Bisnis Sosial Dreamdelion Tingkatkan Pendapatan Masyarakat Sumberarum

Dreamdelion berhasil menyabet juara I dalam sebuah kompetisi bisnis sosial tingkat nasional beberapa waktu lalu di Jakarta. Tak sia-sia lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu datang jauh-jauh dari Yogyakarta, sebuah penghargaan dan sejumlah hadiah berhasil mereka bawa pulang. Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Fitriani Kembar Puspitasari, Evaulina Nindya Kirana, Amanda Rachmaniar, Elsa Sabrina dan Hanif dalam bisnis sosial Dreamdelion? Berikut hasil wawancara reporter SWA Arie Liliyah dengan Dreamdelion :

Bagaimana awal mula ide mendirikan bisnis sosial Dreamdelion ini ?

Jadi mulanya saya mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh himpunan mahasiswa jurusan saya yang diadakan di desa Sumberarum - Yogyakarta itu. Saya dan teman-teman di jurusan mengajar anak-anak disana. Tetapi selama mengajar, kami melihat ada isu sosial ekonomi disana, khususnya para ibu tangga yang punya pekerjaan sampingan sebagai penenun stagen. Stagen itu lazim dipakai oleh wanita di Jawa, dengan tujuan untuk estetika bebusana kebaya, tetapi stagen yang mereka buat berwarna hitam polos dan dihargai sangat murah sekali, hanya Rp 18 ribu per 10 meter, tapi bersihnya mereka hanya dapat Rp 8 ribu per 10 meter.

Padahal menenun itu sudah menjadi kebiasaan turun temurun ibu-ibu di desa itu. Akhirnya kami melihat hal itu, maka kami berpikir bagaimana caraya agar produk tenunnya bisa bertambah nilai jualnya. Maka kami sarankan bagaimana kalau mereka membuat stagen dengan motif lurik yang berwarna-warni, yang merupakan khas Yogyakarta juga sebenarnya.

IMG20150819162036

Dari bahan stagen yang sudah menjadi berwarna-warni itu kami kemudian melihat ada tantangan lainnya lagi, karena ternyata pasar stagen tradisional itu sudah tergeser dengan stagen dari luar yang cara pakainya jauh lebih praktis. Nah, akhirnya kami putar otak lagi, bagaimana caranya agar stagen ini bisa tetap ada pasarnya. Maka kami mengubahnya menjadi produk kerajinan tangan.

Jadi produknya apa saja yang dihasilkan dari stagen warna-warni itu ?

Produk kami ada tas laptop, pouch, backpack, sepatu, kaos, dll.

Kisaran harganya berapa produk-produk tersebut?

Produknya kami bagi menjadi dua kategori, pertama produk kategori biasa dan kategori premium. Kalau yang premium itu tergantung komposisi tenun stagen dan bahan kombinasinya kalau yang bahannya lebih banyak tenun maka harganya akan lebih mahal. Jadi yang premium kami tawarkan mulai dari Rp 300 ribu per item. Kalau yang biasa mulai dari Rp. 30 ribu, bahan kombinasinya itu adalah kain katun, parasut, dan sebagainya yang lebih murah.

Bagaimana cara pemasarannya ?

Kami pasarkan lewat online, yaitu sosial medai dan official website kami. Selain kami juga ikut pameran-pameran.

Bagaimana respon pasar? Berapa banyak permintaan sampai saat ini?

Pasar merespon sangat positif, umumnya mereka tertarik karena stagen lurik, warna-warni dan berubah menjadi produk-produk yang fungsional. Jadi ibaratnya sekarang stagen bisa dipakai semua orang.

Tujuan awal dari Dreamdelion ini kan untuk meningkatkan pendapatan warga penenun kan? Saat ini pendapatan mereka sudah naik berapa besar setelah produknya berinovasi ?

Jadi tadinya mereka, itu hanya mengantongi rata-rata Rp 10 ribu/10 meter, sekarang naik menjadi Rp 70 ribu/10 meter, kalau dilihat per bulan pendapatannya dari Rp 500 ribu per bulan sekarang menjadi RP 2 juta per bulan.

Sekarang sudah ada berepa orang penenun yang menjadi binaannya Dreamdelion?

Kami sudah ada 7 orang penenun dan 2 orang pembuat warna

Kalau produk jadinya seperti tas, sepatu, dll itu tadi siapa yang mengerjakan ?

Kami masih pakai vendor, tetapi sekarang beberapa orang ibu-ibu di desa Sumberarum itu juga sedang kami latih untuk membuat produk, mulai dari sederhana dulu seperti dompet atau pouch itu.

Apakah ada tantangan selama menjalankan bisnis sosial ini? Bagaimana menghadapinya ?

pada awal masuk sebenarnya kami memang mendapat penolakan dari sebagian warga di sana. Karena ternyata mereka punya trauma dengan program pembinaan usaha seperti ini, katanya sebelum kami mereka juga pernah didatangi dan dibina, kemudian dijanjikan akan dibantu memasarkan produk usaha mereka, tetapi kenyataannya mereka diitnggalkan. Makanya ketika kami masuk, kami ditolak karena disangka akan melakukan hal yang sama. Tetapi kami terus berusaha meyakinkan, walnya hanya ada 2 penenun yang mau bergabung, kami terus berusaha, kami buktikan dengan harga jula dan benefit yang mereka dapatkan. Akhirnya sekerang sudah ada 7 penenun.

Apa rencana ke depan untuk Dreamdelion?

Jadi kedepan akan mengeksplor warna yang lebih banyak lagi sehingga motif lurik semakin beragam, tentunya dengan pewarna alami, jadi nanti para suami dari penenun akan kami latih untuk budidaya tanaman pewarna alami itu. Selain itu di sana akan kami kembangkan menjadi desa wisata. Jadi kegiatan menenun akan menjadi atraksi wisatanya, pengunjung bisa melihat dan ikut belajar menenun. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)