SCTV dan Indosiar), Viva Group ( ANTV dan TV One), Trans Media (Trans TV, Trans 7), Metro TV. “Ramalan saya, ke depannya akan konsolidasi lagi hingga akhirnya hanya ada 3 grup. Inilah yang ideal,” terangnya.

Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Ishadi SK.

Dia menjelaskan, kehadiran media sosial harus menjadi perhatian utama karena mampu memberi layanan untuk berita maupun hiburan lebih bagus dan tidak terbatas. Lain halnya dengan TV kabel yang harus berlangganan dan film-filmnya pun pilihan.

Dengan mengakses netflix, penonton memiliki pilihan lebih banyak untuk menikmati layanan streaming film dan serial TV favorit. Ini belum termasuk film-film yang bisa dinikmati lewat YouTube. Anak-anak yang usianya di bawah 15 tahun tidak lagi menonton TV.

“Ibu-ibu juga mulai berkurang menonton TV karena asyik dengan media sosial seperti WA, Facebook, Instagram, YouTube, dan lainnya. Persaingan di FTA juga maskin ketat. Sekarang ada 10 TV nasional, 8 TV berjaringan, dan TV digital lebih dari 100,” papar dia.

Jika tidak disikapi dengan bijak, Ishadi khawatir industri penyiaran menjadi tidak sehat. Belanja iklan akan terbagi-bagi seiring banyaknya pemain. Kompetisi harga kian tajam karena banyak stasiun TV berebut iklan.

Penurunan pendapatan iklan akan memaksa stasiun TV meningkatkan efisiensi biaya.Imbasnya adalah penurunan kualitas program siaran. Kemudian, pembelian konten lokal juga akan menurun karena lisensi program impor akan lebih menarik.

“Contoh, rata-rata harga sinetron hingga ratusan juta per episode. Bandingkan dengan lisensi serial asing kurang lebih Rp 50 juta per episode. Ini akan berimbas pada para pelaku produksi konten lokal,” katanya. (Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)